Perusahaan Cina Akan Produksi Lithium dari Tambang Sengketa dengan Cadangan Terbesar di Kongo
INDOZONE.ID - Zijin Mining, perusahaan tambang raksasa asal Cina, akan memulai produksi lithium perdana di Republik Demokratik Kongo pada Juni 2026 dari deposit Manono yang tengah menjadi sengketa internasional.
Langkah ini sekaligus menandai tonggak sejarah sebagai produksi lithium pertama di Kongo dan memperkuat dominasi Beijing dalam penguasaan mineral kritis di Afrika.
Perusahaan patungan Manono Lithium—yang sahamnya 61% dikuasai Zijin, sisanya oleh perusahaan tambang negara Cominiere dan pemerintah Kongo—akan langsung mengekspor seluruh hasil produksi tahap pertama.
Baca juga: AS Ingin Wajah Baru NATO: Jadi Kemitraan Setara, Tanpa Ketergantungan pada Amerika
Sengketa Hukum yang Membayangi
Deposit Manono, yang merupakan salah satu cadangan lithium hard-rock terbesar yang belum dikembangkan di dunia, menjadi pusat arbitrase internasional setelah pemerintah Kongo mencabut izin perusahaan Australia, AVZ Minerals.
AVZ sebelumnya memegang hak eksplorasi di wilayah tersebut, namun kemudian dialihkan ke Manono Lithium.
Sumber yang dekat dengan AVZ menyebutkan bahwa aktivitas peledakan telah berlangsung di dekat area tempat AVZ masih mempertahankan stafnya, menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan dan prosedur.
AVZ sendiri menolak berkomentar, sementara Zijin dan Cominiere menegaskan bahwa proses arbitrase tidak memengaruhi jadwal operasi yang tetap berjalan sesuai hukum yang berlaku.
Strategi Pragmatis Cina di Tengah Tekanan Harga
Alpha Monga Mwidia, Direktur Utama Cominiere, dalam konferensi Mining Indaba di Cape Town mengonfirmasi bahwa seluruh pendanaan proyek senilai sekitar 1 miliar dolar AS ditanggung Zijin, sementara Cominiere akan menerima pendapatan sesuai porsinya.
"Sistem Barat berbeda dengan sistem Timur. Cina lebih pragmatis," ujar Mwidia menanggapi perbedaan pendekatan dengan mitra Barat.
Produksi perdana ini diluncurkan di tengah tekanan harga lithium global yang telah ambruk 86% dari puncaknya pada akhir 2022, akibat akumulasi stok dan peningkatan produksi domestik Cina.
Zijin tidak bersedia mengungkapkan volume produksi atau target ekspor tahun pertama.
Baca juga: Guru Tewas Ditembak Siswa di Thailand, Pelaku Remaja Baru Keluar dari RSJ
Kontras dengan Pendekatan Amerika
Di sisi lain deposit Manono, KoBold Metals yang didukung pendanaan Amerika Serikat justru menunda konstruksi hingga masalah kepemilikan terselesaikan.
Langkah ini mencerminkan pendekatan hati-hati ala Barat, kontras dengan keputusan Zijin yang tetap melaju meski masih dalam sengketa.
Pemerintah AS sendiri disebut tengah berupaya mengalihkan pasokan mineral Kongo ke pasar Barat melalui kontrak jangka pendek, sebagai upaya menantang dominasi Cina yang telah lama mengakar di Afrika.
Baca juga: Israel Resmi Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump, Sidang Perdana Bahas Rekonstruksi Gaza
Cominiere saat ini memasok listrik 44 megawatt ke proyek melalui unit usahanya Katamba Mining, dan berencana meningkatkan kapasitas hingga 120 MW untuk sektor pertambangan dan komunitas sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters