INDOZONE.ID - Dunia kembali dihadapkan pada ancaman krisis besar. Konflik Amerika-Israel melawan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 kini memasuki fase paling berbahaya dengan peningkatan serangan yang semakin meluas.
Rentetan rudal, drone, hingga gangguan terhadap jalur distribusi energi global membuat situasi tidak terkendali.
Di tengah ketegangan militer yang meningkat, dampaknya mulai terasa secara global dengan harga minyak yang melonjak, distribusi energi terganggu, dan ancaman krisis energi dunia pun semakin nyata.
Ketegangan ini tidak hanya menjadi isu regional, tetapi telah berkembang menjadi perhatian internasional.
Sejumlah negara besar mulai mengambil langkah antisipatif, baik melalui jalur diplomasi maupun kebijakan darurat energi.
Baca juga: Rudal-Rudal Amerika dan Israel Rusak Situs Warisan Budaya Abad ke-14 di Iran
Pasar global pun bereaksi cepat terhadap situasi ini, mencerminkan kekhawatiran bahwa konflik dapat memicu krisis yang lebih luas jika tidak segera mereda.
Konflik bermula dari serangan udara yang melibatkan Israel dan sekutunya terhadap target strategis di Iran. Namun, respons cepat dari Teheran mengubah dinamika menjadi jauh lebih besar.
Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal ke wilayah Israel serta pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.
Tidak hanya itu, serangan juga mulai menyasar infrastruktur vital dan jalur perdagangan internasional di kawasan Teluk.
Baca juga: 5 Sekutu Amerika yang Menolak Ajakan Trump untuk Terlibat Operasi "Membuka" Selat Hormuz
Peningkatan penyerangan ini menandai perubahan konflik dari sekadar konfrontasi bilateral menjadi konflik regional yang berpotensi melibatkan lebih banyak negara.
Situasi ini juga meningkatkan risiko perang terbuka di kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat energi dunia.
Salah satu dampak paling krusial dari konflik ini adalah terganggunya Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters, The Guardian