10 Tahun Presiden Jokowi dalam Misi Kemanusiaan Global: Jadi Pimpinan G20 hingga Konsisten Bela Palestina
INDOZONE.ID - Dalam 10 tahun, Presiden Joko Widodo bersama pemerintah, berperan besar dalam menghadapi tantangan global modern, antara lain dengan menjadi champion dalam The Global Crisis Response Group, mendorong berlanjutnya Black Sea Grain Initiative melalui mekanisme G20 Indonesia, hingga menginisiasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific serta penyaluran Indonesia Aid kepada negara-negara yang membutuhkan.
Indonesia mendorong berbagai kesepakatan di berbagai sektor kehidupan. Pandemic Fund berhasil dikumpulkan USD 1,5 milyar untuk meningkatkan kesiapan berbagai negara berkembang dalam menghadapi pandemi. Berbagai kerjasama global yang terkoordinasi juga didorong melalui World Water Forum 2024 demi terciptanya akses air bersih yang adil bagi semua orang di seluruh dunia.
Selama pemerintahan Jokowi, Indonesia memiliki peran penting dalam perdamaian dunia. Dalam kepemimpinan Jokowi (2014-2019) Pledges kontribusi Indonesia bagi MPP PBB pada Leader's Summit di PBB, New York, September 2015, disahkannya Ranres usulan Indonesia tentang "Sustainable Coral Reefs Management" pada 2nd UNEA, Kenya, Mei 2016, prakarsa pembentukan Archipelagic & Island States (AIS) Forum dalam Ministerial Meeting AlS Forum
ke-1 di Manado, 2 November 2018, 1 Satgas Rapid Deployment Battalion (RDB) ke MONUSCO di RD Kongo, November 2018, 1 Satgas Formed Police Unit (FPU) ke MINUSCA, Rep. Afrika Tengah pada 2019.
Sementara dalam pemerintahan Jokowi (2020-2024), inisiatif Indonesia di G20 dalam outcome documents & Leaders' Declaration pada KTT G20, Bali, November 2022 mengenai Connectivity & Post-Covid-19 Recovery, Building Global Health System Resilience, Harmonizing Global Health Protocol Standards.
Baca Juga: Viral Momen Presiden Jokowi Santuy Jalan di Grobogan karena Ban Mobil Dinas Bocor, Ramah Sapa Warga
Komitmen Indonesia untuk Palestina juga tidak bergeming, tetap kuat mendukung proses perdamaian melalui kerja-kerja diplomasi. Selain itu, Indonesia juga terus memperjuangkan kepentingan negara berkembang di dalam pergaulan internasional.
Kesuksesan memimpin beragam perhelatan global
Semenjak era Presiden Soekarno, Indonesia pernah memimpin dunia ketika menginisiasi sekaligus menjadi tuan rumah pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika pada 1955. Seolah melanjutkan Pemerintah Indonesia terbukti telah menjadi tuan rumah dan penyelenggaraan forum internasional selama era Presiden. Mulai dari tuan rumah GPDRR, G20, serta beberapa konferensi internasional lainnya.
Mengutip situs Kominfo, Indonesia juga hadir menjadi juru damai Kamboja yang saat itu tengah menghadapi konflik internal hingga mengirimkan pasukan perdamaian yang jumlahnya sangat luar biasa.
"Pasca reformasi kita rindu ingin memimpin lagi. Dari reformasi sampai sekarang 10 tahun terakhir ini, barulah Indonesia merasakan back to the map. Indonesia yang dulu memimpin sudah kembali lagi menjadi pemimpin," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal.
Di periode kedua pemerintahan Jokowi, Indonesia menjadi tuan rumah untuk "Global Platform for Disaster Risk Reduction" (GPDRR) di Bali pada 23-28 Mei 2022 lalu. Penyelenggaraan GPDRR telah memperteguh posisi Indonesia sebagai pemimpin G20 yang secara tidak langsung menunjukkan kapasitas dalam upaya penanggulangan kebencanaan.
Baca Juga: Presiden Jokowi Resmi Buka UMKM Expo(rt) Brilianpreneur di Jakarta
Indonesia juga sukses menjadi tuan rumah KTT ASEAN 42 dan 43 pada 2023, menjadi tuan rumah Archipelagic and Island States (AIS) Forum pada Oktober 2023 di Bali, tuan rumah World Water Forum ke-10 di Bali pada Mei 2024, dan sebagainya.
Keterlibatan aktif dalam perdamaian dunia
Tak hanya menjadi tuan rumah dalam berbagai konferensi international, Indonesia juga terlibat aktif dalam misi perdamaian dunia. Indonesia menjadi champion dalam The Global Crisis Response Group mendorong berlangsungnya Black Sea Grant Iniative melalui mekanisme G20 Indonesia, menginisiasi ASEAN Outlook on the Indo-Pasifik serta penyaluran Indonesia Aid kepada negara-negara yang membutuhkan.
Presiden Joko Widodo, dalam upaya meningkatkan posisi Indonesia di kancah internasional, menerima palu kepemimpinan ASEAN dari Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, pada November 2022. Di bawah arahan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, politik luar negeri Indonesia selama periode 2019-2024 fokus pada kepemimpinan regional dan global. Peningkatan peran Indonesia terlihat jelas ketika Jokowi menghadiri KTT ASEAN +3 dan menjadi tuan rumah KTT G20 di Bali.
Jokowi menggarisbawahi pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Dalam KTT ASEAN +3, ia mengemukakan tiga fokus utama: penguatan fiskal negara-negara ASEAN, peningkatan dukungan keuangan internasional, dan pengaturan perdagangan global yang memperhatikan hak negara berkembang. Menurut Jokowi, langkah- langkah ini esensial untuk menciptakan stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan di kawasan.
Di samping itu, Jokowi menekankan perlunya kemitraan bilateral dan regional di Indo-Pasifik untuk menghadapi rivalitas strategis. Selain berupaya mendukung penyelesaian konflik global seperti di Rusia dan Ukraina, Indonesia juga aktif dalam G20, mendorong kerja sama di antara negara-negara berpengaruh. Komitmen Jokowi dalam menciptakan keadilan dan kerja sama internasional menjadi dasar bagi Indonesia untuk berperan sebagai aktor kunci di tingkat dunia.
Konsisten membawa misi kemanusiaan
Pemerintah Indonesia aktif dan konsistem membawa misi kemanusiaan, baik dalam sosial serta dalam konflik geopolitik. Misi keketuaan G20, dan penanganan krisis pangan global. Mengutip situs Sekertariat Kabinet Republik Indonesia, keketuaan Indonesia dalam forum G20 mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger,” yang relevan dengan tantangan global akibat pandemi COVID-19 dan rivalitas antara kekuatan besar yang mengancam pemulihan pasca pandemi. Dengan tema ini, Indonesia mengajak semua negara untuk bersinergi dalam mendukung satu sama lain demi pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Sebagai Ketua G20, Indonesia menekankan pentingnya multilateralisme, kemitraan, dan inklusivitas, dengan tujuan menciptakan ekonomi dunia yang lebih terbuka, adil, dan saling menguntungkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia menetapkan tiga agenda prioritas:
(i) Arsitektur Kesehatan Global; (ii) Transisi Energi Berkelanjutan; dan (iii) Transformasi Ekonomi Berbasis Digital.
Baca Juga: Presiden Jokowi Peringati Maulid Nabi: Kehidupan Nabi Muhammad SAW Suri Tauladan Segenap Umat!
Indonesia berperan konstruktif dalam menciptakan dunia yang lebih aman dan adil, mulai dari menjaga stabilitas kawasan hingga mendapatkan dukungan global untuk isu-isu penting.
Dengan mengadopsi politik luar negeri yang bebas aktif, Indonesia mampu membangun hubungan harmonis dengan negara-negara tetangga. Prinsip non-blok dan sikap tidak campur tangan dalam urusan internal negara lain semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menghargai kedaulatan dan saling menghormati antarnegara.
Konstitusi Indonesia mengamanatkan agar negara ini selalu berkontribusi pada terciptanya perdamaian dunia. Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Ukraina dan Rusia merupakan salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut.
"Isu perdamaian dan kemanusiaan selalu menjadi prioritas dalam politik luar negeri Indonesia. Konstitusi mengharuskan kita untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia. Dalam konteks ini, saya melakukan kunjungan ke Kyiv dan Moskow," ungkap Jokowi dalam pernyataan pers bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, pada 30 Juni 2022.
Walaupun situasi saat ini sangat sulit, Jokowi menegaskan pentingnya penyelesaian damai dan terus membuka ruang untuk dialog. "Saya telah menyampaikan pesan Presiden Zelenskyy kepada Presiden Putin dan menyatakan kesiapan saya untuk menjadi jembatan komunikasi antara kedua pemimpin tersebut," katanya.
Konsisten membela Palestina
Pemerintah Indonesia juga memiliki Komitmen untuk Palestina dan tidak bergeming. Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah Indonesia mengecam keras kekerasan yang terjadi di Gaza, Palestina. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah video yang ditayangkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis, 19 Oktober 2023.
“Indonesia mengecam keras tindakan kekerasan di Gaza yang telah menyebabkan penderitaan dan banyaknya korban sipil, termasuk perempuan dan anak. Indonesia juga mengutuk serangan Israel terhadap Rumah Sakit Al Ahli,” ungkap Presiden.
Baca Juga: Jokowi dan Komitmen Iklim Indonesia: dari Konservasi hingga Transisi Energi Terbarukan
Jokowi menyatakan bahwa kekerasan dan serangan di Palestina adalah pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. Oleh karena itu, ia telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk menghadiri Pertemuan Luar Biasa Para Menlu anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, yang berlangsung pada Rabu (18/10) kemarin.
Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto mewakili Presiden Joko Widodo dalam konferensi tingkat tinggi bertema “Call for Action: Urgent Humanitarian Response for Gaza” di Amman, Yordania, pada Selasa (11/6).
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan apresiasi kepada Yordania, Mesir, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas penyelenggaraan pertemuan tersebut. Menhan Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina merupakan solusi konkret untuk menyelesaikan konflik yang berlangsung di Gaza.
Menhan Prabowo dalam KTT ini menggarisbawahi empat poin utama dalam upaya Indonesia untuk membantu rakyat Gaza.
Pertama, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kontribusi kepada Lembaga Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Kedua, Indonesia akan mengirimkan lebih banyak tim medis dan rumah sakit lapangan ke Gaza, dan juga siap mengirimkan kapal rumah sakit dan berpartisipasi dalam pengiriman bantuan melalui udara (airdrop) ke Gaza jika diperlukan.
Ketiga, Indonesia siap menerima hingga 1.000 pasien dari Gaza untuk dirawat di RS di Indonesia dan akan memulangkan mereka setelah sembuh serta situasi di Gaza kembali normal. Keempat, Indonesia siap menyediakan perawatan pasca trauma dan pendidikan bagi anak-anak Gaza dan akan dikembalikan saat situasi kembali stabil.
Diplomasi membuka investasi
Reputasi dan daya tarik investasi ke Indonesia meningkat sering aktifnya Indonesia dalam keanggotan dan keketuaan di organisasi-organisasi internasional.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,7-6,0 persen per tahun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah Indonesia fokus pada peningkatan kinerja investasi dan perdagangan internasional. Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2023 menekankan pentingnya diplomasi ekonomi melalui penyelesaian perjanjian investasi dan perdagangan bilateral yang saling menguntungkan.
Baca Juga: Dua Periode Jokowi: Menguatkan Supremasi Hukum dan Menekan Kasus Terorisme
Investasi asing akan membawa modal baru untuk pembiayaan pembangunan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan negara melalui pajak. Hal ini juga mendukung transfer teknologi dan pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, surplus perdagangan internasional akan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan devisa negara. Dengan memanfaatkan peluang ini, Indonesia berupaya menyelesaikan perjanjian perdagangan dan investasi untuk mendukung ekonomi nasional.
Saat ini, Indonesia memiliki 21 Bilateral Investment Treaties (BIT) dan 11 Free Trade Agreements (FTA)/Comprehensive Economic Partnership Agreements (CEPA). BIT memberikan jaminan perlindungan kepada investor dan memudahkan promosi Indonesia sebagai tujuan investasi. Di bidang perdagangan internasional, Indonesia telah menandatangani 10 perjanjian bilateral, delapan diantaranya telah diratifikasi dan berlaku efektif, sementara dua lainnya masih dalam proses ratifikasi.
Selama sepuluh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Indonesia telah memainkan peran penting dalam diplomasi global dengan menjadi tuan rumah berbagai konferensi internasional yang menekankan misi perdamaian dunia. Komitmen Indonesia untuk membantu Palestina dan mempromosikan keadilan serta kemanusiaan mencerminkan kepedulian yang mendalam terhadap isu-isu global.
Selain itu, upaya Indonesia untuk menarik investasi melalui kerja sama bilateral dan multilateral menunjukkan strategi yang proaktif dalam mengembangkan ekonomi nasional. Dengan mengedepankan dialog dan kolaborasi, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya di kancah internasional tetapi juga berkontribusi pada stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan di kawasan dan dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenlu.go.id, Kemenhan.go.id, Kominfo, ANTARA, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia