INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dalam waktu 24 jam ke depan, dunia akan mengetahui apakah Hamas menerima atau menolak proposal damai yang ia sebut sebagai “proposal final” untuk menghentikan konflik antara Israel dan Hamas di Gaza.
Dalam pernyataannya yang disampaikan pada Jumat, 4 Juli 2025, Trump mengatakan bahwa saat ini Hamas sedang mempertimbangkan proposal perdamaian terbaru yang didukung Amerika Serikat.
Kabar soal Hamas akan putuskan proposal damai Trump ini pun langsung menjadi sorotan media internasional.
Baca juga: Israel Lenyapkan 56 Ribu Nyawa Warga Gaza, Trump Klaim Akan Ada Gencatan Senjata 60 Hari
Trump berbicara kepada wartawan saat tiba di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, dan menyampaikan bahwa Israel sebelumnya sudah menyetujui syarat-syarat dalam proposal tersebut.
Jika disepakati oleh Hamas, gencatan senjata selama 60 hari akan segera diberlakukan, dan dalam periode itu kedua pihak diharapkan mencari solusi damai yang permanen.
Saat ditanya apakah Hamas telah memberikan jawaban atas berita proposal damai final Israel Hamas ini, Trump menjawab, “Kita akan mengetahuinya dalam 24 jam ke depan. Kita lihat saja nanti.”
Menurut seorang sumber yang dekat dengan Hamas, kelompok tersebut menginginkan adanya jaminan kuat bahwa proposal tersebut benar-benar akan mengakhiri agresi Israel di Gaza.
Di sisi lain, pejabat Israel mengakui bahwa masih ada beberapa rincian yang harus dirundingkan lebih lanjut.
Situasi di Gaza masih jauh dari kata damai. Pada Kamis lalu, otoritas di Gaza melaporkan puluhan warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel.
Konflik ini bermula sejak Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan ke wilayah Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 lainnya.
Sejak saat itu, Gaza terus mengalami gempuran. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, lebih dari 56.000 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel.
Selain itu, jutaan warga terpaksa mengungsi, kelaparan semakin parah, dan berbagai tudingan kejahatan perang serta genosida dilayangkan ke Israel di Mahkamah Internasional dan Pengadilan Kriminal Internasional. Namun, Israel menolak seluruh tuduhan tersebut.
Sebelumnya, gencatan senjata dua bulan pernah berlangsung, tetapi berakhir tragis pada Maret lalu setelah lebih dari 400 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel.
Trump, yang sempat mengajukan ide kontroversial tentang pengelolaan Gaza oleh AS, kembali menjadi sorotan dengan Donald Trump klaim kesepakatan damai Gaza ini.
Baca juga: Israel Lenyapkan 56 Ribu Nyawa Warga Gaza, Trump Klaim Akan Ada Gencatan Senjata 60 Hari
Meski begitu, usulannya sempat menuai protes keras dari berbagai organisasi internasional, termasuk PBB dan pegiat hak asasi manusia.
Selain membahas proposal damai Gaza, Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya berdiskusi dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, mengenai peluang perluasan Abraham Accords atau kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Teluk.
Menurut Trump, topik ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut. Ia optimistis lebih banyak negara akan bergabung dalam Abraham Accords, terlebih setelah Iran semakin tertekan akibat serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Laporan Axios menyebutkan, usai bertemu dengan Trump, pejabat Arab Saudi itu melakukan komunikasi dengan pejabat militer Iran. Pertemuan ini juga berlangsung menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Washington pekan depan.
Sejauh ini, Hamas dikabarkan masih mempelajari secara serius proposal perdamaian terbaru tersebut. Hamas tanggapi proposal perdamaian terbaru ini dengan penuh kehati-hatian, karena mereka ingin memastikan adanya komitmen nyata untuk menghentikan seluruh operasi militer Israel di Gaza.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washington Post