Sabtu, 31 MEI 2025 • 14:32 WIB

Fakta dan Kronologi 9 Anak Jadi Korban Ledakan di Gaza Palestina, Kepala RS: Tragedi Paling Memilukan

Author

Serangan udara dan darat Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina, di antaranya termasuk warga sipil dan anak-anak.

INDOZONE.ID - Salah satu tragedi memilukan kembali terjadi di Gaza, Palestina. Peristiwa itu dialami oleh seorang dokter anak.

Sepekan lalu Dr. Alaa al-Najjar dokter anak yang bertugas di Gaza Palestina, harus berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja meninggalkan sepuluh anaknya.

Ia berangkat dengan perasaan khawatir yang terus menghantuinya setiap hari karena kondisi perang yang masih berkecamuk di Gaza, Palestina.

Akan tetapi, dokter 35 tahun itu tidak punya banyak pilihan karena keterbatasan tenaga medis yang ada. Ia bahkan berangkat saat anak bungsunya, Sayden, yang berusia enam bulan masih dalam keadaan terlelap.

Ala al-Najjar seorang dokter yang disegani, yang bertugas merawat bayi-bayi yang terluka akibat serangan Israel di Rumah Sakit Nasser tidak pernah membayangkan perpisahan pagi itu adalah perpisahan terakhir dengan anak-anaknya.

Baca Juga: Bantuan Kemanusiaan Gaza Masih Tertahan, PBB Khawatir Krisis Makin Parah

Ia tidak pernah membayangkan hari itu terjadi. Hari di mana serangan udara Israel yang menyasar Khan Younis itu meluluhlantakkan rumahnya, melukai suami bahkan merenggut nyawa sembilan dari 10 anaknya.

“Ini adalah salah satu tragedi paling memilukan sejak awal konflik,” kata kepala rumah sakit Nasser, Mohammed Saqer seperti dilansir The Guardian. “Dan itu terjadi pada seorang dokter anak yang mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan anak-anak, tetapi kemudian perannya sebagai ibu direnggut dalam momen kebakaran dan keheningan yang memekakkan telinga.”

Dr Alaa al-Najjar meninggalkan rumah saat anaknya masih tidur

Jumat pagi, Dr. Alaa al-Najjar berangkat ke rumah sakit meninggalkan suami dan 10 anaknya di rumah. Saat itu, anak bungsunya, Sayden yang berumur 6 bulan masih dalam keadaan terlelap.

Hanya suami dan satu anak yang selamat.

Baca Juga: Paus Leo Minta Israel Izinkan Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

Dalam tragedi itu hanya Hamdi al-Najjar, 40 tahun yang juga seorang dokter, suami dari Dr. Alaa al-Najjar dan putra mereka, Adam berusia 11 tahun yang selamat.

Ketika mendengar rumah saudara laki-lakinya di bom, Ali al-Najjar, 50 tahun kakak laki-laki Hamdi langsung bergegas ke lokasi.

Tiba di lokasi Ali terkejut melihat rumah adik laki-lakinya telah runtuh dan penuh dengan kobaran api.

Saat itu Ali hanya melihat keponakannya, Adam, dan adik laki-lakinya, Hamdi yang bersimbah darah di kepala dan dada, serta lengannya putus.

Nama anak-anak

Mereka yang meninggal dalam tragedi tersebut adalah Yahya, Rakan, Ruslan, Jubran, Hawa, Revan, Sayden, Luqman dan Sidra.

Anak pertama Yahya Putra berusia 12 tahun dan anak terakhir Sayden berusia 6 bulan sempat tertimbun dalam reruntuhan.

Sementara anak yang selamat, Adam 11 tahun.

Suami Dr Alaa al-Najjar luka parah

Hamdi al-Najjar suami dari Dr Alaa al-Najjar setelah tragedi, mengalami luka yang cukup parah. Meliputi kerusakan otak dan patah tulang di dada akibat pecahan peluru, sehingga perlu dipasangi ventilator dan selang medis.

Baca Juga: RS Indonesia di Gaza Diserang Israel, 55 Orang Terjebak!

Sementara anaknya Adam, 11 tahun cederanya berkisar dari sedang hingga parah.

Rencana untuk mendaftar di Universitas Al-Azhar Kairo

Anak-anak Najjar saat ini memegang kewarganegaraan Mesir dan baik Alaa maupun Hamdi telah berencana untuk berangkat ke Mesir dan mendaftarkan anak-anak mereka di Universitas Al-Azhar Kairo.

Anak-anak tidak dapat dikenali

Rumah Najjar yang berada di dekat sebuah pom bensin turut roboh dan terbakar akibat ledakan bom. Tubuh anak-anak dikeluarkan dalam kondisi terbakar dan beberapa terpisah antar bagian.

Sumber dari rumah sakit Nasser mengatakan bahwa Alaa al-Najjar tidak dapat mengenali wajah anak-anaknya karena luka bakar.

Alaa membacakan Al-Qur’an di kamar mayat

Para dokter perempuan yang juga rekan kerja Alaa tampak terpukul. Tenggelam dalam kesedihan dan amarah. Akan tetapi Alaa tetap bersikap tenang, ibu dari 10 anak itu pergi ke ruang mayat memeluk anak-anaknya, membacakan Al-Qur’an dan beroda.

Setelah mengucapkan perpisahan terakhir kepada anak-anaknya, Alaa kembali ke bangsal menemui suami dan seorang anaknya yang masih selamat.

Baca Juga: Norwegia Resmi Jalin Hubungan Diplomatik dengan Palestina, Titik Terang di Tengah Luka Gaza

Jumlah korban capai 54 ribu

Semenjak serangan Israel di wilayah Palestina, Kementerian Kesehatan Gaza, menyebutkan bahwa korban tewas mencapai 54.000 dan 16.503 diantaranya adalah anak-anak.

“Satu-satunya harapan saya adalah mereka yang terbunuh bukan hanya sekedar nama di atas kertas. Kami diciptakan seperti manusia lainnya di dunia ini. Dan seperti manusia lainnya, kami punya hak untuk hidup,” kata Dr. Ahmed al-Farra, 53 direktur gedung perawatan anak-anak di kompleks media Nasser seperti dilansir The Guardian.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Guardian

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU