Minggu, 30 NOVEMBER 2025 • 10:00 WIB

Trump Akan Hentikan Migrasi dari Negara 'Dunia Ketiga' usai Prajurit Garda Nasional Tewas

Author

Presiden AS Donald Trump. (Vincent Thian/Pool via REUTERS)

INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah menyatakan akan menghentikan migrasi dari negara dunia ketiga ke negaranya.

Keputusan ini ia umumkan menyusul kabar duka tewasnya seorang prajurit Garda Nasional, akibat ditembak seorang imigran asal Afganistan di Washington DC.

Pernyataan tersebut menandai langkah baru dalam kebijakan imigrasi Trump yang semakin memperjelas sikap kerasnya terhadap imigrasi selama masa pemerintahannya.

Trump mengungkapkan bahwa korban, Sarah Beckstrom (20 tahun), merupakan anggota Garda Nasional West Virginia yang sedang bertugas dalam operasi pemberantasan kejahatan di ibu kota. Ia meninggal setelah mengalami luka tembak serius.

Pelaku, Rahmanullah Lakanwal (29), disebut sebagai mantan anggota unit kontra-teror CIA di Afganistan. FBI kini melakukan penyelidikan dugaan aksi terorisme terkait kasus tersebut.

Baca juga: Pasca Insiden Penembakan Garda Nasional, Pemerintahan Trump Perketat Tinjauan Imigrasi

Trump menilai peristiwa itu sebagai bukti perlunya pengetatan imigrasi. Ia mengatakan jika pasukan Garda Nasional tidak diterjunkan ke kota-kota besar, insiden seperti ini bisa saja makin sering terjadi. 

“Mungkin pelaku marah karena tidak bisa lagi melakukan kejahatan,” katanya.

Kebijakan terbaru ini akan berdampak pada pengetatan migrasi dari negara dunia ketiga oleh Trump, terutama negara-negara yang dianggap berisiko keamanan. 

Pemerintah akan melakukan evaluasi total terhadap izin tinggal permanen (Green Card) yang telah diterbitkan bagi warga dari 19 negara, termasuk Afganistan, Kuba, Haiti, Iran, dan Myanmar.

Ada lebih dari 1,6 juta pemegang Green Card dari wilayah yang masuk kategori tersebut. Afganistan sendiri memiliki lebih dari 116.000 penduduk yang tinggal secara permanen di AS. 

Setelah peristiwa penembakan ini, proses aplikasi imigrasi dari Afganistan bahkan dihentikan secara total.

Baca juga: Trump Sebut Saudi Arabia Akan Dapat Jet Tempur F-35, Setara dengan Israel

Jaksa federal menyebut pelaku sempat menempuh perjalanan jauh dari negara bagian Washington ke ibu kota, sebelum melakukan serangan “brazen and targeted” dengan senjata revolver .357. Motifnya masih belum diketahui.

Di sisi lain, para pejabat keamanan menilai masuknya pelaku ke AS dipengaruhi kebijakan suaka di era Biden, setelah penarikan pasukan dari Afganistan. 

Namun kelompok AfghanEvac menyebut para pengungsi Afganistan telah melalui pemeriksaan paling ketat.

Insiden ini memicu reaksi Trump terhadap penembakan Garda Nasional dan imigrasi, yang menurutnya berkaitan erat dengan keamanan domestik. 

Menteri Pertahanan Pete Hegseth memastikan ada penambahan 500 personel Garda Nasional di Washington untuk memperkuat pertahanan kota.

Namun kebijakan pengerahan pasukan di kota-kota yang dipimpin Partai Demokrat memancing kritik keras. 

Sejumlah pihak menilai pemerintahan Trump menggunakan isu keamanan untuk memperluas kekuasaan eksekutif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU