INDOZONE.ID - Pesan Natal Raja Charles kembali menyoroti pentingnya persatuan di tengah dunia yang kian berubah.
Dalam pidato tahunannya, Raja Inggris Charles III mengajak masyarakat global untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan, di saat konflik, ketegangan politik, dan tekanan sosial masih terjadi di berbagai belahan dunia.
Dalam siaran Natal keempatnya sejak naik takhta, Raja Charles yang kini berusia 77 tahun menyampaikan kata-kata inspiratifnya tentang persatuan, dengan menegaskan bahwa nilai kemanusiaan dapat menjadi fondasi bersama di tengah perbedaan latar belakang budaya, agama, dan pandangan hidup.
Baca juga: Raja Charles III Berharap Temui Paus Fransiskus di Vatikan dalam Kunjungan Kenegaraan April 2025
“Dengan keberagaman besar dalam komunitas kita, kita dapat menemukan kekuatan untuk memastikan bahwa yang benar dapat mengalahkan yang salah,” ujar Raja Charles.
Pidato tersebut disampaikan dalam suasana khidmat dan sarat makna.
Meski rekaman siaran Natal tahun ini dilakukan di Westminster Abbey, isi pesannya mencerminkan semangat yang selama ini kerap disuarakan dalam berbagai pidato Raja Charles di Istana Buckingham, khususnya terkait toleransi, empati, dan solidaritas global.
Baca juga: Pangeran William akan Ambil Alih Tugas Raja Charles yang Kena Kanker
Raja Charles juga menyinggung pengalamannya berinteraksi dengan pemeluk berbagai agama. Dari pertemuan tersebut, ia melihat adanya kesamaan nilai, termasuk kerinduan akan perdamaian dan penghormatan mendalam terhadap kehidupan.
Ia menekankan bahwa sikap penuh kasih terhadap para migran dan pengungsi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kekhawatiran global soal perpindahan penduduk lintas negara.
Siaran Natal tersebut kemudian diikuti dengan penampilan paduan suara asal Ukraina yang mengenakan busana tradisional, tampil bersama Royal Opera Chorus yang berbasis di London.
Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan berkelanjutan Raja Charles terhadap Ukraina di tengah konflik yang masih berlangsung.
Sepanjang 2025, Raja Charles tercatat telah tiga kali menerima Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Kastel Windsor, dengan pertemuan terakhir berlangsung pada Oktober lalu.
Meski secara konstitusional harus bersikap netral secara politik, Raja Charles beberapa kali menyuarakan keprihatinannya terhadap krisis kemanusiaan global, termasuk konflik Israel-Gaza.
Ia juga menyampaikan duka cita atas serangan terhadap komunitas Yahudi, baik di Inggris maupun di luar negeri, termasuk insiden kekerasan di Inggris utara dan penembakan dalam acara keagamaan di Sydney awal bulan ini.
Dalam pesan Natal yang sarat dengan rujukan kisah kelahiran Yesus, Raja Charles memberikan penghormatan khusus kepada para veteran militer dan pekerja bantuan kemanusiaan.
Menurutnya, keberanian dan dedikasi mereka di tengah situasi sulit menjadi sumber harapan bagi banyak orang.
Ia juga mengenang kunjungan kenegaraannya ke Vatikan pada Oktober lalu, ketika ia dan Paus Leo berdoa bersama.
Baca juga: Polisi Pastikan Rangkaian Ibadah Natal di Jakarta Pusat Berjalan Aman dan Kondusif
Momen tersebut menjadi peristiwa bersejarah karena merupakan ibadah bersama pertama antara raja Inggris dan pemimpin Gereja Katolik sejak Inggris memutus hubungan dengan Roma pada 1534.
Sebagai pemimpin tertinggi Gereja Inggris, peristiwa ini memiliki makna simbolis yang mendalam.
Tradisi siaran Natal kerajaan sendiri telah berlangsung sejak 1932 dan menjadi salah satu momen penting dalam kalender monarki Inggris untuk menyampaikan pesan moral kepada publik.
Hampir dua tahun setelah mengungkapkan diagnosis kanker yang dideritanya, Raja Charles menyampaikan awal bulan ini bahwa intensitas pengobatannya kemungkinan akan dikurangi pada tahun depan.
Isu kesehatan juga menyentuh anggota keluarga kerajaan lainnya, termasuk Catherine, Putri Wales, yang mengumumkan pada Januari lalu bahwa dirinya telah memasuki masa pemulihan setelah menyelesaikan kemoterapi.
Selain itu, monarki Inggris juga menghadapi dinamika keluarga sepanjang 2025. Raja Charles mencabut sisa gelar kerajaan milik adiknya, Pangeran Andrew, di tengah kembali mencuatnya sorotan atas keterkaitannya dengan mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com