Selasa, 07 APRIL 2026 • 08:40 WIB

Kepala Intelijen IRGC Tewas, Ketegangan AS-Iran-Israel Kian Meningkat

Author

Kepala Intelijen IRGC, Majid Khademi tewas dalam serangan Israel. (dok. Khamei.Ir)

INDOZONE.ID - Kepala organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Majid Khademi, dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel, di tengah eskalasi konflik yang terus memanas.

"Kepala organisasi intelijen IRGC, Majid Khademi, meninggal pagi ini akibat serangan Amerika-Zionis selama perang ketiga yang dipaksakan," kata IRGC dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars, Selasa (7/4/2026).

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menilai kematian Khademi sebagai bagian dari kegagalan AS dan Israel di medan perang. Ia menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan melemahkan kekuatan militer Iran.

"Pembunuhan dan kejahatan tidak dapat menggoyahkan cita-cita tanpa pamrih," ujar Khamenei.

Ia juga menyebut bahwa AS dan Israel telah mengalami berbagai kekalahan dalam konflik yang disebutnya sebagai perang yang dipaksakan terhadap Iran.

Baca juga: Pede Banget, Donald Trump Klaim Bisa Hancurkan Iran dalam Semalam

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan tekanan dengan menyatakan bahwa Iran dapat dihancurkan sepenuhnya dalam waktu singkat.

"Seluruh negara (Iran) dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Sebelumnya, Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, serta fasilitas desalinasi, jika tidak tercapai kesepakatan dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali.

Ancaman tersebut kembali ditegaskan dengan rencana operasi yang disebut dapat dilakukan pada 7 April apabila jalur strategis itu tetap ditutup.

Baca juga: Korea Utara Jaga Jarak dengan Iran Demi Buka Peluang Dialog ke AS

Di tengah meningkatnya tensi, Iran menyatakan telah menyiapkan respons terhadap usulan gencatan senjata yang disampaikan melalui mediator. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyebut komunikasi dengan AS tidak berlangsung secara langsung.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa pembicaraan antara kedua pihak berjalan produktif. Namun, pihak Iran membantah adanya dialog langsung dan menyebut hanya menerima pesan melalui perantara terkait keinginan Washington mengakhiri konflik.

Ketegangan ini bermula sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menimbulkan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin kompleks setelah Iran menguasai Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia, sehingga memperbesar dampak konflik terhadap stabilitas global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU