INDOZONE.ID - Pemerintah Kamboja menegaskan bahwa upaya memberantas sindikat penipuan online internasional tidak berhenti pada satu penangkapan besar.
Meski dalang utama jaringan scam lintas negara telah diekstradisi, Phnom Penh memastikan perang melawan kejahatan digital dan eksploitasi manusia akan terus berlanjut dengan pendekatan yang lebih terkoordinasi.
Penangkapan Chen Zhi, sosok yang diduga sebagai otak di balik jaringan pusat penipuan online, serta ekstradisinya ke China disebut bukan akhir dari perjuangan Kamboja melawan kejahatan lintas negara Asia Tenggara.
Baca juga: Thailand Minta Kamboja Umumkan Gencatan Senjata Lebih Dulu untuk Hentikan Bentrokan
Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn.
Menurutnya, kasus ini justru menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama internasional yang selama ini terfragmentasi dalam membongkar jaringan scam berskala besar.
Sindikat-sindikat tersebut diketahui beroperasi lintas batas dan menipu korban dari berbagai negara dengan kerugian mencapai miliaran dolar AS.
Baca juga: Kamboja Tutup Seluruh Pos Perbatasan dengan Thailand Usai Bentrokan Mematikan
Prak Sokhonn mengatakan, Kamboja sejak lama memiliki tekad kuat untuk menindak pusat scam digital di Kamboja, terutama yang memanfaatkan teknologi canggih dan jaringan internasional.
Ia menegaskan bahwa penangkapan dan ekstradisi Chen mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menutup ruang gerak pelaku kejahatan siber.
“Ini adalah perjuangan yang berkelanjutan. Kami telah menyiapkan langkah-langkah konkret untuk memberantas kejahatan ini sampai ke akarnya,” ujar Prak Sokhonn dalam wawancara dari Phnom Penh.
Ia juga mengungkapkan bahwa kerja sama dengan otoritas Beijing telah dimulai sejak beberapa bulan lalu, meskipun rincian penyelidikan bersama tersebut belum diumumkan ke publik.
Chen Zhi dikenal sebagai pimpinan Prince Group, konglomerasi yang berbasis di Kamboja dengan berbagai bisnis yang terlihat sah di banyak negara.
Namun, otoritas Amerika Serikat menyebut perusahaan-perusahaan tersebut sebagai kedok salah satu operasi penipuan investasi terbesar dalam sejarah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters