INDOZONE.ID - Iran menolak gencatan senjata hingga pihak yang bertindak sebagai agresor, dapat pelajaran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan itu di media sosial X, Selasa 10 Maret 2026, waktu setempat.
Ia meyakini Iran harus memberi pelajaran pada agresor agar tidak mengulang kesalahan yang sama di masa depan.
"Kami secara tegas tidak menginginkan gencatan senjata. Kami yakin bahwa agresor harus 'ditampar' agar ia belajar dari kesalahannya dan tidak pernah lagi memikirkan menyerang Iran kami tercinta," tulis Ghalibaf, dikutip dari ANTARA, Rabu (11/3/2026).
Tak lupa, ia menyatakan Iran ingin memutus siklus negosiasi perang yang kerap terjadi di dunia belakangan ini.
“Perang-negosiasi-gencatan senjata dan kemudian berperang lagi,” sambungnya.
Baca juga: Iran Tangkap 30 Warga Negara Asing yang Diduga Mata-mata Amerika dan Israel
Agresi AS-Israel Tidak Ciutkan Nyali Iran
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS)-Israel melancarkan serangan ke beberapa wilayah Iran, terutama Teheran.
Iran pun membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Dalam konflik ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia karena serangan agresor. Iran pun menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Namun, pengganti Ali Khamenei telah dipilih pada Minggu 8 Maret 2026, yaitu Ayatollah Seyyed Hosseini Khamenei. Ia merupakan putra kedua dari Ali Khamenei.
Hingga kini, AS-Israel dan Iran saling berbalas serangan yang menimbulkan korban jiwa hingga kerusakan sejumlah fasilitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara