Selasa, 12 AGUSTUS 2025 • 08:10 WIB

Rencana Israel Kendalikan Gaza City Dikecam PBB, Dinilai Berisiko Picu Bencana Baru

Author

Riyad H Mansour, Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB, berbicara dalam pertemuan di markas PBB, New York, 10 Agustus 2025, usai Israel menyetujui rencana mengambil alih Gaza City. (REUTERS/Eduardo Munoz)

INDOZONE.ID - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, rencana Israel di Gaza City untuk mengambil alih kendali penuh berpotensi memicu 'bencana baru' dengan dampak luas di kawasan tersebut. 

Peringatan ini disampaikan dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB pada Minggu (10/8/2025) waktu setempat, setelah kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui langkah tersebut.

Pertemuan akhir pekan yang jarang digelar ini, akhirnya dilakukan menyusul pengumuman pengendalian Israel atas Gaza yang akan dilakukan melalui operasi militer besar di Gaza City.

Keputusan tersebut memantik gelombang kritik dari berbagai negara.

Baca juga: Serangan Udara Israel ke Rumah Sakit Al-Shifa Tewaskan 5 Jurnalis Al Jazeera, Termasuk Anas al-Sharif

Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Miroslav Jenca, menegaskan, jika rencana tersebut dijalankan, Gaza akan menghadapi penderitaan lebih besar, termasuk pengungsian massal, korban jiwa tambahan, dan kerusakan infrastruktur yang parah.

Ini akan menjadi bencana baru yang berdampak ke seluruh kawasan,” ujarnya di hadapan Dewan Keamanan.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) juga mengungkapkan situasi memprihatinkan di Gaza. Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, sebanyak 98 anak meninggal akibat gizi buruk akut, 37 di antaranya terjadi sejak Juli 2025.

Baca juga: Kabinet Israel Setujui Pengambilalihan Gaza, Warga Sipil Terancam Diungsikan Paksa di Tengah Kelaparan

Kita tidak lagi berbicara soal krisis kelaparan yang mengancam. Ini adalah kelaparan murni,” tegas Direktur Koordinasi OCHA, Ramesh Rajasingham.

Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menyebut rencana Israel di Gaza City sebagai tindakan ilegal dan tidak bermoral.

Ia juga mendesak, agar jurnalis asing diberi akses untuk meliput langsung di Gaza.

Sebelumnya, Netanyahu pada Minggu (10/8/2025) mengumumkan akan mengizinkan lebih banyak wartawan asing masuk ke Gaza, namun tetap dengan pendampingan militer Israel.

Inggris, sekutu dekat Israel yang justru mendorong pertemuan darurat ini, memperingatkan, rencana tersebut hanya akan memperpanjang konflik dan memperdalam penderitaan warga Palestina.

Itu bukan jalan menuju penyelesaian, melainkan menuju pertumpahan darah lebih banyak,” kata Wakil Duta Besar Inggris untuk PBB, James Kariuki.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebutkan, rencana Israel sangat mengkhawatirkan.

Mengingat, kondisi kemanusiaan dan kesehatan di Gaza sudah berada pada titik kritis.

Namun, Netanyahu menegaskan, operasi ini memiliki jangka waktu singkat dengan tujuan mengakhiri perang, bukan untuk menduduki Gaza.

Di luar markas besar PBB, sekelompok kecil pengunjuk rasa mendesak diakhirinya konflik. Sementara aparat kepolisian berjaga ketat.

Amerika Serikat, anggota tetap Dewan Keamanan yang memiliki hak veto, justru menuduh negara-negara yang mendukung pertemuan ini sebagai pihak yang memperpanjang perang dengan menyebarkan kebohongan tentang Israel.

Israel berhak memutuskan langkah apa yang diperlukan demi keamanannya dan menghentikan ancaman Hamas,” ujar utusan AS untuk PBB, Dorothy Shea.

Wakil Duta Besar Israel untuk PBB, Jonathan Miller, menambahkan, tekanan seharusnya diarahkan kepada Hamas, bukan Israel.

Sementara itu, Duta Besar Aljazair, Amar Bendjama, menyerukan agar dunia menjatuhkan sanksi terhadap Israel.

Sudah saatnya memberi sanksi pada musuh kemanusiaan ini. Jika ini negara lain, sanksi sudah lama dijatuhkan,” katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Washington Post

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU