INDOZONE.ID - Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya membuat geger dengan menggelar konferensi pers penangkapan seorang pria yang mengaku sebagai hacker Bjorka. Kasus ini masih terus dikembangkan oleh kepolisian.
INDOZONE akan merangkum secara singkat fakta-fakta di balik kasus ini, mulai dari aksi Bjorka sejak 2025, cara kerjanya, sampai penangkapan oleh Polda Metro Jaya.
7 Fakta Hacker Bjorka Ditangkap Siber Polda Metro Jaya
1. Buat Heboh, Retas Data Menteri hingga Presiden
Pada 2022 silam, dunia internet dibuat geger dengan kemunculan hacker dengan nama Bjorka. Dia mengklaim memiliki banyak data, termasuk milik orang-orang penting.
Kala itu, Bjorka mengklaim memiliki 1,3 miliar data registrasi SIM card prabayar di Indonesia. Data itu meliputi NIK hingga nomor telepon.
Sosok misterius ini juga mengklaim sudah mengakses dokumen menteri hingga rahasia milik Badan Intelijen Negara (BIN) yang dikirimkan ke Presiden kala itu, Joko Widodo (Jokowi).
Baca juga: Momen Detik-detik Penangkapan Bjorka di Sulut, Tak Ada Perlawanan Sama Sekali!
2. Ditangkap Polda Metro di 2025
Pada Kamis 2 Oktober 2025, siang WIB, Polda Metro menggelar konferensi pers terkait Bjorka. Seorang pria berinisial WFT (22) ditangkap di Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
"Pelaku ditangkap 23 September di Provinsi Sulawesi Utara. Hasil pemeriksaan yang bersangkutan, sudah beraktivitas di medsos mengaku Bjorka sejak tahun 2020," kata Kasubdit IV Ditres Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Simbolon.
3. Laporan Bank Jadi Gerbang Penangkapan
Usut punya usut, keberhasilan penangkapan ini diawali dari Bjorka yang mengklaim memiliki 4,9 juta data nasabah bank. Klaim tersebut digunakan untuk melakukan pemerasan terhadap pihak bank.
Baca juga: Netizen Ragukan Pria Ditangkap Adalah Bjorka Asli, Polda Metro Beli Pesan Monohok
Alih-alih memberikan uang, pihak bank melaporkan kasus tersebut ke polisi. Hasilnya, Bjorka ditangkap.
4. Jual Banyak Data di Dark Web
Berdasarkan hasil penyelidikan Polda Metro Jaya, sejak 2020 hingga tahun ini, tersangka menggunakan akun medsos dan dark web dengan nama Bjorka. Dia sempat mengganti-ganti nama agar tidak mudah terlacak.
Ia menjual banyak data, baik institusi dalam maupun luar negeri. Akan tetapi, belum diketahui apakah data tersebut merupakan rahasia atau tidak.
5. Raup Puluhan Juta Hasil Jual Data
Masih berkaitan dengan penjualan data di dark web, tersangka mendapatkan uang dengan nilai puluhan juta sekali melakukan transaksi penjualan data tersebut. Uang yang diterima tersangka dalam bentuk kripto.
"Dia melakukan sesuatunya sendiri dan berapa uang yang didapatkan ini juga kita belum bisa mendapatkan fakta secara jelas. Tapi pengakuannya, sekali dia menjual data itu kurang lebih nilainya puluhan juta," kata Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus.
6. Otodidak hingga Motif Ekonomi
Sementara itu, terkait keahlian tersangka, rupanya Bjorka tidak memiliki latar belakang IT. Disebutkan polisi, Bjorka hanya belajar secara otodidak dan bermain di dark web pada 2020.
Untuk uang hasil penjualan data, selama ini digunakan tersangka untuk kehidupan pribadi, termasuk keluarga terdekatnya.
"Ternyata, dia anak yatim piatu, dia menghidupi semua keluarga. Dia anak tunggal, tapi dia menghidupi keluarga," kata Fian.
Baca juga: Hacker Bjorka Berhasil Ditangkap, Siber Polda Metro Sebut Dia Beraksi Seorang Diri
7. Diragukan Netizen, Dijawab Polisi
Pasca ditangkap, netizen seolah tidak percaya terkait keaslian Bjorka tersebut. Di sisi lain, Polda Metro mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terkait sosok Bjorka tersebut.
"Kan, kemarin sudah saya sampaikan, kita masih telusuri jejak digital 2020. Ada parameter yang kita gunakan untuk mengidentifikasi apakah benar dia Bjorkanism di tahun 2020," kata Fian.
Kendati demikian, berdasarkan hasil penelusuran polisi, sosok tersangka ini benar mengelola akun medsos bernama Bjorka yang pertama kali ada di 2020.
"Tetapi dari bukti digital awal yang kemarin saya sampaikan, dari akun X, memang akun Twitter itu dari 2020 yang dia punya. Jadi, tahun 2020 tidak ada akun Twitter lain bernama Bjorka, cuma punya dia," kata Fian.
Baca juga: Hacker Bjorka Ditangkap Siber Polda Metro, Kini Terancam Bui Belasan Tahun
"Apakah dia itu? Ya, kita masih perlu, kan baru satu bukti, perlu dicek lagi dengan bukti lain. Kan Bjorka di dark web ada beberapa konten di-upload itu, beberapa kementerian termasuk nama-nama pejabat, ada kan file-nya. Itu nanti akan kita bandingkan bukti digital yang lagi diproses di labfor ini. Nah, begitu itu kita temukan, baru kita pastikan bahwa dia orang yang sama," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan