Rabu, 09 JULI 2025 • 21:20 WIB

Korea Selatan Pulangkan Enam Warga Korut yang Diselamatkan di Laut

Author

Foto ini diambil pada 9 Juli 2025 oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan, menunjukkan sebuah kapal kayu yang membawa nelayan Korea Utara melintasi batas maritim de facto antara Korea Selatan dan Korea Utara di Laut Timur, yang dikenal secara internasional sebagai Laut Jepang. (Yonhap News)

INDOZONE.ID - Korea Selatan kembali menjadi sorotan setelah memulangkan enam warga Korea Utara yang sebelumnya diselamatkan di laut. Insiden penyelamatan ini menjadi perhatian, mengingat hubungan antar-Korea yang masih penuh ketegangan hingga saat ini.

Menurut Kementerian Unifikasi Korea Selatan, keenam warga Korea Utara tersebut ditemukan dalam dua peristiwa berbeda. Insiden pertama terjadi pada bulan Mei, saat empat warga Korea Utara ditemukan di perairan internasional di Laut Timur atau Laut Jepang. 

Mereka terombang-ambing menggunakan kapal kayu kecil setelah tanpa sengaja melintasi garis batas maritim de facto.

Baca juga: Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Kembali Terancam Ditahan

Sementara itu, dua warga Korea Utara lainnya ditemukan lebih awal, tepatnya pada bulan Maret, oleh militer Korea Selatan di Laut Kuning bagian barat. Mereka juga berada di kapal kayu kecil dan hanyut hingga memasuki wilayah perairan Korea Selatan.

Seluruh warga Korea Utara yang diselamatkan di laut ini menyatakan secara sukarela ingin kembali ke negara asal. 

Meskipun demikian, proses pemulangan sempat mengalami kendala karena Korea Utara yang memutuskan komunikasi dengan Korea Selatan dan tidak merespons upaya penyelesaian dari Seoul.

Baca juga: Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda Lewat Pengeras Suara ke Korea Utara

Korea Selatan akhirnya memutuskan untuk tetap menyerahkan warga Korut tersebut dengan mengutamakan sisi kemanusiaan. 

Korea Selatan pulangkan enam warga Korea Utara hari ini melalui Laut Timur, setelah mendapatkan persetujuan penuh dari mereka,” ujar Kementerian Unifikasi dalam pernyataan resminya.

Proses pemulangan ini dilakukan secara tertib dan aman. Saat proses berlangsung, kapal patroli Korea Utara muncul di titik penyerahan yang telah disepakati.

Kapal yang membawa warga Korea Utara tersebut kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke wilayah Korea Utara secara mandiri.

Menurut pernyataan Kementerian Unifikasi, kapal yang membawa warga Korea Utara itu melintasi Garis Batas Utara (Northern Limit Line) pada pukul 08.56 pagi waktu setempat. Proses repatriasi atau pemulangan ini pun berlangsung lancar tanpa kendala.

Sepanjang proses pemulangan, kami telah beberapa kali memastikan bahwa keputusan warga Korea Utara untuk kembali benar-benar murni atas kehendak mereka sendiri,” ungkap pernyataan tersebut. 

Selama di Korea Selatan, keenam warga Korut ini dilindungi sepenuhnya oleh otoritas terkait hingga tiba waktunya untuk dipulangkan.

Meski proses ini berjalan mulus, hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara tetap dalam kondisi panas. Hingga kini, kedua negara secara teknis masih dalam status perang karena Perang Korea 1950-1953 hanya berakhir dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Seoul menyatakan bahwa komunikasi terkait pemulangan ini dilakukan melalui Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengawasi pelaksanaan gencatan senjata. 

Proses ini disebut sejalan dengan kebijakan kemanusiaan Korea Selatan dalam menghadapi insiden penyelamatan di laut antar-Korea.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang baru saja dilantik, menunjukkan sikap yang lebih lunak terhadap Korea Utara dibanding pendahulunya, Yoon Suk Yeol. 

Lee menegaskan komitmennya untuk membuka jalur dialog, setelah hubungan antar-Korea sempat memburuk selama masa pemerintahan sebelumnya.

Sebagai salah satu langkah awal, pemerintahannya menghentikan siaran pengeras suara di perbatasan yang biasanya memutar lagu K-pop dan berita internasional. 

Sebelumnya, siaran ini dilakukan sebagai tanggapan atas balon-balon sampah yang dikirim Korea Utara ke wilayah Selatan. 

Menariknya, sehari setelah siaran tersebut dihentikan, Korea Utara juga berhenti mengirimkan suara-suara aneh yang selama ini mengganggu warga Korea Selatan di daerah perbatasan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Yonhap News

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU