Selasa, 05 MARET 2024 • 20:05 WIB

Tragis! Anggota KPPS di Pati Alami Gangguan Jiwa Pasca Pemilu 2024

Author

Ilustrasi - Petugas KPPS di Solo menjalankan tugas di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu (14/2/2024).

INDOZONE.ID - Seorang anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dari Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, harus dilarikan ke rumah sakit oleh pihak keluarga setelah mengalami depresi.

Kondisi ini muncul pasca penyelenggaraan Pemilu 2024 yang sukses, namun menyisakan luka batin yang dalam.

Pasca-sengitnya pelaksanaan Pemilu 2024, pemuda berusia 23 tahun itu terpaksa menjalani perawatan di bangsal jiwa RSUD Soewondo Pati.

Gejala depresi yang mengancam nyawanya bahkan memunculkan upaya bunuh diri, memaksa dirinya terperangkap dalam kegelapan jiwa yang menggoyahkan.

Baca Juga: Korlantas Siapkan Aturan Saat Mudik Lebaran, Ini Daftarnya

Menurut Wakil Direktur Pelayanan RSUD Soewondo Pati, dr. Ali Muslihin, pasien tersebut masuk pada 23 Februari 2024.

Di bawah cengkeraman gangguan jiwa berat, dia terlihat berbicara sendiri, melukai diri, bahkan merencanakan untuk mengakhiri hidupnya.

Hal ini menjadi alarm bagi keluarga dan pihak medis, yang kemudian merujuknya ke Semarang untuk penanganan lebih lanjut.

Dari hasil wawancara dengan dr. Ali Muslihin, Senin (4/3/2024), terkuak bahwa yang bersangkutan menderita gangguan jiwa psikotik yang termasuk dalam kategori berat.

Baca Juga: Pemuda Depok Bobol Saldo Kartu Multi Trip KRL Rp12 Juta, Alasannya Gabut

"Jadi yang bersangkutan itu dari perawatan menderita gangguan jiwa yang dinamakan psikotik, dia termasuk gangguan jiwa yang tidak ringan bisa dikatakan berat. Kemarin dirawat di sini dan masuk tanggal 23 Februari," kata dr Ali Muslihin.

Penyakit ini menyerang saat dia tengah berperan sebagai mahasiswa yang menghadapi beban tugas akademik yang mungkin berat, seperti menyelesaikan skripsi atau mempersiapkan presentasi.

Keadaan ini bertepatan dengan tanggung jawabnya sebagai anggota KPPS dalam Pemilu 2024.

"Jadi beliau ini yang sakit dia seorang mahasiswa yang saat itu dari keterangan keluarganya memang baru mengerjakan tugas kampusnya yang mungkin agak berat juga skripsi atau apa kita juga enggak tahu harus presentasi dan sebagainya. Dan ini kebetulan bareng dengan tugasnya sebagai KPPS," ujar Muslihin.

Menurut Muslihin, pasien dirawat di RSUD Soewondo Pati mulai tanggal 23 Februari, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Kariadi Semarang pada tanggal 29 Februari.

"Keluar dari sini karena dirujuk ke RS Kariadi Semarang itu tanggal 29 Februari, karena perkembangannya itu memerlukan alat, di sini belum ada," pungkas Muslihin.

Kejadian tragis ini menggambarkan betapa beratnya beban yang dipikul oleh anggota KPPS pasca Pemilu 2024.

Meski telah berperan dalam proses demokrasi, mereka seringkali terabaikan dalam urusan kesehatan mentalnya sendiri.

Selayaknya para pahlawan demokrasi, mereka juga membutuhkan perlindungan dan perhatian, terutama dalam menghadapi tekanan psikologis yang mendalam.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: X/@tanyarlfes

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU