Jumat, 06 MARET 2026 • 10:10 WIB

Trump Ingin Terlibat Saat Penentuan Pemimpin Baru Iran Saat Perang Memanas

Author

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dalam upacara Medal of Honour di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat, pada 2 Maret 2026. (Reuters/Ken Cedeno)

INDOZONE.ID - Konflik di Timur Tengah semakin memanas, setelah serangkaian serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. 

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan, keinginannya untuk ikut menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin Iran berikutnya.

Pernyataan itu muncul setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara pada awal operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Trump juga menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Baca juga: Video Detik-detik Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Dekat Sri Lanka, 87 Tewas

Trump Tolak Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran

Dalam wawancara dengan Axios, Trump secara tegas mengatakan, Mojtaba Khamenei tidak layak menjadi pemimpin Iran berikutnya.

Ia bahkan menyebutkan, putra pemimpin Iran tersebut sebagai sosok yang tidak cukup kuat.

Trump menyatakan, Amerika Serikat harus memiliki peran dalam menentukan siapa yang akan memimpin Iran setelah konflik berakhir.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan kasus di Venezuela, ketika Washington terlibat dalam perubahan kepemimpinan setelah operasi militer, yang menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

Menurut Trump, Iran membutuhkan pemimpin baru yang mampu membawa stabilitas dan perdamaian.

Ia juga memperingatkan, konflik dapat terus berlanjut jika Iran tidak dipimpin oleh sosok yang dianggap lebih moderat.

Baca juga: Ini Wajah dan Profil Empat Tentara Pertama AS yang Tewas dalam Perang Melawan Iran

Sinyal AS Tidak Ingin Menjatuhkan Sistem Iran Sepenuhnya

Pernyataan Trump dinilai menunjukkan, Amerika Serikat mungkin tidak berniat menggulingkan sistem pemerintahan Republik Islam Iran secara total.

Sebaliknya, Washington tampaknya membuka peluang bekerja sama dengan tokoh dari dalam sistem Iran selama dianggap dapat membawa stabilitas.

Namun di sisi lain, Trump juga terus menyerukan agar rakyat Iran bangkit melawan pemerintah mereka. Ia bahkan mendorong kelompok Kurdi Iran, untuk melakukan serangan terhadap pemerintah Teheran.

Pemerintah AS diketahui telah menjalin komunikasi dengan kelompok Kurdi sejak serangan udara Amerika Serikat dan Israel dimulai.

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan memberikan dukungan udara bagi serangan Kurdi, Trump tidak memberikan jawaban pasti.

Perang Memasuki Hari Keenam

Memasuki hari keenam konflik, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara di kawasan.

Serangan tersebut menargetkan Israel, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Sementara itu di Bahrain, petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api di sebuah kilang minyak yang terkena serangan rudal.

Selain itu, dua serangan drone juga dilaporkan menargetkan kamp oposisi Iran di wilayah Kurdistan Irak, serta ladang minyak yang dikelola perusahaan Amerika Serikat.

Militer Israel bahkan mengeluarkan peringatan kepada warga untuk meninggalkan beberapa wilayah, termasuk kawasan timur Teheran.

Media Iran melaporkan, sejumlah ledakan terdengar di berbagai bagian ibu kota. Sebuah serangan udara juga dilaporkan menghantam rumah tamu di jalan barat laut Teheran, dan menewaskan sedikitnya 17 orang.

Seorang warga Teheran bernama Mohammadreza menggambarkan situasi kota tersebut seperti zona perang.

Ia mengatakan, serangan udara kini bahkan menyasar wilayah utara Teheran. Hal itu membuat warga tidak tahu harus mengungsi ke mana.

Amerika Serikat Klaim Punya Persenjataan Cukup

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, Amerika Serikat memiliki persediaan senjata yang cukup untuk melanjutkan operasi militer tanpa batas waktu.

Menurutnya, Iran keliru jika berpikir bahwa Amerika Serikat tidak mampu mempertahankan serangan dalam jangka panjang.

Komandan pasukan AS di Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, mengatakan, pasukan Amerika telah menghancurkan sedikitnya 30 kapal Iran.

Salah satu target yang dihancurkan adalah, kapal induk drone besar yang disebut memiliki ukuran hampir setara kapal induk pada masa Perang Dunia II.

Pesawat pembom B-2 juga dilaporkan menjatuhkan puluhan bom penembus bunker seberat 2.000 pon untuk menghancurkan peluncur rudal balistik Iran yang berada jauh di bawah tanah.

Selain itu, serangan udara juga menyasar fasilitas produksi rudal milik Iran. Menurut Cooper, kemampuan serangan balasan Iran telah menurun drastis sejak hari pertama perang.

Serangan rudal balistik Iran disebut turun hingga 90 persen. Sementara serangan drone berkurang sekitar 83 persen.

Konflik Meluas ke Negara Lain

Konflik ini juga mulai menyeret negara lain. Azerbaijan menuduh Iran meluncurkan drone ke wilayahnya, dan langsung menutup wilayah udara bagian selatan selama 12 jam.

Namun Iran membantah telah menyerang negara tetangganya tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan betapa cepatnya konflik meluas sejak serangan udara mendadak Amerika Serikat dan Israel, yang menewaskan Khamenei pada Sabtu lalu.

Selain negara-negara Teluk yang berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran, wilayah lain seperti Siprus dan Turki juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Negara-negara Eropa bahkan mulai mengerahkan kapal perang ke kawasan Mediterania timur untuk mengantisipasi eskalasi konflik.

Bentrokan militer juga dilaporkan terjadi jauh dari Timur Tengah, termasuk di perairan dekat Sri Lanka.

Di wilayah tersebut, kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan kapal perang Iran yang menewaskan sekitar 80 awak kapal.

Korban Tewas Terus Bertambah

Jumlah korban akibat konflik ini terus meningkat. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran sejak perang dimulai.

Di antara korban tersebut terdapat 175 siswi dan staf sekolah yang tewas ketika sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan, terkena serangan pada hari pertama perang.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 77 orang tewas akibat konflik yang meluas ke negara tersebut.

Ribuan warga juga dilaporkan meninggalkan wilayah selatan Beirut, setelah Israel memperingatkan warga untuk segera mengungsi.

Ketegangan Global dan Dampak Ekonomi

Dampak perang juga terasa di pasar global. Bursa saham Wall Street mengalami penurunan tajam akibat lonjakan harga minyak.

Gangguan pasokan energi global juga semakin memperburuk situasi ekonomi. Beberapa negara dilaporkan kehilangan akses terhadap sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Transportasi udara internasional juga mengalami kekacauan, sementara jalur logistik global mulai terganggu.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang kapal tanker Amerika Serikat di bagian utara Teluk Persia hingga kapal tersebut terbakar.

Netanyahu: Masih Banyak yang Harus Dilakukan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, operasi militer Israel di Iran sejauh ini telah menghasilkan pencapaian besar.

Namun ia menegaskan, perang masih jauh dari selesai. Menurutnya, masih banyak target yang harus dihancurkan.

Sumber militer Israel menyebutkan, tahap berikutnya dari operasi militer akan difokuskan pada penghancuran bunker bawah tanah tempat Iran menyimpan rudal-rudalnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran memperingatkan, Amerika Serikat akan menyesal atas tindakan menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional tanpa peringatan.

Seorang komandan Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan, pasukannya akan menyerang kepentingan Amerika Serikat di mana pun mereka berada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU