INDOZONE.ID - Krisis populasi di Jepang terus memburuk bahkan laporan terbaru menunjukkan kondisi paling parah dalam 90 tahun terakhir.
Jumlah kelahiran di negara ini tercatat hanya ada sekitar 758 ribu. Angka tersebut turun 5,1 persen di banding tahun lalu dan terus memburuk selama 8 tahun berturut-turut.
Sebelumnya, penurunan kelahiran di angka 760 ribu pertahun sudah diprediksi bakal terjadi di tahun 2035. Namun krisis ini terjadi lebih cepat bahkan terus memburuk.
Baca Juga: Populasi Rendah, Posisi Jepang di Peta Ekonomi Dunia Turun hingga Hadapi Masa Depan Suram
Melansir dari ABC News, krisis ini terjadi karena populasi anak muda Jepang menolak menikah atau memiliki anak sebab biaya hidup semakin tinggi. Selain itu, kondisi lapangan kerja di Jepang juga semakin sulit.
Ditambah kondisi masyarakat Jepang juga makin tidak toleran terhadap bayi sehingga beberapa orangtua merasa terisolasi ketika berada di tempat umum.
Menyiasati hal ini, Perdana Menteri Fumio Kishida mengungkap pemerintah Jepang akan memberikan sejumlah subsidi bagi para orangtua termasuk persalinan, anak-anak serta keluarga mereka.
Baca Juga: Populasi Berkurang, Jepang Siap Terima Lebih Banyak Pekerja Asing Awal Tahun Ini
Namun, kebijakan tersebut banyak diragukan karena dinilai kurang efektif. Sebab langkah Jepang ini hanya menyasar pada orang-orang yang sudah menikah atau berencana punya anak.
Penulis: Gina Nurulfadilah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ABC News