Dua Juru Runding Amerika yang Memicu Perang: Di Balik Kegagalan Negosiasi Nuklir AS-Iran
INDOZONE.ID - Sebuah kabar mengejutkan muncul dari cerita di balik meja perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Jenewa, Swiss, akhir Februari lalu.
The Guardian melaporkan bahwa Penasihat keamanan nasional Inggris, Jonathan Powell, menilai tawaran yang diajukan Teheran sebenarnya cukup signifikan untuk mencegah perang.
Bahkan, menurut sejumlah sumber, Powell beranggapan kesepakatan perundingan yang ditawarkan Iran di Jenewa pada akhir Februari lalu itu "mengejutkan".
Dengan modal itu, seharusnya pembicaraan berlanjut ke arah yang positif. Pertemuan putaran selanjutnya juga telah diagendakan pada 2 Maret 2026.
Baca juga: Daftar Lengkap Hari Libur dan Cuti Bersama 2026 Berdasarkan SKB 3 Menteri
Namun, hanya berselang dua hari setelah pertemuan di Jenewa, tepatnya pada 28 Februari 2026, AS dan Israel malah melancarkan serangan udara terhadap Iran.
Kehadiran Powell dalam pembicaraan tersebut, serta pengetahuannya yang mendalam tentang perkembangan negosiasi, dikonfirmasi oleh tiga sumber The Guardian.
Sejumlah diplomat Teluk, yang menjadi mediator perundingan AS-Iran, tidak merinci alasan Powell diberikan akses ke negosiasi tersebut.
Salah satu sumber mengatakan bahwa Powell berada di kediaman duta besar Oman di Cologny, Jenewa, bertindak sebagai penasihat.
Selama perundingan, justru muncul kekhawatiran terkait kompetensi negosiator AS dalam isu nuklir.
Baca juga: Pejabat Kontraterorisme AS Joe Kent Mengundurkan Diri, Tolak Kebijakan Perang Iran
Presiden Amerika Donald Trump, mengirim menantunya Jared Kushner, dan utusan khususnya, Steve Witkoff.
Kushner dan Witkoff mengajak Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ikut serta dalam pembicaraan.
Grossi diharapkan bisa memberikan pandangan dari sisi teknis.
Seorang mantan pejabat yang menerima pengarahan mengenai pembicaraan Jenewa dari beberapa peserta mengatakan: "Witkoff dan Kushner tidak membawa tim teknis AS. Mereka menggunakan Grossi sebagai ahli teknis mereka, padahal itu bukan tugasnya."
Meskipun Kushner kemudian mengklaim bahwa ia dan Witkoff memiliki "pemahaman yang cukup mendalam tentang isu-isu penting dalam hal ini".
Baca juga: Iran Konfirmasi Ali Larijani Tewas dalam Serangan Israel di Teheran, Konflik Makin Memanas!
Para ahli nuklir belakangan menyebut sejumlah pernyataan Witkoff mengenai program nuklir Iran penuh dengan kesalahan-kesalahan mendasar.
Sebaliknya, Powell memiliki pengalaman panjang sebagai mediator.
Seorang sumber bahkan menyebut bahwa dia membawa seorang ahli dari Kantor Kabinet Inggris bersamanya.
Powell beranggapan tawaran Iran merupakan kemajuan besar yang bisa mencegah konflik.
Menurut The Guardian, kehadiran Powell dalam perundingan menjadi dasar keengganan Inggris untuk mendukung serangan AS terhadap Iran.
Baca juga: Israel Klaim Berhasil Membunuh Kepala Keamanan Iran Ali Larijani
Inggris, berdasarkan informasi yang mereka miliki seputar perundingan, tidak melihat bukti kuat adanya ancaman serangan rudal Iran.
Inggris justru menganggap serangan AS-Iran ke Israel melanggar hukum dan prematur.
Kantor Perdana Menteri Inggris menolak berkomentar seputar kehadiran Powell di pembicaraan Jenewa.
Yang jelas, pejabat Inggris dikabarkan terkesan dengan tawaran yang diajukan Iran selama perundingan.
Iran siap meyepakati dengan klausul yang bersifat permanen tanpa batas waktu.
Baca juga: Donald Trump Bete Sekutu AS Enggan Kirim Kapal ke Selat Hormuz
Iran juga setuju untuk men-down-blend stok 440kg uranium di bawah pengawasan IAEA.
Down-blend merupakan proses mencampur uranium berkadar tinggi dengan berkadar rendah untuk mengurangi konsentrasi isotop fissil (U-235).
Iran pun sudah setuju menyetop penimbunan uranium yang diperkaya tinggi di masa depan.
Dalam sesi terakhir pembicaraan, Iran menyetujui jeda pengayaan domestik selama tiga hingga lima tahun.
Teheran menegaskan tidak lagi memiliki sarana untuk pengayaan nuklir di dalam negeri. Pasalnya, fasilitas tersebut hancur dibom pada 2025.
Baca juga: AS-Israel vs Iran Memanas: Serangan Meluas hingga Ancaman Krisis Energi Global
Lantas dengan tawaran semacam itu kenapa AS malah menyerang Iran?
Seorang diplomat Teluk yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan: "Kami menganggap Witkoff dan Kushner sebagai aset Israel yang menyeret seorang presiden ke dalam perang yang sebenarnya ingin ia hindari."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian