Jumat, 27 MARET 2026 • 20:01 WIB

Yaman Khawatir Terseret Konflik AS-Iran, Beban Ekonomi Bisa Jadi Krisis Kemanusiaan

Author

Kepula asap di Teheran, Iran, karena serangan Israel dan Amerika Serikat (AS). (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS)

INDOZONE.ID - Yaman kini berada dalam posisi yang sulit. Kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran saat ini belum terlibat dalam konflik terbuka dengan AS dan Israel. 

Namun, kekhawatiran warga Yaman mulai memuncak. Mereka takut jika kelompok Houthi akhirnya ikut ambil bagian. 

Dampak ekonomi dan kemanusiaan yang akan ditanggung rakyat Yaman bisa jauh lebih berat daripada serangan militer itu sendiri.

Baca juga: Filipina Dilanda Krisis BBM, Wacana Penundaan KTT ASEAN Menguat

"Tangan di Pelatuk", Tapi Belum Bergerak

Pemimpin Houthi, Abdel-Malik al-Houthi, sebelumnya mengatakan bahwa kelompoknya "tangan di pelatuk" dan siap bertindak pada waktu yang tepat. 

Hingga saat ini, mereka belum terlibat dalam konflik yang dimulai hampir sebulan lalu antara AS-Israel melawan Iran.

Seorang pejabat militer Iran menyatakan bahwa setiap agresi AS terhadap fasilitas minyak Iran akan membuka jalan bagi Teheran untuk mengganggu stabilitas di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. 

Selat ini berada di sebelah barat Yaman dan merupakan jalur vital bagi perdagangan global.

Baca juga: Kapal Malaysia Dapat Izin Lewati Selat Hormuz, Anwar Ibrahim Ucapkan Terima Kasih ke Iran

Jika Bab al-Mandeb Terseret Konflik

Analis memprediksi jika Houthi ikut terlibat, mereka akan fokus menyerang fasilitas energi dan pelabuhan di negara-negara Teluk serta mencegah kapal melewati Bab al-Mandeb.

Abdulsalam Mohammed, kepala Pusat Studi dan Riset Abaad Yaman, mengatakan bahwa langkah seperti itu akan memicu konflik internal Yaman kembali pecah. 

Perang saudara yang sempat mereda sejak gencatan senjata 2022 bisa meletus lagi.

"Kesiapan militer pasukan pemerintah Yaman saat ini tampak lebih baik, terutama setelah mereka menstabilkan situasi di Yaman Selatan. Selain itu, mereka akan mendapat dukungan asing, terutama dari AS dan Arab Saudi," ujarnya.

Baca juga: Panic Buying Melanda Australia, PM Albanese Pastikan Pasokan BBM Aman

Ancaman Ekonomi Lebih Mematikan daripada Bom

Yang paling dikhawatirkan warga Yaman bukanlah ledakan atau serangan udara, melainkan krisis ekonomi. 

Yaman mengimpor hampir semua kebutuhannya, termasuk 85 persen pasokan makanan, serta bahan bakar dan barang-barang pokok lainnya.

Jika Bab al-Mandeb menjadi zona konflik, biaya pengiriman akan meroket. 

Perusahaan pelayaran internasional disebut telah memberlakukan biaya tambahan "risiko perang" sebesar 3.000 dolar AS per kontainer untuk pengiriman ke Yaman—meski saat ini jalur masih aman.

Baca juga: Australia Larang Warga Iran Berkunjung, Ini Alasannya

Mustafa Nasr, kepala Pusat Studi dan Media Ekonomi, mengatakan kekacauan di perairan akan langsung memicu lonjakan harga. 

"Yaman bergantung pada impor untuk bensin, diesel, dan komoditas pangan. Tidak ada substitusi. Warga sipil Yaman yang akan menanggung beban," katanya.

"Yang Lapar Akan Lebih Lapar"

Laila, seorang relawan kemanusiaan di Sanaa, menggambarkan kekhawatiran warga biasa. Baginya, keterlibatan Houthi dalam perang akan memperparah penderitaan yang sudah ada.

"Ambil contoh, keluarga empat orang bisa hidup dengan tiga dolar sehari. Tapi jika biaya transportasi naik dan harga barang melonjak karena risiko pengiriman, tiga dolar tak bisa melindungi keluarga ini dari kelaparan," ujarnya.

Baca juga: Trump Jadwalkan Kunjungan ke China pada Mei, Bertemu Xi Jinping Usai Penundaan akibat Perang Iran

Ia menyebut sikap Houthi yang belum terlibat selama empat pekan terakhir sebagai langkah bijak. 

"Mengganggu jalur pelayaran dan memblokade pelabuhan adalah resep untuk kelaparan lebih parah di sini," tegasnya.

Dampak Berantai yang Menghancurkan

Saleh Ahmed, sopir bus berusia 50 tahun di Sanaa, mengikuti perkembangan konflik Iran dengan cemas. 

Ia khawatir penutupan Selat Hormuz bisa menjadi awal dari penutupan Bab al-Mandeb.

"Begitu Bab al-Mandeb tersulut api perang, bahan bakar akan hilang dari stasiun-stasiun di Sanaa. Pasar gelap akan mulai beroperasi. Itu artinya saya tak bisa mengoperasikan bus kapan pun saya butuh," jelasnya.

Baca juga: Thailand Siap Pangkas Pajak Minyak di Tengah Lonjakan Harga Energi

"Bagi saya, ini masalah ganda: kelangkaan bahan bakar menghalangi pekerjaan saya, dan harga barang pokok yang tinggi akan menjadi beban finansial yang tak tertahankan."

Peringatan PBB

Pada Senin (23/3), Jorge Moreira da Silva, Wakil Sekretaris Jenderal PBB, memperingatkan bahwa blokade Selat Hormuz akan memperburuk situasi di negara-negara yang menderita kelaparan, termasuk Sudan, Sudan Selatan, Afghanistan, Yaman, dan Somalia.

Ia menyebut gangguan di Selat Hormuz mengganggu pasokan energi dan berdampak pada pasar pupuk, yang mengancam ketahanan pangan di negara-negara dengan tingkat kerawanan pangan tertinggi.

Krisis yang Hampir Terlupakan

Samiha Awad Bataher, koordinator kesehatan dari International Rescue Committee, menulis bahwa saat perhatian global terfokus pada konflik di Iran, krisis dahsyat di Yaman nyaris tak mendapat perhatian.

Baca juga: Iran Waspada Invasi Pulau, Ancam Hantam Infrastruktur Musuh

"Bagi banyak keluarga di Yaman, makanan telah menjadi jatah harian roti dan air. Bagi yang lain, orang dewasa tak makan agar anak-anak mereka bisa makan," tulisnya.

Kini, dengan ancaman Yaman terseret ke dalam konflik regional, warga hanya bisa berharap kartu "Houthi" ini tak benar-benar dimainkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera, Al Jazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU