INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza, sebuah badan baru yang menjadi bagian penting dari rencana perdamaian Gaza terbaru yang didukung Washington.
Inisiatif ini disebut sebagai elemen utama fase kedua upaya penghentian konflik di wilayah Palestina tersebut.
Melalui platform Truth Social pada Kamis (15/1/2026), Trump menyampaikan bahwa dewan tersebut telah resmi dibentuk dan susunan anggotanya akan diumumkan dalam waktu dekat.
Ia menegaskan bahwa dewan ini akan berperan strategis dalam mengawasi transisi pemerintahan dan stabilitas keamanan Gaza pascaperang.
Baca juga: Trump Klaim AS akan Kuasai Greenland dengan Cara Apapun, Picu Ketegangan Global
Dewan Perdamaian Gaza dan Arah Kebijakan AS
Pembentukan Dewan Perdamaian ini mencerminkan kebijakan Donald Trump soal Gaza yang menitikberatkan pada kendali internasional dan pengawasan langsung Amerika Serikat.
Trump diperkirakan akan memimpin dewan tersebut, yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan sipil serta agenda keamanan di Gaza.
Langkah ini diumumkan tidak lama setelah dibentuknya komite teknokrat Palestina beranggotakan 15 orang.
Komite tersebut akan menangani administrasi harian Gaza, namun tetap berada di bawah supervisi Dewan Perdamaian.
Baca juga: Donald Trump Batalkan Serangan Militer ke Venezuela, Ketegangan Kedua Negara Mulai Mereda
Gencatan Senjata Masuk Fase Kedua
Rencana yang didukung AS ini sebelumnya mulai berlaku pada 10 Oktober dan memungkinkan pemulangan seluruh sandera serta penghentian pertempuran.
Kini, proses tersebut telah memasuki gencatan senjata Gaza fase kedua, meski masih dibayangi sejumlah persoalan krusial.
Otoritas kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan ratusan korban jiwa sejak gencatan senjata diberlakukan. Situasi ini memicu keraguan atas efektivitas implementasi fase lanjutan dari kesepakatan tersebut.
Hamas Soroti Peran Mediator Internasional
Dari pihak Palestina, Hamas menyatakan bahwa kelanjutan rencana ini kini sangat bergantung pada mediator internasional.
Seorang pemimpin senior Hamas menilai bola kini berada di tangan mediator, Amerika Serikat sebagai penjamin, serta komunitas global untuk benar-benar memberdayakan komite pemerintahan Gaza.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan peran Amerika Serikat dalam konflik Gaza, bukan hanya sebagai fasilitator diplomatik, tetapi juga sebagai aktor utama dalam menentukan arah stabilisasi wilayah tersebut.
Penarikan Militer Israel Masih Jadi Isu Utama
Bagi warga Palestina, persoalan paling mendasar tetap pada penarikan penuh militer Israel dari Jalur Gaza.
Meski langkah tersebut tercantum dalam kerangka rencana perdamaian, hingga kini belum ada jadwal rinci yang diumumkan.
Di sisi lain, Hamas belum secara terbuka menyatakan kesediaan untuk melakukan pelucutan senjata total, sebuah syarat yang selama ini dianggap tidak bisa ditawar oleh Israel.
Dengan terbentuknya Dewan Perdamaian Gaza, Amerika Serikat mengirim sinyal kuat tentang keseriusannya mendorong stabilitas kawasan.
Namun, di tengah dinamika politik dan keamanan yang kompleks, efektivitas dewan ini akan sangat bergantung pada konsistensi semua pihak dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters