INDOZONE.ID - Tekanan internasional ke Iran makin menjadi-jadi.
Setelah AS, kini Kanada terang-terangan menyatakan ingin ada pergantian pemerintahan di Teheran.
Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, blak-blakan: "Kami tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Iran kecuali ada perubahan rezim. Titik."
Pernyataan tegas ini disampaikan di sela Konferensi Keamanan Munich, Jerman, Sabtu (14/2/2026).
Anand juga ngumumin sanksi baru buat tujuh individu yang terkait sama pemerintah Iran.
Katanya, fokus Kanada di kawasan ini adalah soal penindasan hak asasi manusia.
Baca juga: Kecanduan Seks gegara Obat, Pria Inggris Ini Gelapkan Rp12 M dan Hancurkan Keluarga
Basically, mereka ikut gerbong negara-negara Barat yang makin keras sama Teheran.
Diplomasi Putus Sejak 2012
Kanada emang udah punya hubungan super dingin sama Iran. Mereka putus hubungan diplomatik sejak 2012.
Jadi pernyataan ini sebenarnya on brand banget.
Tapi yang bikin beda adalah timing-nya: di saat yang sama, AS lagi siapin operasi militer berbulan-bulan dan Trump sendiri udah ngomong soal regime change sebagai "the best thing that could happen."
Yang menarik, Anand nggak mau jawab ketika ditanya apakah Kanada bakal dukung serangan militer AS.
Baca juga: AS Diklaim Sudah Siapkan 'Pesawat Siluman' B-2 untuk Serang Fasilitas Nuklir Milik Iran
Wait and see mungkin. Tapi dengan tambahan sanksi dan retorika yang keras, sinyalnya udah jelas: Kanada ada di pihak yang sama.
Eskalasi di Semua Lini
Diplomasi lagi jalan, tapi militer juga disiapin. Kapal induk kedua AS udah dalam perjalanan ke Timur Tengah.
Iran sendiri udah peringatin bakal balas kalau diserang.
Sementara Kanada, tanpa ikut campur langsung secara militer, nambahin tekanan lewat jalur ekonomi dan diplomatik. Basically, Iran sekarang dikepung dari berbagai sisi.
Baca juga: Perkuat Diplomasi Antariksa di Afrika, China Serahkan Stasiun Bumi Satelit ke Namibia
Pertanyaannya sekarang: apakah tekanan gabungan ini bakal bikin Teheran luluh, atau justru bikin situasi makin meledak?
Yang jelas, peta Timur Tengah lagi diombang-ambingkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters