Jumat, 20 MARET 2026 • 17:26 WIB

Dari Beirut hingga Gaza, Kisah Getir Warga Timur Tengah Rayakan Idul Fitri di Tengah Kecamuk Perang

Author

Anak-anak di reruntuhan bangunan kawasan Gaza, Palestina. (REUTERS/Mahmoud Issa)

INDOZONE.ID - Alaa, seorang pengungsi Suriah asal Dataran Tinggi Golan yang kini tak memiliki rumah, sedang mencari tempat untuk meletakkan kepalanya. 

Hari ini, Jumat (20/3/2026), adalah hari pertama Idul Fitri. Tapi bagi Alaa, hari raya adalah hal terakhir yang ada di pikirannya.

Sepanjang hari ia berjalan keliling Beirut, mencoba mencari tempat berlindung. 

Ia dulu tinggal di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang kini luluh lantak dihantam serangan Israel. Seperti ribuan lainnya, ia kini hanya ingin selamat.

Baca juga: Kilang Minyak Israel Kena Rudal Iran, Infrastruktur Penting Rusak

"Saya ditolak untuk tinggal di sekolah, lalu saya tidur di pinggir pantai," cerita Alaa. "Kemudian orang dari pemerintah kota menyuruh saya datang ke sini, ke tepi laut pusat kota Beirut."

Alaa belum menemukan tenda. Untuk sementara, ia tidur di ruang terbuka. 

Di sekitarnya, pusat kota Beirut yang dulu terkenal dengan restoran mewah dan bar-nya kini berubah menjadi kota tenda bagi mereka yang terusir dari rumah akibat perang.

Rasa Sakit yang Tak Tergantikan dengan Hidangan Lebaran

Di seluruh Lebanon, lebih dari satu juta orang terusir. 

Penduduk Lebanon bahkan tak tahu kapan perang ini akan berakhir, apalagi mereka belum pulih dari konflik sebelumnya yang berlangsung dari Oktober 2023 hingga November 2024.

Baca juga: Sempat Lontarkan Kritik karena Enggan Bantu AS, Donald Trump Sebut NATO Kini Lebih Baik

Di Iran, yang kini memasuki pekan ketiga diserang AS-Israel, krisis ekonomi yang sudah ada sebelum perang membuat warga kesulitan membeli kebutuhan Lebaran. 

Bazar besar Tehran yang biasanya menjadi tujuan belanja kini rusak terkena bom. Belanja di sana pun berisiko.

Gaza: Harga Melambung, Rasa Syukur Menipis

Di Gaza, keinginan untuk merayakan Idul Fitri terbentur keras oleh realitas ekonomi. 

Israel memperketat pembatasan masuknya barang ke Gaza setelah perang melawan Iran dimulai, membuat harga kebutuhan pokok melambung. Harga mainan anak-anak pun melonjak.

Khaled Deeb, 62 tahun, tinggal di rumah yang hancur sebagian di Kota Gaza. Ia memberanikan diri ke Pasar Remal untuk melihat harga buah dan sayur jelang Lebaran.

Baca juga: AS Dakwa Tiga Orang atas Konspirasi Pengiriman Teknologi AI Senilai Miliaran Dolar ke Cina

"Dari luar, suasana Lebaran terlihat hidup dan ramai," kata Khaled, menunjuk ke pasar yang padat. 

"Tapi secara finansial, semuanya sangat buruk. Semua orang telah meninggalkan rumah dan sekarang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Semua orang kehilangan segalanya selama perang."

Khaled tak mampu membeli buah dan sayur. "Hanya 'raja' yang bisa membelinya," katanya getir, "bukan orang miskin dan lelah sepertiku."

Ia merindukan masa sebelum perang, saat ia memiliki supermarket. 

Baca juga: Desak Gencatan, Pemimpin Eropa Minta Moratorium Serangan Fasilitas Energi di Timur Tengah

"Saat Lebaran, aku biasa memberi hadiah kepada putri dan saudara perempuanku lebih dari 3.000 shekel ($950) saat mengunjungi mereka, belum lagi menyiapkan rumah, membeli baju Lebaran untuk anak-anak, serta permen dan cokelat untuk menyambut hari raya," kenang Khaled. Tak satu pun dari itu terjadi tahun ini.

Harapan di Tengah Reruntuhan

Shireen Shreim, ibu tiga anak, merasakan hal yang sama. "Kegembiraan kami di Idul Fitri tidak lengkap," katanya. 

"Kami keluar dari dua tahun perang dengan kesulitan besar, hanya untuk menghadapi kehidupan di mana kebutuhan paling dasar pun tidak tersedia."

Ia tinggal di apartemen dengan dinding yang bolong. "Suami saya dan saya memasang terpal dan kayu, dan kami melanjutkan hidup. Kami jauh lebih beruntung dari yang lain," katanya. 

Baca juga: Rusia Serukan Semua Pihak untuk Hentikan Perang di Teluk, Tawarkan Mediasi

"Setiap kali saya pulang, saya merasa sedih. Seperti yang Anda lihat, orang-orang tinggal di tenda nilon dan kain di jalanan, tanpa tempat berteduh yang layak. Bagaimana orang-orang ini merayakan Idul Fitri?"

Di Beirut, Karim Safieddine, seorang peneliti politik, berusaha tegar. Ia akan merayakan Idul Fitri dengan keluarga besarnya, meski situasi sulit. 

"Meskipun kami terusir oleh perang, kami percaya bahwa memperkuat ikatan keluarga dan menciptakan rasa solidaritas komunal adalah syarat utama untuk bertahan dalam perang ini," katanya.

"Tanpa solidaritas, kita tidak akan bisa membangun masyarakat, sebuah negara," ujarnya. "Saya pikir itu adalah titik awal bagi banyak orang yang mencoba untuk benar-benar menciptakan visi masa depan bagi sebuah negara yang berada di bawah bom."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU