Jumat, 31 OKTOBER 2025 • 10:05 WIB

Fakta Ekosida di Balik Serangan Israel ke Perkebunan Zaitun Palestina

Author

Seorang perempuan memegang bendera Palestina saat protes menuntut hak untuk kembali ke tanah air mereka di perbatasan Israel-Gaza di Gaza, 19 Oktober 2018. (Reuters/Mohammed Salem)

INDOZONE.ID - Penduduk Tepi Barat, Palestina, harusnya mulai memanen zaitun di bulan Oktober ini. 

Namun, belakangan serangan pasukan Israel terhadap kebun zaitun mereka makin sering terjadi. 

Sejak awal musim panen zaitun tahun ini, tercatat 150 serangan menyasar wilayah perkebunan Zaitun. Ratusan orang tewas. 

Serangan terhadap kebun zaitun di Palestina bukan aksi acak, melainkan tindakan sistematis. 

Pasukan Israel tidak hanya menyerang, tapi juga memusnahkan pohon-pohon di kebun zaitun. 

Baca juga: 33 Tahun Hiatus, Trump Perintahkan Uji Coba Nuklir Kembali Dimulai, Picu Kekhawatiran Perlombaan Senjata

Sejak awal agresi Oktober 2023, diperkirakan 1,1 juta pohon zaitun dimusnahkan tentara Israel. 

Pada Agustus 2025, misalnya, 10 ribu pohon zaitun dimusnahkan dalam pengepungan tiga hari di Tepi Barat. 

Sebagian dari pohon-pohon usianya sudah lebih dari satu abad. 

Pada 2020 saja, 40 persen petani zaitun Palestina melaporkan pencurian dan perusakan kebun mereka oleh tentara Israel. 

Bagi penduduk Palestina, kebun zaitun merupakan simbol keterikatan spiritual penduduk Palestina terhadap tanah leluhurnya. 

Di kawasan itu, pengolahan zaitun tradisi sejak berabad-abad lalu.

Baca juga: PBB Kecam Serangan Udara Israel yang Tewaskan Warga Sipil di Gaza

 “Ini bukan sekadar pohon, ini warisan leluhur kami, kami harus melindunginya," kata Mohammed Abu al-Rabb, petani zaitun di Desa Jablun, tak jauh dari Jenin. 

Pohon zaitun juga menjadi simbol keteguhan. Mereka menggunakan zaitun untuk membuat makanan, kosmetik, pengobatan, hingga bahan bakar. 

Zaitun juga merupakan hasil panen paling menguntungkan yang dimiliki Palestina. 

Ekspor produk zaitun, menurut data Palestinian Trade Centre, berkontribusi 200 juta dollar Amerika untuk perekonomian negara itu. 

Berdasarkan catatan PBB, sekitar 100 ribu keluarga mengandalkan pemasukan ekonomi dari zaitun. Kini penopang sumber hidup penopang mereka dibabat.

Baca juga: Brazil Mencekam: Jalanan Rio de Janeiro Jadi Medan Perang Antara Polisi ke Geng Narkoba, 132 Tewas

Israel juga membatasi waktu petani untuk memanen pohon zaitun. Alhasil, 20 persen kebun tidak bisa dipanen tiap musim panen berakhir.

High Commissioner for Human Rights (OCHCR) memperkirakan petani Palestina mengalami kerugian mencapai 10 juta dollar Amerika. 

Kini banyak kebun zaitun yang terbengkalai. Pohon-pohon zaitun tumbuh tanpa irigasi dan pemupukan memadai sejak serangan Israel dimulai.

Food and Agriculture Organization, lembaga PBB yang mengurus pangan, menaksir 86 persen pertanian di Gaza hancur. Akibatnya tanah di Palestina kehilangan kesuburan. 

Al Mezan, sebuah lembaga hak asasi manusia, menuding Israel melakukan ekosida, yang menyebabkan ke depannya tanah Palestina tidak layak lagi ditinggali.

Ekosida merupakan perusakan lingkungan skala besar yang menyebabkan gangguan ekosistem dan berdampak dalam jangka panjang.  

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Middleeasteye.net, Al Jazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU