Selasa, 07 APRIL 2026 • 12:58 WIB

Pengakuan Trump Soal Senjata ke Iran Picu Kontroversi

Author

Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Elizabeth Frantz)

INDOZONE.ID - Presiden Donald Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat berupaya mengirim senjata secara rahasia kepada pengunjuk rasa di Iran melalui perantara Kurdi, beberapa minggu sebelum konflik saat ini meletus. Klaim tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News yang dirilis Minggu (5/4).

"Kami mengirim senjata kepada para pengunjuk rasa, dalam jumlah besar," ujar Trump. Ia juga menyebut pihak Kurdi kemungkinan menyimpan senjata tersebut untuk kepentingan mereka sendiri.

Pernyataan Trump ini dinilai memperkuat klaim Iran bahwa gelombang protes pada Januari lalu didukung oleh aktor asing untuk memicu kekacauan. Aksi demonstrasi yang dipicu memburuknya kondisi ekonomi akibat puluhan tahun sanksi AS itu menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Baca juga: Pemimpin tertinggi Iran Beri Dukungan untuk Pasukan Keamanan Unjuk Rasa Mahsa Amini

Klaim Jumlah Korban Jadi Sorotan

Trump turut mengklaim bahwa Iran telah “membantai” sekitar 45.000 warga sipil selama aksi protes berlangsung. Namun, angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Otoritas Iran menyebut sebanyak 3.117 orang tewas selama berminggu-minggu aksi unjuk rasa. Mereka juga menolak klaim Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kelompok hak asasi manusia yang menuding aparat negara bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa.

Pejabat Iran menyatakan ratusan petugas kepolisian turut tewas, sementara sejumlah fasilitas pemerintah mengalami kerusakan akibat aksi massa. Para pengunjuk rasa pun disebut sebagai “perusuh” dan “teroris”.

Kelompok Oposisi Kurdi Bantah Keras

Ilustrasi pejuang Kurdi dari Iran (aljazeera/AFP)

Sejumlah kelompok oposisi Kurdi di Iran membantah klaim yang disampaikan Trump. Mohammed Nazif Qaderi, pejabat senior Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI), menegaskan pernyataan tersebut tidak berdasar.

“Kami tidak pernah menerima senjata apa pun. Senjata yang kami miliki berasal dari 47 tahun lalu, didapatkan di medan perang melawan Republik Islam, dan sebagian dibeli dari pasar,” ujarnya.

Kelompok lain, termasuk Partai Komala Kurdistan Iran serta Tentara Nasional Kurdistan (afiliasi Partai Kebebasan Kurdistan/PAK), juga menyampaikan bantahan serupa.

“Pernyataan Donald Trump tidak jelas bagi kami. Yang pasti, sebagai tentara, kami sama sekali tidak menerima senjata dari AS atau negara lain bahkan tidak sebutir peluru pun,” kata Hamno Naqshbandi, anggota komando umum Tentara Nasional Kurdistan.

Baca juga: Menteri Pertahanan Suriah Tolak Usulan Kurdi Bentuk Blok Militer Sendiri

Latar Belakang Hubungan AS dan Kurdi

Kelompok pemberontak Kurdi selama bertahun-tahun menentang Teheran dan kerap melancarkan serangan di wilayah Kurdistan Iran serta provinsi barat lainnya.

Central Intelligence Agency (CIA) juga memiliki rekam jejak bekerja sama dengan kelompok Kurdi di Irak, yang sempat diinvasi AS pada 2003.

Kurdi sendiri merupakan kelompok etnis asli yang mendiami wilayah dataran Mesopotamia dan sekitarnya. Kawasan ini kini mencakup tenggara Turki, timur laut Suriah, Irak bagian utara, barat laut Iran, hingga sebagian wilayah Armenia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Aljazeera.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU