Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 27 AGUSTUS 2025 • 12:49 WIB

Sampah Plastik Rendah Nilai Jadi Masalah Serius, Begini Upaya Menanganinya

Sampah Plastik Rendah Nilai Jadi Masalah Serius, Begini Upaya MenanganinyaIlustrasi sampah plastik. (Indonesia Baik)

INDOZONE.ID - Indonesia masih bergulat dengan masalah sampah plastik pascakonsumsi. Lewat kolaborasi dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle (BWC), PepsiCo Indonesia mencoba ikut mendorong sistem pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan terukur.

Kerja sama ini diumumkan pada acara “Towards Circularity: Tackling Waste Management Challenge Through Multi-Stakeholder Collaboration” (26/8), yang juga dihadiri Kementerian Lingkungan Hidup.

Lewat kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan Indonesia bisa memperkuat sistem pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang sampah kemasan makanan—terutama plastik multilayer (MLP) yang selama ini sulit diolah.

Kebijakan EPR Jadi Landasan

Pemerintah sudah punya aturan Extended Producer Responsibility (EPR) yang mengharuskan produsen bertanggung jawab atas sampah produk dan kemasannya. Targetnya, pengurangan sampah oleh produsen mencapai 30% pada 2029.

Untuk mencapainya, dibutuhkan peran bersama dari swasta, publik, hingga sektor informal.

Komitmen Pepsi di Tahun Pertama

Gabrielle Angriani Johny, Direktur Government Affairs and Corporate Communications PepsiCo Indonesia, menyebut keberlanjutan sudah jadi bagian penting operasi perusahaan sejak awal berdiri.

“PepsiCo Indonesia berupaya mendorong inisiatif keberlanjutan di tahun pertama operasional 2025 ini melalui kolaborasi multipihak. Tahun ini, kami mulai bekerja sama dengan IPRO dan Bali Waste Cycle untuk pengumpulan dan daur ulang kemasan Lay’s, Cheetos, dan Doritos,” jelasnya.

Selain mengolah kemasan pascakonsumsi, Pepsi juga mengembangkan penggunaan energi terbarukan, manajemen air, hingga pemilahan limbah produksi di pabrik Cikarang.

Peran IPRO dan Bali Waste Cycle

Menurut Reza Andreanto, General Manager IPRO, sejak 2021 pihaknya berhasil mengumpulkan lebih dari 19 ribu ton sampah terpilah untuk daur ulang, termasuk hampir 2 ribu ton kemasan MLP. Sampah itu diolah kembali menjadi produk baru, seperti pallet, karpet talang, hingga bahan kemasan lain.

“Kolaborasi IPRO dengan PepsiCo Indonesia contoh nyata bagaimana sektor swasta menjalankan kepatuhan regulasi dan berkontribusi aktif menciptakan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi,” kata Reza.

Sementara itu, Olivia Anastasia Padang, Direktur BWC, menambahkan bahwa plastik rendah nilai masih jadi masalah besar. Namun lewat inovasi, BWC mampu mengolah MLP menjadi furnitur, perabot rumah tangga, souvenir, bahkan kaki palsu untuk penyandang disabilitas.

“Solusi atas tantangan plastik rendah nilai hanya bisa dicapai lewat kerja sama lintas sektor, inovasi, dan komitmen jangka panjang,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah

Agus Rusly, Direktur KLH, menegaskan bahwa keberhasilan EPR tidak bisa dicapai hanya oleh pemerintah. “Kami membutuhkan dukungan semua pihak, khususnya tanggung jawab produsen. Inisiatif PepsiCo Indonesia, IPRO, dan BWC layak diapresiasi dan bisa jadi contoh bagi produsen lain,” tuturnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sampah Plastik Rendah Nilai Jadi Masalah Serius, Begini Upaya Menanganinya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!