INDOZONE.ID - Tragedi kebakaran yang merenggut puluhan korban jiwa di kawasan perumahan Hong Kong mendorong pemerintah melakukan evaluasi penggunaan bambu dalam konstruksi di Hong Kong.
Selama ini, scaffolding atau perancah bambu menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembangunan di kota tersebut.
Namun, setelah insiden ini, muncul pertanyaan besar mengenai keamanan konstruksi perancah bambu di Hong Kong dan apakah tradisi itu masih layak dipertahankan di tengah perkembangan teknologi keselamatan modern.
Baca juga: Kebakaran Apartemen di Hong Kong Renggut 44 Nyawa, Ratusan Masih Hilang
Peristiwa tersebut terjadi di komplek apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, pada Rabu (26/11) sore.
Delapan blok gedung yang sedang menjalani renovasi dipenuhi perancah bambu dan jaring pelindung berwarna hijau yang kemudian diduga ikut mempercepat penyebaran api.
Pemerintah Hong Kong menyatakan bahwa potongan bambu yang terbakar dan terjatuh ikut memicu kobaran api meluas.
Baca juga: Kebakaran Terburuk di Hong Kong dalam Hampir 80 Tahun, Korban Meninggal Meningkat Jadi 128 Orang
Karena itu, evaluasi penggunaan bambu konstruksi Hong Kong pasca kebakaran ini dianggap sangat mendesak dan perlu dilakukan secara menyeluruh.
Penggunaan bambu dalam konstruksi di Hong Kong sudah dilakukan selama ratusan tahun dan menjadi salah satu keahlian khas yang diakui dunia.
Bambu mudah didapat di wilayah Tiongkok selatan, ringan, kuat, dan bisa dipasang di ruang sempit perkotaan.
Sekitar 80 persen proyek perancah di Hong Kong masih mengandalkan bambu, dengan sekitar 3.000 pekerja ahli yang menggantungkan hidup dari profesi ini.
Tradisi ini bahkan dianggap sebagai kebanggaan budaya Hong Kong.
Namun, para pejabat kini menyoroti sisi lain dari material alami tersebut.
“Ketahanan bambu terhadap api jelas lebih rendah dibanding logam,” tegas Eric Chan, pejabat tinggi pemerintah Hong Kong.
Para ahli keselamatan menilai bahwa penyebab kebakaran ini bersifat multifaktor. Investigasi awal menyebut sumber api berasal dari jaring pelindung di lantai bawah.
Material tambahan seperti panel busa di sekitar jendela juga sangat mudah terbakar sehingga api cepat menjalar ke dalam gedung.
Selain itu, panas yang sangat tinggi membuat perancah bambu turut terbakar. Saat batang-batang bambu rontok ke bawah, api merambat semakin luas dan tidak terkendali selama lebih dari 40 jam.
Seorang profesor di Hong Kong Polytechnic University menyayangkan renovasi delapan blok gedung yang dilakukan bersamaan, karena memperbesar risiko penyebaran api ke seluruh area.
Di media sosial, muncul pembelaan terhadap para pekerja perancah bambu. Banyak warga menilai pemberitaan yang terlalu fokus menyalahkan bambu mengesampingkan faktor-faktor lain yang jauh lebih kritis.
Serikat pekerja mengungkap bahwa bambu memiliki ketahanan yang cukup baik jika dikelola dengan standar keselamatan yang benar.
Mereka justru mendesak perbaikan aturan pada material lain yang lebih mudah memicu kebakaran, seperti jaring pelindung dan papan busa yang terbukti sangat mudah terbakar.
Kini, Hong Kong berada di antara melestarikan tradisi dan memperkuat perlindungan keselamatan publik.
Pemerintah menegaskan bahwa transisi ke scaffolding logam akan segera dipercepat, tetapi banyak pihak berharap bahwa keputusan tersebut tetap mempertimbangkan aspek budaya dan keberlangsungan lapangan kerja.
Di sisi lain, masyarakat dan keluarga korban menuntut langkah nyata agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: China Daily