Penembakan Sekolah di Filipina Tewaskan 3 Siswa, Polisi Sebut Serangan Sudah Direncanakan
INDOZONE.ID - Polisi Filipina mengungkap bahwa aksi penembakan yang menewaskan tiga siswa di sebuah sekolah menengah di Kota Tacloban diduga telah direncanakan sebelumnya oleh dua remaja pelaku.
Salah satu dari mereka bahkan diketahui pernah berlatih menggunakan senjata api di lapangan tembak sebelum tragedi tersebut terjadi.
Peristiwa yang mengguncang Filipina itu terjadi di San Jose National High School, Provinsi Leyte, pada Senin (22/6/2026).
Selain menewaskan tiga siswa, insiden tersebut juga menyebabkan sedikitnya 15 pelajar lainnya mengalami luka tembak dan harus menjalani perawatan medis.
Baca juga: Gempa Dahsyat di Filipina Angkat Dasar Laut hingga 2 Meter, Terumbu Karang Rusak dan Biota Laut Mati
Polisi Temukan Indikasi Perencanaan Matang
Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, Allen Rae Co, mengatakan hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa serangan tersebut bukan tindakan spontan.
Menurutnya, dua pelaku yang masing-masing berusia 15 dan 14 tahun telah berada bersama di kamar mandi sekolah selama lebih dari satu jam sebelum penembakan terjadi.
"Semua indikasi mengarah pada fakta bahwa serangan ini telah direncanakan sebelumnya," ujar Co dalam konferensi pers pada Selasa (23/6/2026).
Meski motif pasti masih terus diselidiki, dugaan sementara mengarah pada pengalaman perundungan yang dialami para pelaku. Namun, polisi juga menemukan kemungkinan adanya pengaruh dari aktivitas daring yang mereka konsumsi.
Baca juga: Tiga Orang Tewas dalam Runtuhnya Gedung di Filipina, 17 Orang Masih Hilang
Pengaruh Konten Kekerasan di Internet Ikut Diselidiki
Penyelidik menemukan bahwa pelaku yang berusia 14 tahun kerap mengakses dan membagikan konten bernuansa kekerasan di internet.
Menurut Co, terdapat indikasi bahwa kelompok tertentu di dunia maya mungkin ikut memengaruhi tindakan pelaku.
Ia menambahkan bahwa faktor perundungan dan paparan konten kekerasan secara online bisa saling berkaitan dalam mendorong terjadinya aksi brutal tersebut.
Pihak kepolisian masih mendalami keterlibatan kelompok online yang dimaksud dan akan mengungkap hasil penyelidikan lebih lanjut setelah proses investigasi selesai.
Korban Luka Bertambah, Satu Siswa Dalam Kondisi Kritis
Jumlah korban luka yang dirawat akibat insiden tersebut bertambah menjadi 15 orang. Salah satu siswa dilaporkan mengalami luka serius dan masih berada dalam kondisi kritis.
Juru bicara Kepolisian Tacloban, Evalyn Diaz, mengatakan korban saat ini masih mendapatkan pengawasan intensif dari tim medis.
"Kondisinya masih dipantau secara ketat dan ia sedang berjuang untuk bertahan hidup," katanya.
Sebagai respons atas tragedi tersebut, seluruh kegiatan belajar mengajar di Kota Tacloban dihentikan sementara untuk memberikan ruang pemulihan bagi siswa, guru, dan keluarga korban.
Pelaku Pernah Berlatih Menggunakan Senjata Api
Polisi mengungkap bahwa pelaku berusia 14 tahun menggunakan pistol Glock kaliber 9 milimeter yang merupakan milik bibinya, seorang anggota kepolisian.
Akibat kejadian itu, sang bibi telah diskors dan ditahan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait kepemilikan dan pengawasan senjata.
Direktur Kepolisian Regional, Jason Capoy, mengatakan remaja tersebut pernah dibawa ke lapangan tembak sehingga memiliki kemampuan dasar dalam mengoperasikan senjata api.
Meski tidak tergolong mahir, pelaku diketahui memahami cara mengganti magasin dan mengisi ulang amunisi.
Sementara itu, senjata kedua berupa pistol kaliber .38 tercatat milik sebuah perusahaan keamanan tempat kakek salah satu tersangka pernah bekerja.
Aksi Pelaku Dinilai Sistematis
Berdasarkan keterangan saksi, kedua pelaku bergerak menyusuri koridor sekolah sambil menembakkan senjata ke arah ruang kelas melalui jendela.
Pola pergerakan tersebut dinilai cukup terorganisasi dan menunjukkan adanya persiapan sebelum aksi dilakukan.
Penyelidikan juga menemukan bahwa pelaku termuda merupakan pemain aktif gim GoreBox, sebuah permainan video yang dikenal menampilkan adegan kekerasan ekstrem.
Tak lama setelah informasi tersebut terungkap, otoritas siber Filipina mengumumkan pelarangan sementara terhadap gim tersebut sembari melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Guru dan Siswa Mengalami Trauma Mendalam
Menteri Pendidikan Filipina, Sonny Angara, yang mengunjungi para korban pada Selasa, mengatakan banyak siswa dan guru masih mengalami trauma berat akibat kejadian tersebut.
Menurutnya, sejumlah saksi belum siap menceritakan kembali pengalaman mereka saat penembakan berlangsung.
Bahkan, kepala sekolah dilaporkan sempat pingsan ketika mencoba membagikan pengalamannya terkait tragedi tersebut.
Meski demikian, para guru mengaku tidak pernah melihat tanda-tanda perilaku mencurigakan dari kedua pelaku sebelum kejadian.
Mereka menggambarkan kedua remaja tersebut sebagai siswa yang tampak biasa seperti pelajar lainnya.
Kasus Langka yang Mengguncang Filipina
Penembakan di lingkungan sekolah merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Filipina. Namun, insiden kekerasan di dunia pendidikan kembali menjadi sorotan setelah beberapa kasus serupa terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Awal bulan ini, tujuh siswa dilaporkan terluka dalam serangan senjata tajam yang dilakukan seorang siswa yang lebih tua di Provinsi Cavite.
Tragedi di Tacloban kini menjadi salah satu kasus penembakan sekolah paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Filipina dan memicu kembali perdebatan mengenai keamanan sekolah, akses terhadap senjata api, serta pengaruh konten kekerasan di internet terhadap remaja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com