Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (LUDOVIC MARIN/Pool via REUTERS)
INDOZONE.ID - Suasana politik di Prancis sedang memanas. Pemimpin partai sayap kiri jauh France Unbowed (LFI), Jean-Luc Mélenchon pada Sabtu (6/9/2025) waktu setempat mengumumkan bahwa oposisi mereka mengajukan mosi pemakzulan terhadap Presiden Emmanuel Macron di Parlemen.
“Dia harus turun,” tegas Mélenchon dalam konferensi pers di Lille, Prancis utara.
Dalam kesempatan itu, Mélenchon juga menyinggung krisis kemanusiaan di Gaza. Ia mengatakan, jika partainya berkuasa, Angkatan Laut Prancis akan dikerahkan untuk mengawal Global Sumud Flotilla, kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Baca juga: Emmanuel Macron Bantah Penangkapan CEO Telegram Terkait Politik
Mélenchon juga menyebut pemerintahan Perdana Menteri François Bayrou terancam tumbang dalam voting mosi percaya pada Senin mendatang. Ia menyebut kemungkinan tersebut sebagai “kemenangan rakyat.”
Saat ini, Bayrou memang berada di bawah tekanan besar menjelang pemungutan suara penting di Majelis Nasional. Pemerintahannya berusaha mendapatkan dukungan untuk kerangka anggaran 2026 yang diumumkan Juli lalu, dengan target penghematan hampir €44 miliar (sekitar Rp890 triliun) demi menekan utang publik Prancis yang kini mencapai 113% dari PDB.
Selain itu, Prancis juga menghadapi salah satu defisit anggaran terbesar di Uni Eropa, yaitu 5,8%. Bayrou memperingatkan bahwa negaranya berada “di ambang jeratan utang berlebih,” dan meminta para legislator memilih “tanggung jawab ketimbang kekacauan.”
Baca juga: Emmanuel Macron Bubarkan Parlemen Prancis, Imbau Gelar Pemilu Legislatif
Namun, tantangan kian berat karena hampir semua partai oposisi mulai dari sayap kiri LFI, sayap kanan jauh National Rally (RN), hingga Partai Sosialis sudah sepakat akan menjatuhkan pemerintah dalam voting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aa.com.tr