INDOZONE.ID - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa tidak akan ada negara Palestina di masa depan.
Pernyataan kontroversial itu diucapkan Netanyahu kala menghadiri upacara penandatanganan proyek pemukiman besar di Maale Adumim, di Tepi Barat yang diduduki, pada Kamis 11 September 2025, waktu setempat.
"Kami akan memenuhi janji kami bahwa tidak akan ada negara Palestina. Tempat ini milik kami," kata Netanyahu, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (12/9/2025).
“Kami akan menggandakan populasi kota," sambungnya.
Penandatangan perluasan pemukiman besar di Tepi Barat, jelas merupakan pukulan besar bagi Palestina. Sebab, rencana tersebut membuat hadirnya negara Palestina di masa depan, sulit terwujud.
Pemukiman tersebut terletak di lahan seluas 12 km, sebelah timur Yerusalem yang dikenal Timur 1 atau E1.
Baca juga: Dukung Palestina, Ribuan Insan Perfilman Berikrar Tolak Kerjasama dengan Industri Film Israel
Sebanyak 3.400 rumah baru akan dibangun untuk pemukiman Israel tersebut, yang memisahkan Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki.
Pembangunan ini juga akan menghubungkan ribuan pemukiman Israel di daerah tersebut. Padahal, Yerusalem Timur merupakan pilihan bagi Palestina sebagai ibu kota negara tersebut.
Perlu diketahui, hukum internasional sejatinya menganggap pemukiman Israel di Tepi barat, yang telah diduduki sejak 1967, ilegal meski memiliki izin perencanaan.
Respons Pemimpin Palestina
Pernyataan Netanyahu pun direspons Juru Bicara Kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, pada hari yang sama.
Dengan tegas, ia menyatakan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina sebagai kunci perdamaian.
Ia turut menerangkan, bahwa negara Palestina dan solusi dua negara tetap jadi yang utama, meski ada langkah lain dari Netanyahu.
Dari kacamatanya, sesuai dengan hukum internasional, pemukiman Israel merupakan tindakan ilegal. Ia bahkan menuduh Netanyahu mendorong semua kawasan ke kehancuran.
Ia menambahkan, bahwa negara Palestina telah diakui oleh 149 negara anggota PBB. Diserukannya juga, supaya negara-negara lain mengakui kedaulatan Palestina.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera