Warga Israel Gelar Aksi 'Day of Disruption’: Tuntut Pemerintah Setujui Gencatan Senjata di Gaza
INDOZONE.ID - Ribuan warga Israel memadati jalanan kota untuk melakukan aksi protes bertajuk ‘Day of Disruption’ pada Selasa (26/08/2025).
Aksi ini dilakukan untuk menuntut pembebasan sandera yang ditahan di Gaza. Demonstran juga mendesak pemerintah Benjamin Netanyahu agar segera menyetujui gencatan senjata untuk menghentikan perang di Gaza.
Diorganisir dan oleh keluarga sandera yang menuduh pemerintahan Benjamin Netanyahu telah mengabaikan nasib para sandera, para demonstran berkumpul di depan markas Kementerian Pertahanan di Tel Aviv.
Mereka berbondong-bondong melakukan march membawa foto para sandera dalam serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.
Baca juga: Mahkamah Agung India Selidiki Kebun Binatang Raksasa Milik Anant Ambani
Aksi serupa juga berlangsung di kota-kota lain. Di Yerusalem, ratusan orang berkumpul di luar kantor perdana menteri saat kabinet keamanan menggelar pertemuan untuk berdiskusi terkait perang.
Aksi juga terjadi di jalan raya utama menuju kota Haifa di utara dan di dalam Bandara Ben Gurion.
Aksi juga diwarnai dengan kutukan terhadap tragedi kelaparan di Gaza. Pengunjuk rasa menuntut diakhirinya penyerangan warga Palestina.
Kepala militer Israel melaporkan bahwa sebuah kesepakatan sudah untuk membebaskan para sandera sudah di atas meja. Ia juga menambahkan, tindakan ofensif untuk merebut kota Gaza akan menimbulkan “bahaya besar” bagi nyawa mereka, mengutip dari Channel 13 Israel.
Baca juga: Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 5 Jurnalis, Diduga Salah Sasaran
“Selama 690 hari, pemerintah sudah melancarkan perang tanpa tujuan yang jelas,” ujar Einav Zanguaker, ibu dari Matan (25) yang menjadi sandera di Gaza.
“Kita bisa menyelamatkan sandera dan prajurit, tapi Perdana Menteri memilih, lagi dan lagi, untuk mengorbankan warga sipil demi kepentingan kekuasaannya,” tambahnya kepada kantor berita Reuters.
Ruby Chen, ayah dari Itay Chen (21), seorang tentara AS-Israel yang jenazahnya masih ditahan di Gaza, mendesak para pejabat untuk melanjutkan perundingan.
“Kembalilah ke meja negosiasi. Ada sebuah kesepakatan bagus yang sudah tersedia. Kita bisa menyelesaikan perjanjian untuk membawa pulang semua sandera,” ujarnya.
Aksi terjadi bersamaan dengan diperintahnya militer Israel untuk mempercepat serangan darat di Gaza city. Hal ini menimbulkan banyak kecaman internasional.
Komunitas-komunitas kemanusiaan mengingat bahwa PBB telah menyatakan terjadi kelaparan akut di Gaza.
Walaupun begitu, Perdana Menteri tetap berpegang teguh pada pemikirannya. Ia menilai kekuatan militer merupakan cara terbaik melindungi keamanan Israel dan memberi tekanan pada Hamas untuk segera melepaskan para sandera.
“Kami hanya ingin menghentikan perang, membawa pulang sandera, dan menghentikan kelaparan di Gaza,” ucap salah satu demonstran, Carmen (58). “Saya rasa kita harus lebih keras menyuarakan ini, tapi saya ragu mereka mendengarkan kita,” tambahnya.
Baca juga: Donald Trump Bakal Terapkan Hukuman Mati untuk Kasus Pembunuhan di Washington DC
“Sekarang semua ada ditangan Netanyahu,” ucap Kepala Staf Letnan Jenderal Eyal Zamir pada kantor berita lokal Israel, Channel 13, saat kunjungannya ke pangkalan angkatan laut Haifa pada Minggu (24/08/2025).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian, Al Jazeera