Jejak Penipuan Sister Hong, Ketika Aplikasi Kencan Jadi Alat Kejahatan dan Ancaman Sosial di Tiongkok
INDOZONE.ID - Sebuah kasus mengejutkan datang dari Tiongkok dan menyita perhatian dunia maya. Publik dikejutkan oleh sosok "Sister Hong", karakter fiktif yang dibuat seorang pria untuk memikat ratusan pria lewat aplikasi kencan.
Kasus ini membuktikan bahwa teknologi bisa digunakan untuk tujuan keji jika tidak diawasi secara ketat.
Jiao Moumou, pria berusia 38 tahun asal Nanjing, menjalankan modus penipuan dengan membuat persona digital bernama Sister Hong.
Ia menggunakan wig, riasan tebal, filter wajah, serta suara buatan untuk tampil sebagai perempuan dewasa yang tampak menarik.
Baca juga: Pemerintah AS Selidiki Keterlibatan Harvard dalam Program Pertukaran Mahasiswa Internasional
Tak hanya itu, ia merancang narasi seolah Sister Hong adalah seorang janda yang mencari hubungan kasual.
Para korban yang tergoda profilnya berasal dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, karyawan, profesional, bahkan warga negara asing.
Jiao berhasil membujuk mereka bertemu langsung di apartemennya. Lokasi tersebut disetting sedemikian rupa agar memperkuat ilusi karakter yang ia bangun.
Menurut laporan media, termasuk The Economic Times, Jiao merekam diam-diam hubungan seksual dengan lebih dari 250 pria tanpa seizin mereka.
“Ia menggunakan kamera tersembunyi untuk mendokumentasikan pertemuan itu,” demikian isi laporan tersebut.
Baca juga: Jerman Dikabarkan Berlakukan Wajib Militer Lagi untuk Pria Usia 18 Tahun
Video-video intim itu kemudian diunggah ke situs dewasa, yang menyebabkan wajah para korban terekspos. Sejumlah pengguna internet memperkirakan bahwa jumlah korban sebenarnya bisa mencapai lebih dari 1.600 orang.
Perkara ini mencuat ketika potongan video tersebar di media sosial, termasuk Weibo. Publik pun dibuat geram sekaligus khawatir.
Otoritas Nanjing bertindak cepat, menangkap Jiao pada 5 Juli dan menjeratnya dengan berbagai pasal, mulai dari pelanggaran privasi, penyebaran konten seksual tanpa izin, hingga penipuan identitas.
Menurut hukum di Tiongkok, pelanggaran semacam ini dikenai hukuman berat karena dianggap sebagai ancaman serius terhadap hak privasi dan martabat manusia.
CDC Nanjing juga turut menangani dampak kesehatan yang mungkin timbul. Mereka membuka layanan pemeriksaan gratis bagi siapa pun yang merasa pernah berkontak dengan Sister Hong.
Baca juga: Donald Trump Tegaskan Dukung Elon Musk dan Perusahaannya Tetap Berkembang di AS
Walau belum ditemukan kasus infeksi menular seksual secara langsung, keresahan masyarakat semakin besar akibat rumor yang tersebar di media daring.
Di sisi lain, reaksi publik terbagi. Ada yang menertawakan para pria korban, namun banyak juga yang menunjukkan simpati dan menuntut perlindungan lebih bagi pengguna aplikasi kencan.
Kelompok advokasi hak gender dan komunitas LGBTIQ+ menyerukan agar kasus ini tidak dijadikan dalih untuk menyudutkan kaum transgender.
Mereka menjelaskan bahwa Jiao adalah pria cisgender yang menyalahgunakan identitas palsu, dan perbuatannya tidak mewakili identitas gender mana pun.
Baca juga: Bentrok di Perbatasan, Thailand dan Kamboja Saling Serang dengan Jet Tempur dan Roket
“Kejahatan Jiao tidak ada hubungannya dengan identitas transgender,” kata seorang juru bicara LGBTIQ+ dalam forum diskusi daring.
Kasus ini menjadi titik balik penting dalam diskusi tentang keamanan digital dan etika penggunaan teknologi.
Aplikasi kencan yang seharusnya menjadi sarana menjalin relasi justru dapat berubah menjadi alat manipulasi jika tidak dilindungi dengan regulasi dan kesadaran pengguna yang baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Infobae.com