Rabu, 12 NOVEMBER 2025 • 08:00 WIB

Kesepakatan Trump dan Korea Selatan Tertunda karena Isu Kapal Selam Nuklir

Author

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima penghargaan dan sebuah replika mahkota emas dalam pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di KTT APEC yang digelar di Gyeongju, Korea Selatan, pada 29 Oktober 2025. (Reuters/Evelyn Hock

INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dua minggu lalu mengumumkan, telah menuntaskan negosiasi panjang mengenai tarif dan keamanan.

Akan tetapi hingga kini, belum ada dokumen resmi yang dirilis.

Menurut pejabat pemerintah Seoul, keterlambatan tersebut disebabkan oleh pembahasan lanjutan seputar izin kapal selam nuklir Korsel dari AS. 

Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Lee ketika bertemu Trump di sela-sela forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Gyeongju, Korea Selatan, bulan lalu.

Baca juga: Wali Kota Muslim Pertama New York Zohran Mamdani Ingin Tepati Janji hingga Kalahkan Donald Trump

Dalam kesempatan itu, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan perdagangan. 

Namun, dokumen final yang seharusnya memuat kesepakatan soal Korea Selatan bangun kapal selam nuklir, masih belum diterbitkan.

Pejabat senior dari kantor kepresidenan Korea Selatan mengungkapkan, Washington telah memberikan lampu hijau terkait penggunaan bahan bakar nuklir untuk kapal selam tersebut. 

Baca juga: AS Pastikan Tak Ada Ledakan dalam Uji Coba Senjata Nuklir yang Diperintahkan Trump

Meski demikian, finalisasi dokumen kesepakatan masih memakan waktu karena beberapa lembaga AS masih memberikan masukan atas redaksi dan isi perjanjian.

Sejak isu pembangunan kapal selam nuklir diangkat, setiap departemen di Amerika tampaknya membutuhkan waktu untuk menyelaraskan pandangan mereka,” ujar Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn dalam wawancara dengan stasiun televisi KBS pada Minggu, (9/11/2025).

Pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait pernyataan tersebut.

Presiden Lee Jae Myung berkeinginan agar proyek kapal selam nuklir dapat dibangun di dalam negeri, sebagai simbol kemandirian pertahanan. 

Namun, hal ini tampaknya bertentangan dengan pernyataan Trump di media sosial yang menyebutkan, proyek tersebut disetujui tetapi akan dikerjakan di galangan kapal milik Amerika Serikat.

Analis menilai, perbedaan ini bisa jadi berkaitan dengan kekhawatiran Washington terhadap potensi penyebaran teknologi sensitif.

Apalagi, muncul pula reaksi Korut atas kapal selam nuklir Korsel yang dinilai dapat meningkatkan ketegangan di kawasan Semenanjung Korea. 

Korea Utara sebelumnya memperingatkan, langkah tersebut bisa memicu perlombaan senjata baru di wilayah itu.

Selain isu kapal selam, kedua negara juga menyebut telah mencapai kesepakatan dalam bidang perdagangan. Namun, perbedaan pandangan mengenai struktur dana investasi membuat belum ada pernyataan resmi yang dirilis bersama.

Pejabat dari Kementerian Perdagangan Korea Selatan menjelaskan, “Untuk bagian tarif, rancangan kesepakatan sebenarnya sudah bisa dianggap final dan akan diumumkan ketika dokumen fakta bersama siap dipublikasikan.

Ia menambahkan, nota kesepahaman (MoU) terkait paket investasi senilai 350 miliar dolar AS juga telah rampung disiapkan, tetapi penandatanganannya masih menunggu waktu yang tepat.

Kami harus menunggu pengumuman resmi agar bisa melanjutkan langkah administratif seperti penyampaian ke parlemen,” jelasnya.

Tertundanya kesepakatan resmi antara Amerika Serikat dan Korea Selatan menunjukkan, isu teknologi militer masih menjadi area sensitif bagi kedua negara. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: N.news.naver.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU