INDOZONE.ID - Ribuan orang meninggalkan pulau wisata Santorini setelah gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut selama tiga hari berturut-turut. Pada Selasa, 4 Februari 2025, para wisatawan dan penduduk setempat berbondong-bondong meninggalkan pulau ini melalui jalur laut dan udara.
Menurut pejabat setempat, sekitar 7.000 orang telah meninggalkan Santorini, yang terkenal dengan pemandangan tebing indahnya dan gunung berapi yang sudah lama tidak aktif. Sejak pekan lalu, ratusan gempa bumi terjadi di wilayah tersebut, dengan dua gempa terbaru berkekuatan 4,9 dan 5,0 magnitudo yang mengguncang pada Selasa pagi.
Badan pemantau seismik Yunani mencatat sekitar 750 gempa telah terjadi di pulau ini dan wilayah sekitarnya dalam radius 1.000 kilometer persegi sejak 24 Januari. Meski demikian, tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan serius di Santorini maupun di pulau-pulau terdekat seperti Anafi, Ios, dan Amorgos.
Baca Juga: Jepang Peringati 30 Tahun Gempa Besar Kobe yang Mematikan
Aktivitas Seismik yang Tidak Biasa
Para ahli menyebut bahwa aktivitas seismik di Santorini kali ini adalah yang terbesar sejak pencatatan resmi dimulai pada tahun 1964.
"Ini adalah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami belum pernah melihat aktivitas seismik seperti ini sebelumnya," ujar Athanassios Ganas, Direktur Penelitian di Institut Riset Gempa Bumi dan Geodinamika Yunani, kepada televisi nasional ERT.
Dalam 72 jam terakhir, lebih dari 40 gempa dengan kekuatan di atas 4,0 magnitudo telah tercatat. Meskipun Santorini berada di atas gunung berapi yang terakhir kali meletus pada tahun 1950, para ahli menegaskan bahwa gempa-gempa ini tidak terkait dengan aktivitas vulkanik.
Baca Juga: Upaya Penyelamatan Dilakukan Usai Gempa Tibet, Tewaskan 120 Orang Lebih
Ribuan Orang Dievakuasi
Berdasarkan laporan Penjaga Pantai Yunani, lebih dari 5.700 orang telah meninggalkan Santorini dengan kapal feri sejak Minggu.
Maskapai Aegean Airlines juga telah menerbangkan hampir 1.300 orang keluar dari pulau ini pada Senin, dengan delapan penerbangan tambahan dijadwalkan membawa 1.400 penumpang pada Selasa.
Layanan kapal feri ke Santorini juga ditambah untuk mengakomodasi jumlah penumpang yang meningkat. Sementara itu, sekolah-sekolah di Santorini dan tiga pulau terdekat ditutup hingga Jumat sebagai tindakan pencegahan, mendorong banyak keluarga dengan anak-anak untuk meninggalkan pulau hingga situasi mereda.
Namun, tidak semua orang yang berada di pulau ini merasa panik. Beberapa wisatawan justru menganggap guncangan ini tidak begitu mengkhawatirkan.
“Saya tidak terlalu khawatir dengan gempa atau gunung berapi, karena saya berasal dari Tokyo,” ujar Wataru Saito, seorang ekonom berusia 43 tahun yang sedang berlibur di Santorini. Ia menambahkan bahwa gempa di pulau ini masih jauh lebih lemah dibandingkan dengan yang biasa terjadi di Jepang.
Seorang warga lanjut usia bernama Flora (94) mengingat kembali gempa besar yang melanda Santorini pada tahun 1956. Sementara itu, Roger Beauchamp dari Arizona menyebut getaran-getaran yang dirasakan hanya seperti “guncangan kecil.”
Pemerintah Imbau Warga Tetap Tenang
Efthymios Lekkas, Kepala Otoritas Perencanaan dan Perlindungan Gempa Yunani, menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya gempa besar berkekuatan 6,0 magnitudo sangat kecil.
“Penduduk Santorini harus tetap merasa aman. Tidak perlu ada kepanikan,” ujarnya kepada stasiun televisi Mega TV pada Selasa.
Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, meskipun ia mengakui bahwa fenomena ini tergolong luar biasa.
Santorini merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di dunia, dengan sekitar 3,4 juta wisatawan mengunjungi pulau ini pada tahun 2023. Namun, agen perjalanan Eropa menyebutkan bahwa saat ini jumlah wisatawan asing di pulau ini relatif sedikit, dengan lonjakan kunjungan diperkirakan akan terjadi menjelang musim semi.
Ted Stathis, seorang pemilik restoran dan perusahaan penyewaan kapal katamaran, optimis bahwa situasi ini akan segera kembali normal.
“Saya harus mengakui bahwa ini memang sesuatu yang tidak biasa. Kami memang sering mengalami gempa kecil selama bertahun-tahun, tetapi kali ini sangat banyak dan terjadi dalam waktu yang berdekatan,” ujar pria berusia 54 tahun itu.
“Asalkan frekuensinya mulai berkurang, saya yakin situasi akan segera membaik,” tambahnya, seraya menyebut bahwa sebagian besar reservasi untuk perusahaannya baru dimulai pada akhir bulan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Channelnewsasia.com