Kamis, 25 JUNI 2026 • 12:30 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Prancis, 68 Ribu Rumah Alami Pemadaman Listrik

Author

Seorang pria duduk di tepi sunbgai Siene di tengah gelombang panas yang melanda Paris, Prancis. (REUTERS/Tom Nicholson)

INDOZONE.ID -  Gelombang panas yang memecahkan rekor terus melanda sejumlah negara di Eropa pada Rabu (24/6/2026). 

Suhu yang melonjak hingga di atas 40 derajat Celsius tidak hanya membuat warga kepanasan, tetapi juga memicu gangguan listrik besar-besaran di Prancis dan meningkatkan permintaan pendingin ruangan serta kipas angin secara drastis.

Para ahli menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipicu oleh pola atmosfer yang membuat massa udara panas terperangkap selama beberapa hari. 

Dampak pemanasan global disebut semakin memperparah kondisi tersebut sehingga gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi.

Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem di India Tewaskan 16 Orang, Suhu Tembus 45 Derajat Celsius

Prancis Catat Suhu Tertinggi dalam Sejarah Pengamatan

Prancis mencatat rekor suhu nasional baru. Indikator suhu nasional yang dihitung dari rata-rata suhu siang dan malam di 30 stasiun cuaca mencapai 29,8 derajat Celsius pada Selasa (23/6), tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1947.

Pemerintah juga menaikkan status siaga panas ke level tertinggi di beberapa wilayah tambahan. Akibatnya, sekitar 44 juta penduduk kini berada di area yang terdampak gelombang panas.

Lebih dari 90 persen populasi Prancis diperkirakan terpapar suhu ekstrem. Di sejumlah wilayah, termasuk Brittany hingga kawasan Paris serta sebagian besar wilayah barat daya negara itu, suhu diperkirakan berkisar antara 39 hingga 41 derajat Celsius.

Baca juga: Gelombang Panas dan Angin Kencang Picu Kebakaran Hutan Hebat di Eropa Selatan

Gangguan Listrik Besar Tinggalkan 68 Ribu Rumah Tanpa Daya

Cuaca panas yang berkepanjangan juga menyebabkan gangguan pada infrastruktur listrik. Sebuah transformator di wilayah Finistere, Prancis barat laut, mengalami masalah akibat suhu ekstrem sehingga sekitar 68.000 rumah kehilangan pasokan listrik.

Pada puncaknya, lebih dari 106.000 pelanggan terdampak pemadaman. Otoritas setempat menyatakan proses pemulihan berlangsung sepanjang malam, namun pasokan listrik belum dapat dipulihkan sepenuhnya hingga setidaknya akhir Rabu.

Para ilmuwan menilai kondisi ini menunjukkan kerentanan infrastruktur lama yang dibangun sebelum perubahan iklim akibat aktivitas manusia menyebabkan gelombang panas menjadi lebih sering dan lebih parah.

Penjualan AC dan Kipas Angin Melonjak Tajam

Lonjakan suhu membuat masyarakat berbondong-bondong membeli perangkat pendingin udara. Permintaan kipas angin dan AC meningkat tajam di negara yang sebagian besar bangunannya memang tidak dirancang untuk menghadapi panas ekstrem.

Jaringan hipermarket Carrefour mengungkapkan telah menjual sekitar 30.000 unit kipas dan perangkat pendingin hingga Senin sore. Jumlah tersebut disebut seribu kali lebih tinggi dibandingkan hari biasa.

Sementara itu, penjualan perangkat pendingin di Amazon hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perusahaan ritel elektronik Fnac Darty juga melaporkan peningkatan penjualan hingga dua digit.

Seorang teknisi listrik bernama Thierry yang bekerja di wilayah barat daya Prancis mengaku kewalahan menerima permintaan pemasangan AC darurat.

Menurutnya, banyak warga tidak ingin menunggu prosedur perizinan yang biasanya diperlukan untuk memasang unit pendingin udara di kompleks hunian.

Warga Mengeluh Sulit Bertahan di Tengah Panas Menyengat

Gelombang panas tidak hanya dirasakan warga lokal, tetapi juga wisatawan. John Beeler, seorang insinyur asal Amerika Serikat yang sedang berlibur di Paris bersama istrinya, mengaku kesulitan menikmati kunjungannya.

Ia mengatakan suhu yang sangat tinggi membuat kondisi di jalanan, kereta bawah tanah, hingga tempat penginapan terasa tidak nyaman. Pasangan tersebut akhirnya memutuskan pindah ke hotel yang memiliki fasilitas pendingin udara.

Gelombang Panas Menyebar ke Sejumlah Negara Eropa

Kondisi serupa juga terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Kementerian Kesehatan Italia menetapkan peringatan merah gelombang panas di 16 kota, termasuk Milan dan Roma.

Di Polandia, badan meteorologi mengeluarkan peringatan panas tingkat tinggi untuk wilayah barat mulai Kamis hingga Sabtu. Suhu bahkan berpotensi melampaui rekor nasional 40,2 derajat Celsius yang tercatat pada 1921.

Kroasia juga menetapkan status siaga merah untuk kawasan pesisir Adriatik pada akhir pekan. Sementara Hungaria meningkatkan status peringatan panas ke level tertinggi karena suhu diperkirakan terus meningkat hingga awal pekan depan.

Perubahan Iklim Disebut Memperburuk Situasi

Sebuah penelitian ilmiah yang dirilis pekan ini menyebutkan bahwa gelombang panas yang sedang melanda Eropa diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Tanpa pengaruh pemanasan global, suhu yang terjadi saat ini diperkirakan bisa 2 hingga 4 derajat Celsius lebih rendah.

Meski demikian, kabar baik datang dari Spanyol. Badan meteorologi nasional negara itu memperkirakan suhu mulai menurun di sebagian besar wilayah pada Rabu, memberikan sedikit harapan bagi kawasan Eropa Barat yang masih bergulat dengan cuaca ekstrem.

Dampak Meluas hingga Sekolah dan Tempat Wisata

Di Belanda, pemerintah mengeluarkan peringatan oranye untuk wilayah tengah dan selatan negara tersebut hingga Jumat. Sejumlah layanan transportasi kereta juga dikurangi untuk mengantisipasi dampak cuaca panas.

Sementara di Inggris, banyak sekolah terpaksa melakukan penyesuaian aktivitas belajar mengajar. Para kepala sekolah mengakui sebagian besar bangunan pendidikan di negara itu belum siap menghadapi suhu setinggi yang terjadi saat ini.

Beberapa destinasi wisata populer di Prancis, termasuk Museum Louvre dan Menara Eiffel, turut membatasi jam kunjungan.

Di Belgia, pengelola Atomium di Brussel juga memutuskan menutup objek wisata tersebut lebih awal selama beberapa hari ke depan demi keselamatan pengunjung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nytimes.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU