Keterlibatan Amerika Serikat dan Media Dalam Perang-perang Bergejolak di Dunia, Termasuk Palestina?
INDOZONE.ID - Siapa sangka jika perang-perang yang pernah terjadi di dunia, disulut oleh media? Pakar Kebijakan Publik Sara El Yafi mengungkap, perang kontemporer selalu dimulai oleh pemberitaan bohong media sekaligus propaganda pemerintah Amerika Serikat.
"(Ini) menunjukkan kepada kita bagaimana media menyebarkan kebohongan untuk memicu perang; bagaimana pemerintah memalsukan bukti dan berbohong kepada masyarakat, dan media berbohong kepada mereka " tulis Sara, dalam akun Instagramnya @sarayafi dan akun @theslowfactory, dikutip Senin (27/11).
Menurutnya, jelas tidak ada orang yang menyukai perang, karena itu orang-orang perlu ditipu atau dimanipulasi untuk terlibat dalam peperangan. Dan tidak ada yang mampu melakukan hal ini lebih baik daripada media, yang mencetak dan mendistribusikan propaganda pemerintah untuk memicu perang.
"Mari kita menelusuri kembali sejarah, setiap kebohongan media yang menyebabkan perang," katanya.
Baca Juga: KTT COP28 Dubai: Presiden Jokowi Gagas Rencana Pendanaan Iklim dan Transisi Inklusif
1. Perang Irak
Salah satu perang yang dipicu oleh propaganda pemerintah dan media adalah Perang Irak, yang terjadi di awal 2000-an. Pada saat itu, Presiden Amerika Serikat George W. Bush, Wakil Presiden Dick Cheney dan Menteri Luar Negeri Colin Powell menyajikan 'bukti' yang mengklaim bahwa Irak memiliki senjata kimia, biologi, dan kemungkinan senjata nuklir.
Selain itu, Irak juga diduga memiliki hubungan dekat dengan kelompok teroris seperti Al-Qaeda. Namun, sampai sekarang tidak ada bukti kuat yang menunjukkan adanya senjata pemusnah massal di Irak.
"Perang Irak & Mitra Media/ Outlet media Pemerintah AS seperti: The New York Times, CNN, Fox News, ABC, NBC, PBS, CBS, Washington Post & banyak lagi semuanya secara agresif menyebarkan informasi yang salah," ungkapnya.
Karena berita itu, Amerika Serikat pun menurunkan pasukan militernya ke Irak dan menginvasi negara itu pada 20 Maret 2003 - 1 Mei 2003. AS, dengan bangga, menyebut invasinya sebagai 'Operation Iraqi Freedom'. Mereka ingin membebaskan rakyat Irak dari pemimpin saat itu yang dianggap sebagai diktator berbahaya, Saddam Hussein.
Karena invasi ini, AS berhasil menewaskan Saddam Hussein. Namun, yang lebih mengerikan, propaganda jahat itu mengakibatkan sekitar 1 juta kematian warga Irak dan menguras anggaran AS sebesar $2 triliun di negara-negara Utara.
Selain itu, perang ini juga menghancurkan infrastruktur Irak, memicu kekerasan sektarian, dan mendestabilisasi wilayah tersebut, menyebabkan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Setelah Perang Irak, muncullah kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS, yang memperburuk dampak perang dan berkontribusi terhadap ketidakstabilan dan kekerasan lebih lanjut di wilayah tersebut.
Baca Juga: Tol Cikarang Juga Macet Buntut Demo Buruh Hari Ini
2. Perang Afganistan
Pada 11 September 2001, serangan teror yang disebabkan beberapa pesawat yang dibajak menabrak gedung World Trade Center di New York dan Pentagon di Arlington County, Virginia telah menewaskan hampir 3.000 jiwa. Pemimpin kelompok Al-Qaesa Osama bin Laden langsung dinyatakan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas tragedi 9/11 ini.
Di saat yang sama, ada Taliban, kelompok radikal Islam yang menguasai Afghanistan yang melindungi Bin Laden dan menolak menyerahkannya kepada AS. Sebulan setelah tragedi 9/11 itu, AS melancarkan serangan udara ke Afghanistan untuk menyerang Taliban dan al-Qaeda.
Kini, setelah lebih dari dua dekade, diketahui bahwa klaim AS tersebut tidak berdasar. Dengan media seperti NEW YORK TIMES, CNN, FOX NEWS, ABC, NBC, PBS, CBS, WASHINGTON POST dan masih banyak lagi secara agresif menyebarkan informasi yang salah ini.
"Invasi pimpinan AS ke Afghanistan mengakibatkan konflik berkepanjangan selama hampir dua dekade, dan menimbulkan banyak korban jiwa. Lebih dari 241.000 nyawa melayang, termasuk 71.344 warga sipil di kedua sisi perbatasan Afghanistan-Pakistan, dengan setidaknya 47.245 korban sipil di Afghanistan saja," ujar El Yafi.
Kerugian finansial yang diperkirakan mencapai $2,26 triliun, memperburuk krisis kemanusiaan yang menyebabkan kelaparan, penyakit, dan kemiskinan. Sekitar 92% penduduk menghadapi kerawanan pangan, dengan 3 juta anak berisiko mengalami kekurangan gizi akut dan separuh penduduk hidup dengan pendapatan kurang dari $1,90 per hari.
3. Perang Vietnam
Pada Agustus 1964, Kementerian Pertahanan AS mengabarkan bahwa kapal perang USS Maddox ditembaki kapal Vietnam Utara pada 2 dan 4 Agustus 1964, di Teluk Tonkin. Insiden di Teluk Tonkin itu mendorong Kongres AS menerbitkan Resolusi Teluk Tonkin, yang menjadi landasan hukum untuk Presiden Lyndon B. Johnson untuk menyerang Vietnam.
Namun tahun 1995 mantan Menteri Pertahanan AS Robert McNamara, mengakui insiden tersebut adalah berita palsu. Di mana berita itu disebarluaskan oleh media-media seperti TIME, LIFE dan NEWSWEEK.
"Selama perang, militer dan pemerintah AS sering memberikan gambaran palsu tentang kemajuan di Vietnam, yang kemudian digaungkan oleh media. Hal ini sangat kontras dengan kenyataan dan menyimpangkan pemahaman tentang perang," kata El Yafi.
Invasi AS di Vietnam ini mengakibatkan lebih dari 3 juta orang Vietnam dan sekitar 58.000 orang Amerika meninggal. Konflik tersebut tidak hanya menghancurkan masyarakat yang hidup pada saat itu, namun juga meninggalkan warisan kehancuran yang meluas akibat pemboman yang tiada henti, penggunaan senjata kimia secara ekstensif seperti Agen Oranye, dan jutaan orang yang mengungsi.
Selain banyaknya korban jiwa, perang Vietnam juga mengoyak tatanan sosial Vietnam dan memberikan luka pada generasi-generasi, baik secara fisik maupun emosional. Dengan dampak jangka panjang yang terus berlanjut melalui masalah kesehatan, tantangan ekonomi, dan gangguan sosial yang terus berlanjut.
Meski mati-matian menyebarkan propaganda jahat, pada akhirnya Amerika tetap kalah dalam semua perang itu. El Yafi bilang, propaganda dan berita bohong yang dirilis AS melalui mitra medianya sangat mahal. Itu menjadi semakin mahal, ketika semakin sedikit orang yang mempercayai kebohongan tersebut.
"Salah satu alasan berakhirnya apartheid di Afrika Selatan adalah karena biaya untuk mempertahankannya (berita bohong) menjadi terlalu mahal," tuturnya.
Meskipun boikot dan divestasi memainkan peran yang sangat penting untuk kekalahan Amerika Serikat, namun biaya besar yang terkait dengan penyebaran informasi yang salah dan propaganda lah yang membuat AS mundur dari banyak peperangan. Ini juga lah yang sedang terjadi sekarang, di perang Israel dan Palestina.
Sementara itu, dengan semakin berkembangnya teknologi dan adanya sosial media, orang akan semakin mudah mendapatkan informasi, baik yang bemar atau hang salah. Dengan berita bohong bisa memorak-porandakan sebuah komunitas masyarakat dan berita benar dapat menyelamatkan orang-orang yang tertindas selama perang.
"Tindakan Anda di media sosial memiliki kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika Anda menemukan postingan yang mengatakan kebenaran dan Anda berinteraksi dengannya, hal itu akan mengikis sumber propaganda mereka," tutup El Yafi.
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Z Creators