5 Sekutu Amerika yang Menolak Ajakan Trump untuk Terlibat Operasi "Membuka" Selat Hormuz
INDOZONE.ID - Rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyeret negara sekutunya terlibat dalam perang melawan Iran gagal total.
Ajakan Trump untuk mengirim pasukan dalam rangka "membuka" Selat Hormuz bertepuk sebelah tangan.
Selat Hormuz merupakan salah satu lokasi paling strategis dalam rute perdagangan internasional.
Sekitar 20 persen distribusi untuk produk energi turunan minyak bumi melintasi kawasan itu.
Selat tersebut sempat ditutup Iran setelah serangan terkoordinasi Amerika dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Baca juga: Ledek Trump, Militer Iran Sebut Operasi Amerika Bukan "Epic Fury" tapi "Epic Fear"
Meski belakangan Iran menegaskan Selat Hormuz terbuka, kecuali untuk musuh mereka. Hal ini merujuk ke Amerika dan sekutunya yang terlibat serangan ke Iran.
Nah, berikut ini daftar negara yang telah menolak berpartisipasi dalam operasi "membuka" Selat Hormuz.
1. Inggris
Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer telah menegaskan negaranya tidak akan ambil bagian untuk "memperlebar perang".
Keir sebelumnya juga membuat Trump kesal. Pasalnya, ia menolak mengizinkan pangkalan militer Inggris menjadi titik awal serangan ke Iran.
Baca juga: Iran Tantang Donald Trump: Jika Berani Kirim Kapal Perang ke Teluk Persia
Sementara itu, Inggris juga belum memberikan persetujuan untuk mengggunakan kapal penyapu ranjaunya di Selat Hormuz. Keir beralasan perlu membahasnya terlabih dulu dengan timnya.
2. Jepang
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan tidak berencana mengirim angkatan laut ke Selat Hormuz untuk mengawal yang melintas di sana.
Konstitusi Jepang Pasca-perang, menurut dia, membatasi tindakan semacam itu.
"Kami terus mengkaji apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang bisa dilakukan dalam kerangka hukum yang ada," ujar Takaichi di hadapan parlemen.
3. Prancis
Menteri Luar Negeri Prancis menyatakan tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya melalui platform X, ia menyebut angkatan laut Prancis berada di Mediterania Timur, dan dalam status "defensif".
Baca juga: Trump Belum Mau Negosiasi dengan Iran untuk Akhiri Perang, Ini Alasannya
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Keduanya membahas pemulihan akses di Selat Hormuz.
"Saya mengingatkan dia bahwa Prancis bertindak dalam kerangka defensif yang bertujuan untuk melindungi kepentingan Prancis," tulis Macron di X.
4. Australia
Australia juga tidak akan mengirim kapal militer ke Selat Hormuz. Negeri Kangguru kini tengah mengalami krisis kapal perang.
Sejak dua tahun lalu, kapal perang mereka hanya tersisa 9 unit, menyusut dari dua tahun lalu yang masih berjumlah 11 kapal.
Baca juga: Ribuan Warga Turun ke Jalan, Protes Perang Timur Tengah Meluas di 150 Kota Spanyol
"Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat hormuz. Kami tahu seberapa penting lokasi tersebut. Tapi ini bukan sesuatu yang diminta dari kami atau kami bisa kontribusikan," kata Menteri Transportasi Catherine King kepada ABC radio.
5 Uni Eropa
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, semula menyarankan bahwa memperluas misi Aspides untuk meningkatkan keamanan di Selat Hormuz.
Misi ini merupakan operasi defensif angkatan laut Uni Eropa yang berfokus pada perlindungan pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi Yaman.
Namun, usai bertemu menteri luar negeri negara Uni Eropa, ia menyatakan bahwa 'tidak ada keinginan' untuk memperluas misi yang diinisiasi tahun 2024.
"Tidak ada yang ingin terlibat secara aktif dalam perang ini," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber