INDOZONE.ID - Korea Utara telah melanjutkan rekor uji coba rudalnya, meluncurkan rudal balistik jarak jauh pada Senin pagi (18/12/2023).
Petinggi pertahanan di Korea Selatan dan Jepang, mengatakan bahwa rudal tersebut menempuh jarak lebih dari 600 mil sebelum jatuh di laut barat Tokyo dan Pulau Hokkaido di utara Jepang.
Tahun ini merupakan tahun rekor bagi program pengujian senjata Korea Utara. Negara ini telah meluncurkan sedikitnya 36 rudal, termasuk sebuah roket yang membawa satelit mata-mata ke luar angkasa pada bulan November.
Baca Juga: Australia Setengah Hati Dukung AS Gempur Houthi Yaman yang Bela Palestina, Kirim Personel tapi...
Para pejabat Korea Selatan menggambarkan senjata jarak jauh yang diuji pada hari Senin sebagai rudal bertenaga bahan bakar padat, menunjukkan kemungkinan itu adalah rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-18.
Sistem bahan bakar padat, dibandingkan dengan bahan bakar cair membuat rudal lebih cepat untuk bergerak, dan dapat dikemudikan dari mana saja kendaraan peluncurannya. Hal ini membuat sistem senjata seperti itu lebih sulit dideteksi.
Laksamana John Aquilino, kepala Komando Indo-Pasifik militer AS, dikutip dari kantor berita Kyodo Jepang mengatakan bahwa semua peningkatan kemampuan dan pengujian rudal Korea Utara, mulai dari ICBM hingga kendaraan peluncuran luar angkasa bulan lalu sangat mengkhawatirkan.
Baca Juga: Pengakuan Ayah Pembunuh 4 Anak di Jaksel: Menyesal Kenapa Tidak Mati!
Amerika Serikat dan Korea Selatan telah meningkatkan intensitas latihan militer bersama melawan meningkatnya ancaman dari Korea Utara, yang telah menguji serangkaian rudal balistik dan pada bulan November meluncurkan satelit mata-mata militer pertamanya.
Tetapi, Korea Utara mengatakan mereka mempunyai hak kedaulatan untuk mengoperasikan program rudal balistik untuk pertahanan diri dan menolak larangan Dewan Keamanan PBB, yang menurut mereka merupakan produk dari kebijakan Amerika Serikat.
Presiden Korea Utara tersebut menegaskan bahwa negaranya yang terisolasi perlu mengembangkan senjatanya, termasuk rudal nuklirnya, untuk mempertahankan diri dari ancaman serangan Amerika Serikat dan sekutunya. Tetapi Washington, Seoul dan Tokyo bersikeras bahwa ancaman terhadap perdamaian regional justru berasal dari Kim Jong Un dan militernya.
Baca Juga: Hadiri Acara Groundbreaking, Kapolri Tegaskan Kawal Kebijakan Pembangunan Polres di IKN
AS, Korea Selatan dan Jepang mengatakan tidak ada niat menyerang Korea Utara. Sehingga para diplomat terkemuka tiga negara tersebut mendesak Pyongyang untuk segera terlibat dalam dialog substantif tanpa prasyarat.
Writer: Ananda Fachreza Lubis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters