Kamis, 22 JANUARI 2026 • 09:13 WIB

Gelombang Protes Iran Memanas, Media Pemerintah Klaim Lebih dari 3 Ribu Orang Tewas

Author

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menghadiri sebuah seminar di Beirut, Lebanon, pada Jumat, 9 Januari 2026. (Reuters)

INDOZONE.ID - Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 3.117 korban tewas sejak gelombang unjuk rasa meluas di berbagai wilayah negara tersebut pada akhir Desember lalu. 

Angka tersebut disampaikan oleh Yayasan Veteran dan Martir Iran, lembaga resmi yang menangani korban konflik dan keamanan, sebagaimana dikutip oleh televisi nasional pada Rabu (21/1).

Gelombang aksi protes besar-besaran di Iran ini awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional yang berdampak langsung pada melonjaknya harga kebutuhan pokok. 

Baca juga: Iran Peringatkan Negara Timteng: Pangkalan AS Akan Diserang Jika Washington 'Ganggu' Teheran

Dalam waktu singkat, demonstrasi berkembang menjadi ekspresi kemarahan publik terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang semakin menekan kehidupan masyarakat.

Dalam pernyataannya, Yayasan Veteran dan Martir menyebut 2.427 korban, termasuk anggota pasukan keamanan, dikategorikan sebagai “martir” berdasarkan hukum Islam. 

Pemerintah Iran menggambarkan mereka sebagai warga tidak bersalah yang tewas akibat kerusuhan yang disebut sebagai insiden terorisme.

Pemerintah Iran: Protes Dipicu Campur Tangan Asing

Otoritas Teheran menegaskan bahwa demonstrasi tersebut bukan sekadar protes sipil, melainkan bagian dari upaya destabilisasi yang didorong oleh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat. 

Narasi ini terus dikedepankan seiring meningkatnya tekanan internasional terhadap tindakan keras pemerintah Iran dalam merespons gelombang protes.

Ketegangan kian meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan peringatan keras kepada Washington. 

Baca juga: Khamenei Sebut Donald Trump Dalang di Balik Kerusuhan di Iran

Ia menyatakan Iran akan “membalas dengan seluruh kemampuan yang dimiliki” apabila kembali menjadi sasaran serangan atau tekanan militer.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan luas tentang penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat keamanan. 

Sejumlah kelompok advokasi menyebut demonstran yang menuntut perubahan justru menghadapi respons represif, termasuk penembakan langsung di lokasi unjuk rasa.

Data Korban Versi Pemerintah Dipertanyakan

Jumlah korban yang diumumkan pemerintah Iran berbeda dengan data yang dihimpun organisasi independen. 

Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia menyatakan telah memverifikasi 3.428 kematian demonstran akibat tindakan aparat keamanan.

Namun, IHR memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan belum mencerminkan kondisi sebenarnya. 

Menurut organisasi tersebut, berbagai sumber memperkirakan total korban jiwa bisa mencapai 5.000 hingga 20.000 orang, seiring eskalasi krisis politik dan ekonomi Iran yang memicu ketidakstabilan nasional.

Pemadaman Internet Hambat Verifikasi

Upaya untuk memperoleh angka pasti terus terkendala oleh pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah Iran. 

Lembaga pemantau jaringan global Netblocks mencatat pemutusan akses internet telah berlangsung lebih dari 300 jam, membatasi komunikasi warga dan menghambat pelaporan independen.

Upaya menutup-nutupi fakta akan tetap tercatat. Dunia sedang mengawasi,” tulis Netblocks, seraya menyebut bahwa pembatasan akses digital ini bertujuan membatasi informasi mengenai skala penindakan aparat di lapangan.

Klaim Pemerintah Berbanding Terbalik dengan Temuan HAM

Dalam laporan resminya, Yayasan Veteran dan Martir Iran mengklaim bahwa banyak korban tewas merupakan warga sipil yang kebetulan berada di lokasi protes. 

Lembaga itu juga menyebut sebagian demonstran ditembak oleh “unsur teroris terorganisir” di tengah kerumunan massa, meskipun klaim tersebut tidak disertai bukti konkret.

Di sisi lain, organisasi internasional seperti Amnesty International menyoroti adanya indikasi pelanggaran hak asasi manusia di Iran, termasuk tuduhan bahwa aparat keamanan sengaja menargetkan demonstran dari jarak jauh. 

Beberapa laporan menyebut adanya penembakan dari atap gedung serta tindakan melumpuhkan massa dengan membidik bagian mata.

Pemakaman Aparat dan Krisis Berkepanjangan

Sementara polemik data korban terus bergulir, pemakaman bagi anggota pasukan keamanan yang tewas dalam demonstrasi berlangsung di berbagai kota, termasuk Teheran. 

Peristiwa ini menegaskan betapa dalamnya krisis yang kini dihadapi Iran, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun kepercayaan publik.

Dengan situasi yang masih bergejolak, pengamat menilai bahwa krisis politik dan ekonomi Iran berpotensi terus memicu ketidakpuasan masyarakat. 

Selama akses informasi dibatasi dan tuntutan publik belum direspons secara terbuka, aksi protes besar-besaran di Iran dikhawatirkan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU