INDOZONE.ID - Kawasan Teluk sempat bernapas lega setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa malam. Kesepakatan ini menghentikan lebih dari sebulan ketegangan yang diwarnai serangan dan retorika keras.
Namun, di balik kelegaan tersebut, muncul kekhawatiran baru di negara-negara Teluk. Mereka cemas jika AS, demi mengakhiri konflik dengan cepat, menyetujui kesepakatan yang justru memberi Iran pengaruh lebih besar atas Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan mengambil langkah ekstrem jika Iran tidak membuka jalur tersebut. Namun, menjelang tenggat, ia menyatakan gencatan senjata tercapai dengan syarat lalu lintas maritim di Selat Hormuz kembali normal.
Baca juga: Peringatan Iran ke Kapal di Selat Hormuz: Lewat Tanpa Izin Akan Dihancurkan
Kekhawatiran Diam-diam Negara Teluk
Sejumlah analis menilai ada kekhawatiran yang tidak diungkapkan secara terbuka di kawasan Teluk. Negara-negara di kawasan itu khawatir kesepakatan yang rapuh justru memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat posisinya di jalur vital perdagangan global tersebut.
Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pun menyambut gencatan senjata, tetapi menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka tanpa syarat dan kesepakatan harus bersifat permanen.
Jika Iran tetap memiliki kendali signifikan atas selat itu, negara-negara Teluk berisiko menghadapi tekanan ekonomi dan ancaman gangguan distribusi energi secara terus-menerus.
Wacana Pungutan di Selat Hormuz
Pernyataan Trump soal kemungkinan kerja sama AS-Iran untuk memungut biaya di Selat Hormuz juga memicu kontroversi. Meski kemudian Gedung Putih menegaskan prioritas utama adalah membuka jalur tersebut tanpa batasan, ide tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran di kawasan.
Di sisi lain, meskipun AS mengklaim telah melemahkan kemampuan militer Iran, serangan rudal dan drone masih terjadi. Beberapa negara Teluk bahkan sempat menjadi target, meski sebagian besar berhasil dicegat.
Baca juga: AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Dua Pekan, Selat Hormuz Dibuka
Upaya Diplomasi dan Ketegangan Global
Upaya internasional untuk menjaga jalur perdagangan tetap aman juga menghadapi hambatan. Resolusi Dewan Keamanan PBB yang bertujuan melindungi jalur laut diveto oleh Rusia dan China, sehingga menambah ketidakpastian.
Para analis menilai eskalasi lanjutan bisa berdampak besar pada ekonomi kawasan Teluk, yang selama ini berupaya membangun citra sebagai pusat keuangan dan pariwisata global.
Meski memilih menahan diri, negara-negara Teluk menegaskan bahwa sikap tersebut bukan tanda kelemahan. Mereka berharap kepentingan kawasan tetap diperhitungkan dalam setiap kesepakatan yang melibatkan Iran.
Di tengah situasi ini, isu program nuklir Iran juga masih menjadi titik krusial. AS tetap menuntut penghentian pengayaan, sementara Iran hanya bersedia membahas pembatasan, menandakan konflik belum sepenuhnya mereda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com