Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 16 JUNI 2026 • 18:30 WIB

LSM JARA Tegas Tolak Tambang di Beutong Ateuh, Sebut Ancam Lingkungan dan Adat

LSM JARA Tegas Tolak Tambang di Beutong Ateuh, Sebut Ancam Lingkungan dan AdatTokoh Masyarakat Beutong Ateuh Nagan Raya Bersama Jaringan Aspirasi Rakyat Aceh Akan Bersatu Dalam Penolakan Pertambangan di Kawasan Tersebut. (Rizki Maulizar/Z Creators)

INDOZONE.ID - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Swadaya Masyarakat Jaringan Aspirasi Rakyat Aceh (LSM JARA) menyatakan penolakan tegas terhadap berbagai rencana dan aktivitas pertambangan yang dinilai berpotensi mengancam kelestarian lingkungan, ruang hidup masyarakat, serta situs sejarah dan budaya di kawasan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

Wakil Bidang Publik LSM JARA, Nuzulul Azmi, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keselamatan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan nilai-nilai sejarah yang menjadi identitas masyarakat Aceh.

"Kami menilai Beutong Ateuh bukan sekadar kawasan yang memiliki potensi sumber daya alam, tetapi merupakan ruang hidup masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Segala bentuk eksploitasi yang berpotensi merusak lingkungan, mengancam sumber mata pencaharian rakyat, serta menghilangkan nilai sejarah dan budaya harus ditolak," tegas Nuzulul Azmi.

LSM JARA menyoroti bahwa kawasan Beutong Ateuh merupakan daerah hulu yang memiliki fungsi ekologis penting bagi kehidupan masyarakat di wilayah Nagan Raya dan sekitarnya.

Menurut mereka, kehadiran aktivitas pertambangan berisiko menimbulkan kerusakan hutan, pencemaran sungai, degradasi tanah, hingga meningkatkan potensi bencana ekologis seperti banjir dan longsor.

Selain itu, masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perkebunan, dan hasil hutan bukan kayu berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak akibat perubahan bentang alam yang ditimbulkan oleh aktivitas ekstraktif.

Baca juga: Bareskrim Dalami Kasus Tambang Emas Ilegal Senilai Rp25,9 Triliun!

Suara Perempuan Beutong: Air dan Tanah Adalah Kehidupan

Penolakan terhadap pertambangan juga disampaikan oleh Saudah atau yang akrab disapa Mak Wod dari kelompok Perempuan Beutong Bersatu.

Menurutnya, perempuan akan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan apabila sumber air dan lahan produktif mengalami kerusakan.

"Kami perempuan Beutong hidup dari tanah dan air yang ada di kampung ini. Jika sungai tercemar dan hutan rusak, maka yang paling dulu merasakan dampaknya adalah keluarga kami. Kami tidak ingin anak cucu kami mewarisi kerusakan akibat tambang," ujar Mak Wod, tokoh perempuan Beutong Ateuh, Nagan Raya.

Ia menambahkan bahwa perjuangan mempertahankan lingkungan bukan semata persoalan ekonomi, melainkan juga bentuk tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Pemuda Beutong: Jangan Ulangi Luka Sejarah

Tgk. Malikul Mahdi Putra, putra ulama kharismatik Aceh almarhum Tgk. Bantaqiah, menegaskan bahwa Beutong Ateuh memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Aceh dan tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi sumber daya alam.

"Beutong Ateuh menyimpan sejarah panjang perjuangan masyarakat Aceh. Kawasan ini tidak boleh dipandang hanya dari nilai ekonominya. Kami ingin pembangunan yang menghormati manusia, lingkungan, dan sejarah daerah kami," kata Tgk. Malikul Mahdi.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat Beutong telah berulang kali menghadapi berbagai persoalan sosial dan konflik di masa lalu. Karena itu, setiap kebijakan pembangunan harus benar-benar mengedepankan prinsip keadilan dan partisipasi masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Rilis

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

LSM JARA Tegas Tolak Tambang di Beutong Ateuh, Sebut Ancam Lingkungan dan Adat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!