Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 21 APRIL 2025 • 17:40 WIB

Marak Kekerasan Seksual, Pemerhati Perilaku Kesehatan UGM Minta Nakes Jaga Integritas

INDOZONE.ID - Kasus Kekerasan seksual oleh dokter residen di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, diyakini bisa dicegah apabila pengawasan pelayanan pasien dan tata kelola obat berjalan dengan baik.

Agar kasus serupa tak terulang, harus dilakukan evaluasi dan perbaikan secara menyeluruh, meminta para tenaga kesehatan menjaga integritas dan profesionalisme, serta menghindari berbagai bentuk kekerasan.

Menyikapi hal itu. Pemerhati Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial dari Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Yayi Suryo Prabandari, mengatakan tantangan terbesar seorang tenaga kesehatan berasal dari dalam dirinya sendiri.

Menurutnya, profesi dokter mengharuskan pendekatan pada pasien dilakukan dengan baik, agar mampu mewujudkan integritas dan profesionalisme tinggi.

Baca Juga: Dokter Residen Unpad Bius dan Lecehkan Keluarga Pasien RS Hasan Sadikin Bandung

Namun begitu, seorang dokter tidak boleh memanfaatkan kesempatan tersebut untuk hal-hal yang tidak baik, apalagi melakukan kekerasan seksual.

“Dosen, pendidik klinis, koas, residen dan personel klinis yang ada di RS, harus saling menghormati satu sama lain, mengutamakan keselamatan pasien, menegakkan integritas, tidak hanya menghindari kekerasan seksual, namun juga kekerasan verbal dan fisik,” kata yayi Suryo, Senin (24/4/2025).

Menurt Yayi, untuk mencegah dan menghindari perilaku tenaga kesehatan yang menyimpang dari tugas memberikan pelayanan kesehatan ke masyarakat, diperlukan perubahan struktur kurikulum pendidikan yang terorganisir.

Sehingga apa yang harus dipelajari dan harus dievaluasi, dapat dilakukan dengan baik dan yang paling penting juga perlunya koordinasi antara program studi dengan rumah sakit. 

Marak Kekerasan Seksual, Pemerhati Perilaku Kesehatan UGM Minta Nakes Jaga IntegritasVideo dugaan pelecehan oleh dokter kandungan di Bandung. (X/@GiginSp2183222)

Selain itu, dalam pendidikan kedokteran, juga perlu memasukkan role model sebagai panutan baik dari kalangan dosen maupun alumni.

“Jadi diperlukan dosen-dosen maupun alumni yang sudah selesai itu bisa menunjukkan menjadi tokoh panutan yang baik. Jadi memberikan contoh yang baik,” katanya.

Yayi menyebutkan FK-KMK UGM telah menerapkan Health Promoting University HPU yang salah satunya Zero Tolerance untuk Bullying Harassment dan Violence.

Bahkan FK-KMK sejak tahun 2019 telah menyusun Panduan Pendidikan Klinik Bermartabat yang ditujukan pada Civitas Akademika dan Hospitalia FK KMK dan RS Pendidikan serta jejaringnya. 

Baca Juga: Datang untuk Berobat, Pasien Malah Alami Pelecehan Seksual oleh Dokter di Malang

Seperti diketahui, belum ada data nasional yang mencatat prevalensi pelecehan seksual oleh tenaga medis di Indonesia.

General Medical Council (GMC) di Inggris tahun 2019 menyatakan bahwa dari sekitar 160 ribu dokter terdaftar, hanya 0,2% yang mendapatkan sanksi etik karena pelanggaran seksual dalam lima tahun terakhir.

Sedangkan di Amerika Serikat, menurut survei National Sexual Violence Resource Center (NSVRC), tenaga medis menyumbang sekitar 3%-5% dari total pelaku pelecehan seksual di tempat publik dalam periode 10 tahun.

Di Indonesia, meski data angkanya tidak disebutkan secara spesifik, pelecehan seksual diakui sebagai bagian dari perundungan yang masih sering terjadi, akibat budaya hierarki dan minimnya sistem pelaporan yang efektif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Rilis

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Marak Kekerasan Seksual, Pemerhati Perilaku Kesehatan UGM Minta Nakes Jaga Integritas

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!