Ilustrasi perang AS Vs Iran. (Freepik/creativaimages)
INDOZONE.ID - Pada 8 April 2026 kemarin, Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat untuk gencatan senjata selama dua pekan. Keputusan ini diumumkan Presiden AS, Donald Trump setelah menerima proposal 10 poin yang ditawarkan Iran.
Di tengah gencatan senjata, AS dan Iran sempat melakukan perundingan selama 21 jam untuk mencapai kesepakatan damai di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026). Namun sayangnya kesepakatan tidak tercapai karena Iran menolak syarat yang diajukan AS.
Kini, Iran mengajukan proposal baru kepada AS dengan harapan terwujudnya perdamaian. Tapi AS harus berhati-hati karena proposal itu mungkin menyimpan jebakan diplomatik yang bisa memperparah konflik Timur Tengah.
Baca juga: Ini Isi Proposal 10 Poin Iran yang Disetujui AS untuk Gencatan Senjata
Proposal terbaru Iran fokus pada upaya meredakan ketegangan di kawasan Teluk tanpa harus membatasi program nuklirnya, seperti yang selama ini dituntut oleh Amerika Serikat.
Di proposal baru ini, Iran menitikberatkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan menyetujui penghentian perang.
Strategi ini jelas disengaja oleh Iran. Teheran ingin memisahkan isu Hormuz dari isu nuklir agar tekanan terhadap negaranya dapat dikurangi lebih dulu sebelum masuk ke perdebatan yang lebih kompleks dan sensitif.
Beberapa hari setelah gencatan senjata, Presiden Donald Trump mengumumkan blokade terhadap pelabuhan dan kapal Iran. Langkah ini membatasi ekspor minyak Iran dan memotong salah satu sumber pendapatan utamanya.
Sebagai respons, Iran memasukkan syarat pencabutan blokade tersebut sebagai bagian utama dalam proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Nah dalam proposal barunya, Iran bersedia membuka Selat Hormuz kembali. Namun sebagai imbalannya, AS harus mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Proposal tersebut dibahas dalam pertemuan antara Presiden Donald Trump dan tim keamanan nasionalnya pada Senin, menurut juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt. Namun, belum jelas seberapa serius proposal itu dipertimbangkan.
Selama ini, tuntutan AS agar Iran menghentikan program pemanfaatan uranium menjadi hambatan utama dalam negosiasi.
“Garis merah Presiden terkait Iran sudah sangat jelas, tidak hanya bagi publik Amerika tetapi juga bagi mereka,” ujar Leavitt.
Ia menambahkan bahwa pembahasan memang dilakukan, namun belum tentu mengarah pada keputusan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera, NBC News