China Gencarkan Upaya Dorong Pernikahan dan Kelahiran di Tengah Perubahan Pola Pikir Generasi Muda
INDOZONE.ID - Dalam satu tahun terakhir, kehidupan Huang Zhen Hui dan Liang Ren Jia mengalami banyak perubahan besar. Selain berhasil mendirikan sekolah musik mereka sendiri di Shanghai, pasangan ini juga resmi menikah setelah menjalin hubungan selama tujuh tahun.
Awalnya, keduanya sempat khawatir hubungan mereka tidak mendapat restu keluarga. Pasalnya, Huang berasal dari Provinsi Shandong, sementara Liang dari Zhejiang, jarak antara kampung halaman mereka mencapai sekitar 1.000 kilometer.
Namun kekhawatiran itu tak terbukti. Kedua keluarga justru memberikan dukungan penuh, hingga mereka akhirnya melangsungkan pernikahan pada November tahun lalu di Shanghai.
Bagi Huang, pernikahan memberikan makna lebih dalam kehidupan. Ia melihat banyak anak muda saat ini menjalani hubungan secara santai tanpa komitmen jangka panjang.
“Banyak yang berpacaran tanpa arah. Jika tidak cocok, langsung berpisah. Padahal, pada dasarnya setiap orang membutuhkan rasa memiliki, dan pernikahan bisa menjadi tempat untuk menemukan hal itu,” ujarnya.
Liang menambahkan bahwa mereka juga menghadapi tekanan finansial seperti kebanyakan pasangan muda di China. Namun, mereka memilih untuk menghadapinya bersama.
“Masalah keuangan terasa jauh lebih berat jika ditanggung sendiri. Tapi jika berdua, kita bisa saling menguatkan dan mencari solusi bersama,” kata Liang.
Baca juga: Polisi Australia Temukan Dua Jenazah dalam Pencarian Turis China yang Hilang
Angka Pernikahan Mulai Bangkit
Pasangan ini menjadi bagian dari sekitar 6,76 juta pernikahan yang tercatat di China sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencatat rekor terendah.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk perubahan kebijakan pemerintah dan pertimbangan budaya.
Pada Mei 2025, pemerintah China menghapus aturan lama yang mengharuskan pasangan mendaftarkan pernikahan di kampung halaman masing-masing. Kini, pasangan dapat menikah di mana saja di dalam negeri.
Selain itu, tahun 2024 dalam kalender tradisional China dianggap kurang baik untuk menikah, sehingga banyak pasangan memilih menunda hingga 2025 yang dinilai lebih membawa keberuntungan.
Baca juga: Warganya Tewas di Teheran, China Serukan Gencatan Senjata di Timur Tengah
Pemerintah Perkuat Kebijakan Pro-Kelahiran
Dalam pertemuan politik tahunan terbesar China yang dikenal sebagai Two Sessions, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menciptakan “masyarakat ramah kelahiran” dalam lima tahun ke depan.
Berbagai langkah disiapkan, mulai dari peningkatan layanan kesehatan ibu, dukungan perumahan bagi pasangan menikah, hingga upaya membangun pandangan positif terhadap pernikahan dan memiliki anak.
Kebijakan ini melanjutkan serangkaian langkah sebelumnya. Setelah menghapus kebijakan satu anak pada 2016, pemerintah memperbolehkan dua anak, lalu tiga anak sejak 2021.
Bahkan, saat ini pemerintah juga memberikan insentif finansial berupa bantuan sebesar 3.600 yuan (sekitar US$520) untuk setiap anak di bawah usia tiga tahun. Beberapa daerah juga menawarkan tambahan manfaat seperti cuti melahirkan yang lebih panjang.
Tantangan Besar: Ekonomi dan Perubahan Gaya Hidup
Meski berbagai insentif telah digelontorkan, para ahli menilai tantangan mendasar masih belum teratasi.
Menurut Mu Zheng dari National University of Singapore, perubahan cara pandang generasi muda menjadi faktor utama yang memengaruhi tren ini.
“Dulu, pernikahan dan memiliki anak adalah pusat kehidupan masyarakat China. Sekarang, hal itu tidak lagi menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa generasi muda kini memiliki lebih banyak tolok ukur untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan, seperti karier, kebebasan pribadi, dan gaya hidup.
Krisis Demografi Kian Mengkhawatirkan
Perubahan pola pikir ini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama karena pernikahan dan kelahiran di China masih sangat berkaitan erat.
Saat ini, China menghadapi tekanan demografi yang semakin berat. Tingkat kelahiran terus menurun, sementara jumlah penduduk lanjut usia meningkat pesat.
Pada tahun lalu, angka kelahiran tercatat hanya 5,63 per 1.000 penduduk, salah satu yang terendah sepanjang sejarah. Jumlah populasi juga menyusut sekitar 3,39 juta jiwa menjadi 1,4 miliar, menandai penurunan selama empat tahun berturut-turut.
Di sisi lain, semakin banyak lansia yang hidup tanpa dukungan keluarga, sehingga ketergantungan pada sistem pensiun negara meningkat.
Kondisi ini turut menambah tekanan pada perekonomian China yang saat ini tengah menghadapi perlambatan pertumbuhan dan lemahnya konsumsi domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: South China Morning Post