INDOZONE.ID - Israel kembali menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap kecaman internasional dengan melanjutkan kebijakan aneksasi de facto di Tepi Barat awal Februari lalu.
Padahal wilayah yang dihuni lebih dari tiga juta warga Palestina itu sejak 1967 secara hukum dianggap sebagai wilayah pendudukan ilegal.
Kecaman dunia bukan hal baru bagi Israel. Selama lebih dari dua tahun melakukan genosida di Gaza, negara itu disebut oleh sejumlah politisinya sendiri sebagai "negara paria".
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya telah masuk daftar buruan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas kejahatan perang.
Baca juga: Laporan PBB: Israel dan Hamas Sama-Sama Lakukan Kejahatan Kekejaman di Gaza
Boikot produk Israel juga semakin mengemuka di kalangan konsumen global.
Empat negara—Spanyol, Slovenia, Belanda, dan Republik Irlandia—bahkan menolak berpartisipasi dalam kontes lagu Eurovision sebagai protes atas keberadaan Israel.
Kampanye global untuk menangguhkan Israel dari kompetisi sepak bola UEFA dan FIFA juga terus digencarkan.
Afrika Selatan masih melanjutkan gugatan genosida terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ).
Namun tekanan internasional ini tidak banyak mengubah opini publik di Israel tentang bagaimana negara mereka seharusnya berperilaku.
Baca juga: Hadir di Pertemuan Board of Peace, Donald Trump Puji Presiden Prabowo: Dia adalah Pria Tangguh
Netanyahu justru masih berpeluang besar memenangkan pemilu tahun ini. Sebagian besar oposisi terhadapnya datang dari kebijakan domestik, bukan ketidaksetujuan atas perlakuannya terhadap warga Palestina.
Orly Noy, editor situs berita berbahasa Ibrani Local Call, mengungkapkan bahwa kebanyakan warga Israel bahkan tidak tahu bahwa negaranya telah menganeksasi Tepi Barat.
"Mereka mungkin sadar ada perubahan aturan pemerintahan, tapi tidak tahu itu aneksasi de facto sampai ada respons internasional yang memengaruhi mereka, seperti Eurovision," ujarnya.
Baca juga: Toksin Katak Beracun di Balik Upaya Pembunuhan Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny
Ia mencatat bahwa penarikan empat negara dari Eurovision justru dibingkai sebagai tindakan antisemitisme.
Media Israel juga jarang memberitakan kekerasan yang dilakukan pemukim ekstremis terhadap warga Palestina.
Sebaliknya, liputan lebih banyak berfokus pada jumlah "teroris" yang terbunuh atau nasib sekitar 250 sandera yang ditahan Hamas.
Kematian lebih dari 72.000 warga Palestina di Gaza nyaris tidak mendapat tempat di televisi Israel.
Baca juga: 924 Orang Tewas Dibunuh Polisi Punjab Pakistan dalam 8 Bulan, Apa yang Terjadi?
Profesor Neve Gordon dari Queen Mary University London mengatakan bahwa tuduhan antisemitisme sering digunakan sebagai tameng kedua—ia menyebutnya "Iron Dome" kedua—untuk membelokkan kritik terhadap negara.
"Israel selalu harus menjadi korban, dan status korban itu membenarkan kekerasan apa pun dalam pembelaannya," jelasnya.
Daniel Bar-Tal, profesor psikologi sosial-politik di Tel Aviv University, menyebut banyak warga Israel memiliki mentalitas terkepung. Mereka membayangkan seluruh dunia ingin Israel lenyap.
"Mereka pikir, kalian orang Eropa tidak melakukan apa pun saat Holocaust, dan sekarang kalian ingin menyerang satu-satunya tempat di mana Yahudi merasa aman?" katanya menggambarkan pola pikir yang tertanam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com