Minggu, 22 MARET 2026 • 11:05 WIB

Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup

Author

Kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz pada 21 Desember 2018. (Reuters/Hamad I Mohammed)

INDOZONE.ID - Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ultimatum keras kepada Iran.

Ia memberi tenggat waktu 48 jam agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal internasional.

Ancaman tersebut bukan sekadar retorika. Trump menegaskan bahwa jika Iran tidak mematuhi tuntutan itu, Amerika Serikat siap mengambil langkah militer dengan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik utama milik Iran.

Situasi ini memperlihatkan betapa krusialnya Selat Hormuz dalam peta energi dunia.

Jalur sempit ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada stabilitas ekonomi internasional.

Baca juga: Donald Trump Pertimbangkan Akhiri Operasi Militer Iran, AS Longgarkan Sanksi Minyak

Ultimatum 48 Jam dari Amerika Serikat

Dalam pernyataannya di platform media sosial Truth Social, Trump menyampaikan pesan yang sangat tegas.

Ia menuntut agar Iran membuka Selat Hormuz tanpa syarat dan tanpa ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas.

Jika tidak, Amerika Serikat akan menyerang infrastruktur energi Iran, dimulai dari fasilitas terbesar.

Ancaman ini menjadi salah satu pernyataan paling keras sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas sejak akhir Februari.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa Washington tidak ingin jalur distribusi energi global terganggu lebih lama, mengingat dampaknya sudah mulai dirasakan di berbagai negara.

Baca juga: Sempat Lontarkan Kritik karena Enggan Bantu AS, Donald Trump Sebut NATO Kini Lebih Baik

Respons Iran: Ancaman Balasan ke Infrastruktur AS

Iran tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Melalui komando militer Khatam Al-Anbiya, Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi mereka akan dibalas dengan tindakan serupa.

Target balasan Iran tidak main-main. Mereka mengancam akan menyerang infrastruktur energi, teknologi informasi, hingga fasilitas desalinasi milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa konflik berpotensi meluas, tidak hanya terbatas pada wilayah Iran, tetapi juga bisa menyeret negara-negara lain di Timur Tengah.

Selat Hormuz Ditutup, Dunia Ikut Terdampak

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Iran diketahui telah menutup akses Selat Hormuz sebagai bentuk balasan terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.

Selat ini memiliki peran sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut dalam kondisi normal.

Penutupan ini langsung memicu kepanikan di pasar energi global.

Negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut mulai mencari alternatif distribusi dan membuka cadangan energi mereka untuk menjaga stabilitas pasokan.

Akibatnya, harga bahan bakar melonjak di berbagai belahan dunia, memicu kekhawatiran akan inflasi yang semakin meluas jika konflik tidak segera mereda.

Serangan Militer dan Upaya Menenangkan Pasar

Militer Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan telah menyerang sebuah bunker milik Iran yang diduga menyimpan senjata yang mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Langkah ini tampaknya tidak hanya bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran, tetapi juga untuk menenangkan pasar energi global serta meyakinkan sekutu internasional.

Lebih dari 20 negara bahkan telah menyatakan dukungan terhadap upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, menandakan betapa pentingnya jalur ini bagi ekonomi dunia.

Iran Luncurkan Rudal Jarak Jauh

Di sisi lain, konflik semakin memanas setelah Iran meluncurkan dua rudal balistik jarak jauh dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer.

Menurut pernyataan militer Israel, rudal tersebut diarahkan ke pangkalan militer Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, sebuah pulau strategis di Samudra Hindia.

Ini menjadi pertama kalinya Iran menggunakan rudal jarak jauh sejak perang dimulai. Langkah tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik.

Militer Israel juga memperingatkan bahwa jangkauan rudal tersebut tidak hanya mengancam Timur Tengah, tetapi juga bisa menjangkau kota-kota besar di Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.

Serangan ke Israel Picu Korban Sipil

Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan rudal ke wilayah selatan Israel, termasuk kota Dimona dan Arad.

Serangan ini menyebabkan puluhan orang terluka, termasuk anak-anak. Garda Revolusi Iran mengklaim bahwa target serangan adalah fasilitas militer dan pusat keamanan Israel.

Namun, dampaknya tetap dirasakan oleh warga sipil, memperlihatkan betapa kompleks dan berbahayanya konflik ini.

Sistem Pertahanan Israel Diuji

Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, mengakui bahwa sistem pertahanan udara negaranya berfungsi, tetapi tidak berhasil mencegat seluruh serangan yang masuk.

Pihak militer menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk meningkatkan efektivitas pertahanan di masa mendatang.

Sementara itu, lokasi yang diserang berada tidak jauh dari berbagai fasilitas militer penting, termasuk pangkalan udara besar dan reaktor nuklir yang sangat sensitif.

Pernyataan Netanyahu: Perang Akan Terus Berlanjut

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut malam serangan tersebut sebagai salah satu momen paling sulit bagi negaranya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Israel tidak akan mundur dan akan terus melancarkan serangan terhadap musuh di berbagai фрон (front) pertempuran.

Pernyataan ini menegaskan bahwa konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan cenderung semakin meluas.

Dampak Global: Ancaman Krisis Energi dan Ekonomi

Konflik yang melibatkan negara-negara besar ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga seluruh dunia.

Gangguan di Selat Hormuz membuat rantai pasokan energi global terguncang. Negara-negara yang bergantung pada impor minyak menghadapi tekanan besar, sementara harga energi yang melonjak berpotensi memicu inflasi global.

Jika konflik terus berlanjut, bukan tidak mungkin dunia akan menghadapi krisis energi yang lebih serius, disertai dampak ekonomi yang luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU