Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M.Juhro. (ANTARA FOTO/Antasena)
INDOZONE.ID - Asisten Gubernur Bank Indonesia, Solikin M Juhro jadi sorotan publik setelah namanya masuk dalam bursa calon deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ia menjadi kandidat terkuat dibanding dua calon lainnya, yakni Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dan Dicky Kartikoyono.
Hal itu dikarenakan pengalaman dan rekam jejaknya yang mentereng di dunia keuangan. Sebagai orang lama di BI,Solikin dikenal sangat ahli dalam menyusun strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan harga barang.
Dalam artikel ini, Indozone akan membahas profil Solikin M Juhro, calon deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Baca juga: Bantu Pemerintah, Bank Indonesia Naikkan Bunga Deposito dalam Skema Berbagi Beban
Solikin M Juhro lahir di Surabaya pada 10 Oktober 1967. Ia merupakan seorang ekonom yang kini menjabat sebagai Asisten Gubernur Bank Indonesia setelah menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia.
Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Airlangga pada 1991. Selanjutnya, Solikin meraih gelar Master of Applied Economics dari University of Michigan pada 1998, kemudian memperoleh gelar magister di bidang Ekonomi dari University of Maryland pada 2001.
Pendidikan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktoral. Solikin meraih gelar Doktor di bidang Ekonomi Moneter dari Universitas Indonesia pada 2005.
Solikin mengawali karier di Bank Indonesia pada tahun 1994. Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Kepala Institut Bank Indonesia pada 8 Maret 2018.
Tak sampai di situ, Solikin dilantik menjadi Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter pada 18 Januari 2022.
Sekitar satu tahun kemudian, tepatnya 31 Mei 2023, ia dilantik enjadi Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial.
Tanggal 17 Januari 2024 menjadi puncak perjalanan karier Solikin di Bank Indonesia. Pada hari tersebut, ia resmi dilantik sebagai Asisten Gubernur Bank Indonesia.
Solikin sendiri sudah menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang digelar Komisi XI DPR RI pada Jumat (23/1/2026). Dalam kesempatan tersebut, Solikin memaparkan delapan strategi yang disingkat dengan istilah "Semangka."
Menurutnya, delapan strategi tersebut diusung guna menerjemahkan misi bank sentral agar lebih konkret dan terukur dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Delapan strategi semangka ini dirancang sebagai satu paket kebijakan yang terorkestrasi untuk sekaligus menopang program Asta Cita pemerintah," kata Solikin dalam sesi uji kelayakan dan kepatutan di depan DPR RI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bank Indonesia, Wikipedia