Minggu, 25 JANUARI 2026 • 19:30 WIB

Trump Ancam Tarif Impor 100 Persen ke Kanada Jika Lanjutkan Kerja Sama Dagang dengan China

Author

Donald Trump ancam tarif 100 persen ke Canada. (REUTERS/Carlos Barria)

INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 100 persen kepada Kanada, jika negara itu melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.

Trump juga memperingatkan Perdana Menteri Kanada Mark Carney bahwa kerja sama dengan China dapat membahayakan masa depan Kanada.

"China akan melahap Kanada hidup-hidup, benar-benar menghancurkannya, termasuk bisnis-bisnis mereka, tatanan sosial, dan cara hidup secara umum," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

Baca juga: Donald Trump Tak akan Pakai Kekuatan Militer untuk Caplok Greenland

Lebih lanjut, Trump menegaskan jika Kanada tetap menjalin kesepakatan dagang dengan China, maka semua produk Kanada yang masuk ke AS akan dikenakan tarif 100 persen.

Merespons ancaman Trump, Mark Carney mengunggah video yang berisi ajakan kepada warganya untuk membeli produk-produk dalam negeri.

"Ketika perekonomian kita mendapat tekanan dari luar, warga Kanada memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan," ujar Carney. 

"Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan negara lain, tapi kita bisa menjadi pelanggan terbaik bagi diri kita sendiri," lanjutnya.

Awal Januari 2026, Carney melakukan kunjungan ke China untuk memperbaiki hubungan kedua negara yang sempat merenggang. Dalam kunjungan tersebut, Kanada mencapai kesepakatan dagang dengan China

Menariknya, sesaat setelah kunjungan itu, Trump sempat memberikan respons positif. Saat itu ia mengatakan bahwa kesepakatan dagang dengan China merupakan hal yang baik.

Baca juga: Disamping Donald Trump, Presiden Prabowo Ikut Tanda Tangani Piagam Dewan Perdamaian

"Kalau Anda bisa mendapatkan kesepakatan dengan China, sebaiknya lakukan," katanya saat itu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU