INDOZONE.ID - Banjir terparah di Vietnam Tengah dalam beberapa dekade terakhir menelan sedikitnya 10 korban jiwa dan mengubah jalanan kota wisata Hoi An menjadi seperti kanal, Kamis (30/10/2025).
Menurut laporan otoritas setempat, ketinggian air sungai utama mencapai rekor tertinggi dalam 60 tahun terakhir.
Hujan deras dengan intensitas hingga 1,7 meter dalam waktu 24 jam mengguyur provinsi-provinsi pesisir sejak akhir pekan lalu. Hoi An, yang dikenal sebagai kota tua bersejarah dan situs Warisan Dunia UNESCO, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak.
Baca juga: Vietnam Evakuasi Puluhan Ribu Warga, Bandara Ditutup Akibat Topan Kajiki
Warga terlihat mengarungi air setinggi pinggang, sementara sebagian lainnya menggunakan perahu kayu untuk melewati jalan-jalan yang berubah menjadi sungai kecil.
“Kami sudah mencoba meninggikan perabotan dengan batu bata, tapi akhirnya menyerah,” kata Tran Thi Ky (57), warga Hoi An.
“Kulkas, alat masak, dan furnitur kayu di lantai dasar semuanya terendam. Saya sudah puluhan tahun tinggal di sini, tapi baru kali ini melihat banjir sebesar ini,” ujarnya dari balkon rumah dua lantainya.
Baca juga: Kecelakaan Bus di Vietnam Tewaskan 10 Orang, Termasuk Dua Anak-anak
Kementerian Lingkungan Vietnam mencatat lebih dari 128.000 rumah di lima provinsi bagian tengah terendam air, dengan ketinggian mencapai tiga meter di beberapa lokasi.
Hingga kini, tercatat 10 korban tewas banjir Vietnam, sementara delapan orang lainnya masih hilang dan terus dicari oleh tim penyelamat.
Kerusakan infrastruktur juga cukup parah. Ribuan hektare lahan pertanian rusak, lebih dari 16.000 hewan ternak mati dan beberapa ruas jalan utama terputus akibat longsor.
Meski sebagian jalur transportasi sudah dibuka kembali, sejumlah wilayah masih terisolasi oleh genangan air.
Petugas penyelamat menggunakan drone untuk menyalurkan bantuan darurat berupa air bersih dan makanan cepat saji kepada sekitar 50 orang yang terjebak di jalan tanpa akses logistik.
Badan Meteorologi Nasional Vietnam melaporkan bahwa Sungai Thu Bon, yang mengalir melalui Da Nang hingga Hoi An, mencapai 5,62 meter, melampaui rekor tahun 1964 sebesar empat sentimeter.
“Biasanya banjir hanya tiga hari, setelah itu kami bisa membersihkan rumah,” ujar Le Thi Thi (58), warga Da Nang.
“Tapi kali ini airnya sangat tinggi dan tidak kunjung surut. Saya belum pernah mengalami banjir seperti ini.”
Walau debit air mulai menurun di beberapa wilayah seperti Da Nang dan Hue, pemerintah memperingatkan bahwa tinggi muka air masih pada level berbahaya dan warga diminta tetap waspada.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia menjadi faktor utama meningkatnya intensitas cuaca ekstrem seperti badai dan banjir di kawasan Asia Tenggara.
Dalam sembilan bulan pertama tahun ini saja, 187 orang di seluruh Vietnam dilaporkan tewas atau hilang akibat berbagai bencana alam seperti banjir, badai, dan longsor.
Pemerintah memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana alam mencapai lebih dari US$610 juta (sekitar Rp10 triliun).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: VN Express