INDOZONE.ID - Satriyo Krido Wahono, Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengkritisi cara penyimpanan bahan makanan di SPPG yang digunakan untuk menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam acara Talkshow bertajuk "Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa melalui MBG" di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Kamis, Satriyo menyoroti temuan bahwa banyak orang yang merasa bahwa bahan makanan sudah pasti aman jika disimpan di dalam lemari es atau freezer.
"Biasanya menggampangkan 'oke kita dapat barang murah kita simpan di freezer, kalau di freezer pasti semuanya baik-baik saja," kata dia.
Baca juga: Perpres Baru Tentang Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis Mulai Disosialisasikan
Menurut Satriyo, praktik seperti itu umumnya dilakukan ketika lembaga pengelola makanan memanfaatkan harga bahan yang sedang rendah di pasaran dengan membelinya dalam jumlah besar.
Satrio melihat banyak SPPG yang belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk mengolah makanan dalam jumlah banyak.
"Tidak seperti itu, karena dalam proses freezer pun bisa jadi dia bertumpuk terlalu banyak. Di bagian luar dingin, di dalam panas. Panas dalam artian bakterinya tumbuh, itu yang berbahaya," ujarnya.
Selain itu, Satriyo juga menyoroti masalah penyimpanan dan pengiriman makanan matang yang terpengaruh oleh keterbatasan armada transportasi SPPG.
"Kadang ada keterbatasan juga, jumlah mobilnya cuma sedikit. Padahal didistribusikan banyak, sehingga waktu distribusi itu memakan waktu prime dari makanan, dimana harus dua sampai empat jam maksimal itu sudah harus dikonsumsi. Kalau distribusinya telat, ya otomatis dia akan lebih (berkurang kualitasnya)," ucap Satriyo.
Satriyo mendorong semua pihak terkait untuk meningkatkan kualitas dan kinerja demi menjamin mutu sajian Makan Bergizi Gratis yang diberikan kepada anak-anak Indonesia.
Baca juga: 5 Poin Penting Sikap Presiden Prabowo soal Kasus Makan Bergizi Gratis
Dalam kesempatan yang sama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menyambut baik usulan yang dipaparkan.
Ia menyebut pihaknya juga tengah mengupayakan adanya peningkatan kualitas melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tata Kelola MBG yang akan disahkan pada waktu dekat.
"Sekarang ini sudah 112 dapur (SPPG) yang ditutup. Mereka dibolehkan lagi beroperasi, tapi dengan catatan membuat kontrak atau membuat perjanjian, kalau mengalami lagi akan ditutup permanen. Jadi, kami juga keras dengan para mitra," pungkas Nanik S. Deyang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan