INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengisyaratkan bahwa dirinya tengah mempertimbangkan kunjungan ke China dalam waktu dekat untuk bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping.
Rencana ini menjadi indikasi adanya pergeseran arah dalam hubungan dua kekuatan besar dunia yang selama ini diwarnai ketegangan dagang dan geopolitik.
"Presiden Xi telah mengundang saya ke China, dan kemungkinan besar kami akan mengatur pertemuan itu dalam waktu yang tidak terlalu lama," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih saat menerima kunjungan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.
Baca juga: Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Besar dengan Jepang, Termasuk Tarif Balasan 15 Persen
Lebih lanjut, Trump menyatakan bahwa hubungan AS-China saat ini berjalan “sangat baik,” dan menegaskan bahwa hubungan pribadi antara dirinya dan Xi tetap “sehat”.
Kunjungan Trump ke Beijing ini, jika terwujud, akan menjadi pertemuan puncak AS-China pertama sejak Trump menjabat kembali sebagai presiden untuk periode keduanya pada Januari lalu.
Meski belum ada jadwal resmi yang diumumkan, beberapa sumber menyebutkan bahwa para pejabat dari kedua negara tengah membahas rencana kunjungan sebagai bagian dari rangkaian perjalanan Trump ke Asia akhir tahun ini.
Baca juga: Donald Trump Klaim Lokasi Nuklir Iran Hancur, Laporan Intelijen Sebut Masih Bisa Dipulihkan
Salah satu opsi adalah menggelar pertemuan di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan pada 30 Oktober hingga 1 November.
Alternatif lainnya adalah kunjungan Trump ke Beijing pada 3 September untuk menghadiri peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, sebuah acara penting yang juga diperkirakan dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pertemuan itu juga bisa menjadi momen penting bagi Trump dan Xi untuk memperbarui komunikasi strategis mereka secara langsung, terutama setelah sekian lama hanya berinteraksi melalui jalur diplomatik formal.
Pernyataan Trump ini juga muncul bersamaan dengan klaimnya bahwa pemerintahannya berhasil “menjauhkan Filipina dari pengaruh China”.
Meski begitu, ia menyampaikan bahwa tidak masalah jika negara lain tetap menjalin hubungan baik dengan Beijing, selama hal itu tidak mengganggu kepentingan AS.
"Filipina sempat condong ke China, tapi kami berhasil membalikkan keadaan dengan sangat cepat," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters