Senin, 25 AGUSTUS 2025 • 10:06 WIB

Wapres AS Vance Sebut Rusia Tunjukkan Perubahan Sikap dalam Upaya Damai dengan Ukraina

Author

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance. (REUTERS/Al Drago)

INDOZONE.ID - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan bahwa perubahan sikap Rusia menjadi tanda adanya peluang baru untuk mencapai kesepakatan damai terkait perang dengan Ukraina. 

Walau konflik masih berlangsung tanpa tanda segera berakhir, ia optimistis ada perkembangan positif menuju solusi diplomatik.

Dalam wawancaranya di program Meet the Press with Kristen Welker pada Minggu (24/8), komentar Wapres AS Vance tentang perang Ukraina cukup menyorot perhatian. Ia menegaskan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mulai melunak. 

Baca juga: Rusia dan Ukraina Lakukan Pertukaran Tawanan Baru Setelah Dimediasi oleh UEA

Salah satu sinyal yang dianggap kemajuan adalah kesediaan Moskow memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina agar tidak lagi menghadapi agresi di masa depan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun konflik, Rusia menunjukkan perubahan sikap kepada Presiden Trump,” ujar Vance.
 
Mereka sudah menyadari tidak akan bisa memasang rezim boneka di Kyiv, dan yang lebih penting, mereka mengakui perlunya jaminan keamanan bagi integritas wilayah Ukraina.

Sejak invasi pada Februari 2022, perang Rusia-Ukraina telah menewaskan puluhan ribu orang. Namun, Putin tetap menuntut syarat berat sebagai imbalan penghentian serangan. 

Menurut sumber Reuters, Moskow meminta Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, tidak bergabung dengan NATO, bersikap netral, serta melarang kehadiran pasukan Barat di dalam negeri.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, bahkan menyebut bahwa jaminan keamanan Ukraina sebaiknya dijamin oleh sejumlah negara besar, termasuk anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Sementara itu, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia jika dalam dua minggu tidak ada kemajuan nyata menuju perdamaian. Pernyataan ini disampaikan hanya sepekan setelah pertemuannya dengan Putin di Alaska.

Meski begitu, pernyataan Vance pada perdamaian Ukraina-Rusia menekankan bahwa sanksi baru kemungkinan tidak cukup untuk membuat Moskow segera menyetujui gencatan senjata. 

Ia mencontohkan langkah Trump yang menaikkan tarif hingga 25 persen terhadap produk India sebagai hukuman karena New Delhi membeli minyak Rusia. 

Menurutnya, strategi ini adalah bentuk tekanan ekonomi yang bisa digunakan untuk memaksa Rusia menghentikan serangan.

Pesannya jelas: Rusia bisa kembali diterima dalam perekonomian global jika menghentikan pertumpahan darah. Tetapi jika terus menyerang, mereka akan tetap terisolasi,” tegas Vance.

Baca juga: KTT Trump-Putin Berakhir Tanpa Kesepakatan untuk Mengakhiri Perang di Ukraina

Dengan ini, peran AS dalam negosiasi damai Ukraina-Rusia terlihat semakin sentral. Melalui diplomasi dan ancaman sanksi ekonomi, Washington berupaya mendorong Moskow untuk membuka ruang dialog dan menghentikan eskalasi konflik. 

Vance sendiri menyampaikan optimisme bahwa meski jalannya tidak mudah, ada peluang nyata menuju gencatan senjata.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Washington Post

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU